MEMBANGUN PENDIDIKAN TINGGI JARAK JAUH

DAN PEMERATAAN MUTU PENDIDIKAN :

PENGALAMAN PRAKTEK UNIVERSITAS TERBUKA

(Kuliah Perdana dengan  Prof. Dr. Atwi Suparman)

Mengapa pendidikan jarak jauh

  • Meningkatkan akses, pemeratan kesempatan dan partisipasi dalam pendidikan
  • Dapat diterapkan dalam berbagai jenjang, jalur dan jenis pendidikan; pendidikan formal dan nonformal; akademik dan profesional
  • Pendidikan sebagai hak dasar setiap warga negara
  • Pendidikan untuk semua dan pendidikan sepanjang hayat
  • Membantu mewujudkan masyarakat Indonesia modern berbasis pengetahuan

Read more >>>

Konteks pendidikan jarak jauh

  • Upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, dan memenuhi kebutuhan pendidikan nasional
  • Negara kepulauan dengan keterbatasan prasarana dan sarana komunikasi dan transportasi
  • Membangun SDM berkualitas dan kompetitif  bagi 220 juta warga Negara Kesatuan Republik Indonesia
  • Kondisi geografi, demografi, sosial ekonomi, ketersediaan teknologi dan budaya masyarakat
  • Mendukung pergaulan global dalam bidang sosial, ekonomi, dan politik

Karakteristik pendidikan jarak jauh

  • Jauhnya jarak antara peserta didik dengan pengajar dan pengelola pendidikan
  • Mengandalkan media cetak sekaligus non cetak
  • Peserta didik belajar secara mandiri dan dapat memanfaatkan berbagai macam bantuan belajar
  • Peserta didik belajar dimana saja, kapan saja, dan dapat memilih program pendidikan menurut kebutuhannya
  • PJJ menawarkan program pendidikan dengan standar kualitas sama bagi seluruh peserta didik

Perkembangan pendidikan jarak jauh

  • C-Learning (Correspondensi)
  • D-Learning (Distance)
  • E-Learning (Elekronic)
  • M-Learning (Mobile)
  • V-Learning (Virtual) (Keegan, 2002)
  • Generasi 1 : korespondensi  (cetak)
  • Generasi 2 : multi media (cetak, audio, visual)
  • Generasi 3 : teknologi komunikasi
  • Generasi 4 : model belajar fleksibel (internet)
  • Generasi 5 : model belajar fleksibel yang cerdas (multimedia interaktif, online) (Taylor, 2004)

PTJJ di Indonesia

  • 1950-an :
    • Penataran guru dengan sistem korespondensi
  • Awal 1980-an
    • Penataran dosen dengan sistem moduler tercetak (Akta V )
  • 1984 :
    • o Pendirian Universitas Terbuka (UT)
    • o Menjangkau guru di daerah terpencil
    • Mulai dengan menggunakan haluan ajar moduler tercetak dan non cetak serta siaran TV dan radio

  • 2001 :
    • Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 107 /U/2001 Tentang Penyelenggara Program Pendidikan Tinggi Jarak Jauh
    • Fleksibilitas bagi perguruan tinggi untuk menyelenggarakan program pendidikan jarak jauh sesuai dengan ketentuan pemerintah

Profil ringkas Universitas Terbuka

  • Didirikan tahun 1984 sebagai PTN ke-45 untuk  memberikan kesempatan pendidikan tinggi kepada
    • Lulusan baru SLTA
    • Orang yang sudah bekerja, dan
    • Guru yang kualifikasi formalnya rendah
  • Menggunakan bahan ajar moduler dilengkapi dengan media lain
  • Menyediakan berbagai layanan bantuna belajar: tutorial, siaran radio dan TV, konseling, dan layanan online
  • 37 Unit Program Belajar Jarak jauh (UPBJJ)

Pengolaan Universitas Terbuka

  • Universitas yang mengelola sumber daya akademik dan sumber daya lain yang ada di daerah
  • Jaringan kerjasama dengan instusi lain (PTN, PTS, PT Pos Indonesia, jaringan televisi nasional, stasiun radio lokal maupun nasional, perpustakaan daerah dan PTN, industri telekomunikasi, perusahaan percetakan, pemerintah daerah)
  • Rencana strategis, rencana operasional dan sistem jaminan kualitas

Visi Universitas Terbuka

Menjadi salah satu Institusi pendidikan tinggi jarak jauh unggulan di antara institusi pendidikan tinggi jarak jauh di Asia 2010 dan di dunia tahun 2020

Tiga program utama sampai dengan 2020

  • Pemantapan dan pengembangan penyelenggaraan PTJJ
  • Peningkatan penelitian PTJJ
  • Peningkatan penyebaran informasi PTJJ

Mengapa PJJ harus berkualitas

  • Akuntabilitas dan transparansi
  • Globalisasi dan internasional
  • Kompetisi dan kemitraan
  • Fokus pada pengguna jasa
  • Core competence intitusi

Kualitas dalam pendidikan jarak jauh

  • Terkait dengan keunggulan dan fokus pada pengguna jasa
  • Kualitas dalam bahan yang dihasilkan: relatif mudah dicerna, self-instructional, menarik bagi peserta didik, dapat dilihat/ kelihatan nyata di mata publik, terbuka terhadap kritik dan masukan peserta didik dan pihak lain yang berkepentingan
  • Empat aspek kualitas dalam PJJ (col, 1997)
  • Produk
  • Proses
  • Produksi dan sistem pembelajaran
  • Filosofi

Nilai-nilai kualitas

  • Bukan upaya menciptakan kualitas, melainkan upaya sistematikdan menyeluruh untuk meningkatkan kualitas secara berkesinambungan
  • Bukan suatu cara mencapai terget tertentu atau mengenbangkan prosedur melainkan proses perbaikan secara berkesinambungan
  • Didasarkan atas prinsip pemikiran bahwa kualitas dapat ditingkatkan secara berkesinambungan
  • Sistem prosedur yang dikembangkan menjamin bahwa staf secara terus menerus dan kritis selalu mempertanyakan kualitas produk dan proses dan berupaya memperbaikinya

Univeristas Terbuka Setelah 23 tahun

  • 21 tahun UT : 4 September 1984-2007
  • 4 Fakultas
  • 32 Program Studi: Diploma dan Sarjana
  • Pasca Sarjana: Magister Administrasi Publik dan Magister Manajemen
  • Lebih dari 450.000 mahasiswa
  • 37 UPBJJ; 1,753 LOKASI TUTORIAL, 671 LOKASI UJIAN
  • Mengakomodasi sekitar 0,5 juta mahasiswa pada tahun 2007, dan meluluskan lebih dari 600.000 mahasiswa
  • FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan)
  • FMIPA (Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam)
  • FEKON (Fakultas Ekonomi)
  • FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik)

Sumber Belajar dan Pembelajaran UT

  • Bahan ajar multi-media (cetak dan noncetak)
  • 75% bahan ajar direvisi dalam 5 tahun terakhir
  • Memanfaatkan jaringan radio dan televisi nasinaol
  • 3.000 program audio dan radio
  • 600 program video/televisi
  • 110 program berbantuan komputer
  • Sekitar 172 mata kuliah dengan tutorial online
  • Sistem bank soal terkomputerisasi untuk lebih dari 600 mata kuliah
  • Pengembangan sistem ujian online, registrasi online, pembayaran online

Jaringan Eksternal Univeristas Terbuka

  • PTN/PTS untuk pengembangan kurikulum, penulisan bahan ajar dan bahan ujian
  • Industri kargo Kantor Pos untuk distribusi bahan ajar ke UPBJJ dan mahasiswa
  • Bank nasional untuk registrasi dan pembayaran SPP
  • Televisi, radio, dan warnet untuk tutorial dan penyebaran informasi
  • Surat kabar dan produk tercetak UT untuk informasi umum

Prinsip Jaminan Kualitas (Simintas UT)

  • Perbaikan berkesinambungan
  • Adopsi dan kontesktualisasi AAOUQA Framework
  • Tulis yang anda lakukan, lakukan yang anda tuliskan, perbaiki secara berkesinambungan
  • Write what you do, do what you write, and improve continuously
  • Sistem dan prosedur yang jelas terdefinisikan
  • Audit dan penilaian secara berkesinambungan
  • Audit internal dan eksternal
  • Sistem jaminan kualitas secara menyeluruh (total quality management) yang mengahasilkan peningkatan kualitas produk, proses, produksi dan sistem pembelajaran dan pencapaian visi dan misi institusi

Langkah Implementasi Simintas

  • Pengembangan kerangka kebijakan dan pedoman Simintas
  • Penilaian diri dan penentuan prioritas
  • Integrasi hasil penilaian diri dan tindakan tahunan
  • Penulisan pedoman kerja
  • Implementasi Simintas
  • Audit dan penilaian internal
  • Mengaitkan Simintas dengan penilaian kinerja staf

Pekembangan Implementasi Simintas Universitas Terbuka

  • Rencana Strategis 2005-2020 dan Rencana Operasional UT 2005-2010, fokus:
    • Peningkatan kualitas akademik
    • Peningkatan partisipasi mahasiswa
    • Manajemen internal
  • Pembentukan Tim Sistem Jaminan Kualitas (Tim Simintas),2001
  • Implementasi Simintas secara menyeluruh dan pembentukan ”Pusat Jaminan Kualitas”(Pusmintas),2003
  • ”Era Gelora Simintas”. mulai awal 2004 dan seterusnya
  • Implementasi Quality Management System ISO 9001:2000, mulai 2006
  • Audit kualitas internal tiap 6 bulan
  • Audit kualitas eksternal ISO 900.0000, tiap 6 bulan
  • Audit International Council jor Open and Distance Education (ICDE) Standards Agency (ISA), 2005 dan 2010

Capaian Simintas Universitas Terbuka

  • Certificate of Quality and International Accredition dari International Council for Open and Distance Education (ICDI) Standards Agency (ISA), Juni 2005
  • Sertifikat ISO 9001:2000 Layanan Distribusi Bahan Ajar, Maret 2006
  • Sertifikat ISO untuk pengembangan akademik (bahan ajar dan bahan ujian)dan manajemen UPBJJ, 2006
  • Sertifikat ISO 9001:2000 Pengembangan Bahan Ajar dan Bahan Ujian, September 2007
  • Sertifikat ISO 9001: 2000 Layanan Belajar Jarak Jauh II UPBJJ-UT, September 2007
  • Sertifikat ISO 9001; 2000 Layanan Administrasi Akademik, Maret 2008

Rencana ke Depan untuk Simintas Universitas Terbuka

  • Sertifikasi ISO 9001: 2000 Layanan Belajar Jarak Jauh I4 UPBJJ-UT, 2008
  • Sertifikasi ISO 9001: 2000 Manajemen Kerjasama dan Humas, 2008
  • Sertifikasi OHSAS 18001: 2007 Manajemen Kesehatan dan Keselamatan Kerja, 2008
  • Sertifikat ISO 2001/ 27001: 2005 International Technology Service Management/ Information Technology Security,2008
  • Pencapaian “Wajar Tanpa Persyaratan “(WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK),2008
  • Sertifikasi ISO 9001: 2000 Layanan Belajar Jarak Jauh I2 UPBJJ-UT, 2009
  • Mempertahankan Certificate of Quality and International Accreditation dari International Council for Open and Distance Education (ICDE)Standards Agency (ISA), 2010
  • Mengukuhkan posisi UT sebagai salah satu institusi PTJJ terbaik Asia 2010 dan Dunia 2020

KEGIATAN INSTRUKSIONAL

SEBAGAI SUATU SISTEM

Pendahuluan

  • Sistem adalah hubungan interaksi antara komponen atau bagian dari suatu keseluruhan yang mempunyai tujuan, fungsi, interaksi dan efek keterpaduan atau sinergis , ada transformasi input menjadi output melalui suatu proses (sebagai suatu ciri sistem)
  • Contoh : manusia, sepeda, alam semesta, pasar, masyarakat

Syarat  Sistem

Harus ada:

  • Komponen
  • Tujuan
  • Fungsi
  • Interaksi/saling hubungan
  • Proses transformasi
  • Umpan balik
  • Daerah batasan/lingkungan
  • Efek sinergik

Komponen  dan Subsistem

  • Bagian dari sistem yang  melaksanakan fungsi   disebut  komponen
  • Komponen yang melakukan proses transformasi  disebut  sub-sistem
  • Komponen integral: bagian dari sistem yang tidak bisa dipisahkan dari sistem
  • Tanpa komonen integral, sistem tidak jalan
  • Komponen non-integral, tanpa komponen tsb. Sistem tetap jalan

Efek Sinergik  Sistem

  • Gabungan  menimbulkan jalinan keterpaduan.
  • Hasil kerjasama setiap komponen >> penjumlahan  dari masing-masing komponen
  • Azaz  gotong royong
  • Kerja sama  lebih menguntungkan dari pd masing-masing

Proses  Transformasi

  • Proses  pengubahan  masukan (input) menjadi hasil/luaran (output)
  • Proses

    transformasi

    Input                                                      output

Environtmental

Input

Sistem  dan Subsistem

Tahapan  dalam proses pemecahan masalah sistem pendidikan secara umum (Kaufmann, 1972)

  • Identifikasi prioritas kebutuhan/masalah yg berkaitan
  • Penentuan persyaratan utk memecahkan masalah/identifikasi alternatif pemecahan  yg mungkin dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan  tsb.
  • Pemikiran alternatif/penentuan strategi pemecahan berdasarkan alternatif yg dimungkinkan
  • Pelaksanaan strategi yg  dipilih, termasuk manajemen dan kontrol atas strategi tsb.
  • Penilaian keefektifan hasil berdasarkan kebutuhan dan persyaratan yg telah ditetapkan terlebih dulu
  • Penyempurnaan satu atau keseluruhan langkah/tshsp untuk menjamin  sistem pendidikan yang bersifat responsif, efektif  dan efisien

Pengembangan  sistem instruksional

  • Proses  pengembangan  sistem instruksional sesuai dengan  kriteria akuntabilitas pendidikan:
  • Adanya perumusan tujuan yang sesuai dengan kebutuhan dan keadaan;
  • Identifikasi berbagai alternatif kegiatan;
  • Dikembangkannya  kegiatan yang dipilih dengan memanfaatkan sumber yang ada;
  • Dilakukan uji coba penelitian dan penyempurnaan

PERKEMBANGAN  POLA-POLA  INSTRUKSIONAL

  1. A. Pola Instruksional Tradisional

Pembelajaran tradisional pada umumnya guru mempunyai kedudukan sebagai satu-satunya sumber belajar dalam sistem instruksional. Guru memegang kontrol dan kendali sepenuhnya dalam menetapkan isi dan metode belajar, bahkan kadang-kadang juga dalam menilai kemajuan belajar mahasiswa. Pola instruksional ini dapat disebut dengan diagram.

  1. B. Pola Instruksional dengan Sumber Belajar Berupa Orang Dibantu Sumber Lain

Kecenderungan standarisasi masukan pada dasarnya beranggapan bahwa adanya standar tersebut mempunyai nilai ekonomis, di samping juga dapat memperbaiki kontrol atas proses kegiatan. Nilai ekonomis yang diperoleh dengan adanya standar masukan, misalnya atas buku teks, satu bentuk dan desain gedung serta fasilitas sekolah, satu bentuk papan tulis dan lain-lain sumber.

Perkembangan teknologi mula-mula dengan ciri instrumentasi sebagai perpanjangan anggota badan manusia mengubah orientasi, mengubah teknik, dan juga mengubah situasi belajar. Dalam situasi inilah maka dalam pola instruksional terdapat sub komponen baru yaitu alat yang dipakai oleh guru sebagai sarana untuk membantu pelaksanaan kegiatan. Pola instruksional yang memanfaatkan sumber belajar lain disamping guru.

  1. C. Pola Instruksional dengan Sumber Belajar Berupa Orang (Guru) Bekerja Sama Dengan Sumber Belajar Lain.

Makin majunya ilmu dan cakrawala manusia mengakibatkan tiap generasi penerus harus belajar lebih banyak untuk menjadi manusia terdidik. Agar sistem pendidikan secara efektif, maka tidak memadai apabila dipakai sumber belajar yang berupa guru, buku, alat audio visual, dan lain-lain. Mulai dirasakan perlu adanya cara baru dalam mengkomunikasikan segala pengetahuan dan pesan baik

secara verbal maupun non verbal. Alat tidak lagi merupakan hasil pengetahuan manusia, tetapi juga sarana untuk mengkomunikasikan pengetahuan dan ketrampilan khusus, di samping untuk mengembangkan terus pengetahuan, ketrampilan, dan teknik baru. Di samping itu mulai disadari bahwa standarisasi pada masukan belum dapat menjamin hasil yang baik, kiranya diperlukan adanya standarisasi dalam proses dengan jalan lebih memprogram proses itu sendiri. Dalam hubungan ini sumber belajar tertentu khusus dipersiapkan untuk dapat dipakai oleh peserta didik dalam kegiatan instruksional secara langsung. Sumber ini lazim berupa media yang dipersiapkan secara khusus oleh kelompok guru- media yang berinteraksi dengan peserta didik secara tidak langsung, yaitu melalui media. Guru dan guru media ini saling berinteraksi dengan peserta didik berdasarkan satu tanggung jawab bersama. Pola instruksional yang demikian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Pola Instruksional dimana terdapat tanggung jawab bersama antara guru dan sumber lain.

  1. D. Pola Instruksional dengan Belajar Mandiri

Meningkatnya kebutuhan baik secara kuantitatif maupun secara kualitatif, semakin dirasakan terbatasnya sumber belajar yang berupa guru. Di samping meningkatnya tuntutan profesional terhadap guru, juga berkembangnya lapangan kerja baru yang memberikan jaminan hidup yang lebih baik, akan membatasi jumlah guru yang baik. Memperbanyak guru yang baik tidak mungkin dapat dilaksanakan  secara  fisik,  tetapi  masih  dimungkinkan memperbanyak karyanya berupa berbagai media instruksional.

Guru yang baik dapat ditugaskan untuk mempersiapkan bahan pembelajaran yang lengkap secara sistematis dan terprogram dalam bentuk modul atau paket untuk keperluan belajar mandiri lainnya. Apabila peserta didik sudah mempunyai disiplin yang tinggi, latar belakang pengalaman cukup luas dan pola berpikir sudah lebih matang, maka interaksi langsung antar peserta didik dengan media yang dipersiapkan oleh guru ahli, dapat berjalan tanpa intervensi guru kelas.

Dengan demikian kehadiran guru dapat sepenuhnya digantikan oleh sumber belajar yang diciptakannya. Media semacam ini disebut guru-media. Pola instruksional ini dapat digambarkan sebagai berikut:

  1. E. Pola Sistem Instruksional

Kombinasi keempat pola dasar instruksional di atas dapat dijelaskan dalam diagram

Arus balik dan evaluasi

Perkembangan pola-pola instruksional tersebut diatas dapat dirangkum sebagai berikut:

Agar dapat gambaran yang jelas pola instruksional tersebut di atas dapat dijelaskan:

  1. Dalam Pola 1, sumber belajar hanya berupa orang saja. Guru kelas pemegang kendali yang penuh atas terjadinya pembelajaran.
  2. Dalam pola 2, sumber belajar berupa orang dibantu oleh sumber lain. Meskipun demikian dalam pola ini guru kelas masih memegang kendali, hanya saja tidak mutlak, karena dibantu oleh
  3. sumber lain. Dalam pola ini sumber belajar berfungsi sebagai alat bantu.
  4. Dalam pola 3, sumber belajar berupa orang bekerjasama dengan sumber belajar lain berdasarkan suatu pembagian tanggung jawab. Dalam hal ini kontrol terhadap kegiatan pembelajaran di bagi bersama antara sumber manusia dan sumber lain. Sumber lain tersebut merupakan bagian integral dari seluruh kegiatan belajar.
  5. Dalam Pola 4, peserta didik belajar hanya dari satu sumber yang bukan manusia

LANGKAH DAN MODEL

PENGEMBANGAN SISTEM INSTRUKSIONAL

  1. A. Pengertian Pengembangan Instruksional

Pengembangan Instruksional adalah Proses yang sistematis dalam mencapai tujuan instruksional secara efektif dan efisien melalui pengidentifikasian masalah, pengembangan strategi dan bahan instruksional, serta pengevaluasian terhadap strategi dan bahan instruksional tersebut untuk menentukan apanya yang harus direvisi.

Suatu proses yang kompleks & terpadu dari manusia, prosedur, ide, alat dan organisasi untuk mengelola usaha pemecahan masalah dalam situasi belajar yang bertujuan dan terkontrol (AECT, 1971)

  1. B. Berbagai Model Pengembangan Instruksional
  2. 1. Instructional System Design (Gagne, 1979)
    1. Tingkat Sistem
  • Analisis kebutuhan, tujuan Umum dan Prioritas.
  • Analisis sumber, Hambatan, dan Alternatif Sistem Peluncuran
  • Penentuan Lingkup dan Urutan Kurikulum dan matapelajaran : Desain Sistem Peluncuran.
  1. Tingkat matapelajaran
  • Menentukan Struktur Mata Pelajaran dan Urutan
  • Analisis Tujuan Matapelajaran
  1. Tingkat Matasajian
  • Pendefinisian Tujuan penampilan
  • Mempersiapkan Rencana matasajian (atau modul)
  • Mengembangkan, Memilih bahan, Media.
  • Menilai Penampilan Siswa (pengukuran penampilan)
  1. Tingkat Sistem
  • Persiapan Pengajar – Evaluasi Formatif – Tes lapangan – Revisi – Evaluasi Sumatif – Pelaksanaan – Difusi
  1. PPSI
  1. 3. Model Dick dan Carey (1990)
  1. 4. AT & T Instructional Development Model (1985)

5. Model Pengembangan Instruksional

ANALISIS KEBUTUHAN

  1. A. Tujuan Umum

Untuk memperoleh gambaran tentang apa, mengapa dan bagaimana prosedur pengukuran kebutuhan dan kaitanya dengan sistem instruksional/pembelajaran

  1. B. Tujuan Khusus

Menjelaskan :

  1. Maksud kebutuhan dan masalah
  2. Macam-macam kebutuhan
  3. pentingnya pengukuran kebutuhan
  4. Karakteristik pengukuran kebutuhan yang terlibat dalam pengukuran kebutuhan, model-model pengukuran kebutuhan, fase-fase pengukuran kebutuhan, hubungan antara pengukuran kebutuhan dan PSI
  1. C. Perencanaan Sistem Instruksional (PSI)

Suatu usaha yang sistematis untuk menganalisis masalah, mengidentifikasi, memilih, merancang dan menilai pemecahanya. Masalah-masalah yang dimaksud adalah masalah-masalah pendidikan/pembelajaran

  1. D. Masalah

Masalah adalah

  • Kesenjangan antara kondisi yang seharusnya dan kondisi yang sebenarnya,
  • Kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
  • Kesenjangan antara dass-sollen dan dass-seins
  • Kesenjangan antara teori dan praktek
  • Kesenjangan antara pengetahuan yang ada dan kenyataan yang ada

Masalah VS Kebutuhan

  • Masalah menimbulkan kebutuhan
  • Macam-macam kebutuhan

Kebutuhan Primer : Kebutuhan hidup, insting, tidak dipelajari

Kebutuhan Sekunder, Kebutuhan yang akan dipelajari dan kebutuhan sosial

Bradshaw (Briggs, 1977)

Ada 5 macam kebutuhan :

  1. Kebutuhan Normatif
  2. Kebutuhan dirasakan/keinginan
  3. Kebutuhan diekspresikan
  4. Kebutuhan komparatif
  5. Kebutuhan masa datang

Needs Assesment/Dsicrepancy Analysis

  • Proses penentuan apa-apa yang harus diajarkan, bagaimana cara mengajarkannya, dan persyaratan apa yang diperlukan untuk kelangsungan proses pembelajaran
  • Dalam PSI, pengukuran kebutuhan bisa meliputi tingkat nasional, propinsi, kabupaten/kota, sekolah dan mata pelajaran tertentu
  1. E. Karakteristik Pengukuran Kebutuhan
  • Data yang terkumpul harus mencerminkan dunia siswa/ orang lain yang berkaitan
  • Bersifat tentatif
  • Kesenjangan diidentifikasi daris udut produk/tingkah laku aktual bukan dari proses

Pihak-Pihak yang Terlibat

  • Peserta Didik (Siswa, Mahasiswa)
  • Orang tua
  • Masyarakat
  1. F. Model Pengukuran
  2. Model Induktif
  3. Model Deduktif
  4. Model Klasik
  • Mulai dari tingkah laku siswa saat ini
  • Mengelompokkannya dalam kawasan program dari sudut tujuan umum yang
  • diharapkan masyarakat.
  • Harapan tersebut dibandingkan dengan tujuan besar yang ada dalam kurikulum
  • Tujuan yang rinci dibuat, program dikembangkan, dilaksanakan dan dievaluasi
  • Bermula dari tujuan umum atau pernyataan hasil yang ada ke tingkah laku yang diharapkan.
  • Kembangkan ukuran kriteria untuk mengukur tingkah laku tertentu
  • Dapatkan kesepakatan persyaratan perubahan dari berbagai partner pendidikan (siswa, guru, ortu, masyarakat)
  • Kumpulkan data untuk mengetahui apakah indikator kesenjangan diatas terpenuhi atau tidak
  • Rumuskan tujuan khusus secara rinci
  • Program dikembangkan dan dilaksanakan
  • Evaluasi dan revisi
  • Berorientasi pada apa-apa yang sidajikan guru pad aisswa dan tiddak pada apa yang harus dilakukan oleh siswa , sebagai usaha bersama siswa dan guru
  • Tidak berdasarkan data laporan/tidak bisa diukur
  • Dimulai dengan persyaratan umum dari tujuan
  • Dikembangkan, dilaksanakan, evaluasi, revisi

Tahap-Tahap Pengukuran (Klein)

Ada empat tahap :

  1. Identifikasi sebanyak mungkin tujuan yang ingin dicapai
  2. Susun/ urutkan tujuan berdasrkan tingkat kepentingan
  3. Identifikasi kesenjangan antara performance yang ada dan yang diharapkan.
  4. Susun prioritas untuk dilakukan kegiatan

Kriteria dalam Menentukan Prioritas

  • Waktu yang tersedia dan yang dieprlukan
  • Proporsi pokok-pokok yang menentukan
  • Besaran masalah
  • Biaya (hubungan antara biaya untuk memenuhi kebutuhan dan  biaya meninggalkan tujuan tersebut)

Langkah-Langkah dalam Pengukuran Kebutuhan

Ada sembilan tahap :

  1. Buat rencana
  2. identifikasi gejala masalah
  3. Tentukan lingkup perencanaan (nasional, propinsi, kabupaten)
  4. Identifikasi alat dan prosedur penilaian kebutuhan dan pilih yang terbaik serta libatkan partner dalam perencanaan.
  5. Tentukan/rumuskan kondisi yang ada sekarang, dalam perumusan performance yang dapat diukur (rumussan hendaknya berfokus pada diri peserta didik : fisik, mental, karakteristik perkembangannya, konteks sosial)
  6. Tentukan kondisi yang diharapkan dalam perumusan yang serupa
  7. Pertemukan perbedaan-perbedaan pendapat yang ada antar partner dalam mengidentifikasi kebutuhan sehingga diperoleh kesepakatan
  8. Urutkan kebutuhan-kebutuhan tersebut atas dasar prioritas.
  9. Evaluasi secara terus menerus kebutuhan yang telah disusun.

Kesenjangan adalah sebuah permasalahan yang harus dipecahkan karena itu kesenjangan dijadikan suatu kebutuhan dalam merancang pembelajaran, sehingga pembelajaran yang dilaksanakan merupakan solusi terbaik. Bila kesenjangan tersebut dan menimbulkan efek yang besar, maka perlu diprioritaskan dalam pengatasan masalah (Dick and Carey : 1990,15 – 27 ), mencampuradukkan antara kebutuhan dan keinginan diidentikkan adalah hal yang keliru sebab menurut M. Atwi Suparman (2001 : 63) kebutuhan adalah kesenjangan antara keadaan sekarang dengan yang seharusnya dalam redaksi yang berbeda tapi sama. Morrison (2001: 27), mengatakan bahwa kebutuhan (need) diartikan sebagai kesenjangan antara apa yang diharapkan dengan kondisi yang sebenarnya, keinginan adalah harapan ke depan atau cita-cita yang terkait dengan pemecahan terhadap suatu masalah. Sedangkan analisa kebutuhan adalah alat untuk mengidentifikasi masalah guna menentukan tindakan yang tepat. (Morrison, 2001: 27)

Oleh karena itu Kaufman (1982) mengajak kita meyakini betul apa masalah yang kita hadapi (M. Atwi Suparman: 2001-63), maka jika kita mengajar hendaknya kita mengajukan kepada diri kita suatu pertanyaan apakah pemberian pembelajaran itu dapat memecahkan masalah? Pertanyaan- pertanyaan senada antara lain:

1. Apa kebutuhan yang dihadapi.

2. Apakah kebutuhan tersebut merupakan masalah.

3. Apa penyebabnya.

4. Apakah pemberian pelajaran merupakan cara yang tepat untuk memecahkan masalah.

Morrison (2001: 27) membagi fungsi analisa kebutuhan sebagai berikut:

  1. Mengidentifikasi kebutuhan yang relevan dengan pekerjaan atau tugas sekarang yaitu masalah apa yang mempengaruhi hasil pembelajaran.

2.  Mengidentifikasi kebutuhan mendesak yang terkait dengan finansial, keamanan atau masalah lain yang menggangu pekerjaan atau lingkungan pendidikan

3.  Menyajikan prioritas-prioritas untuk memilih tindakan.

4.  Memberikan data basis untuk menganalisa efektifitas pembelajaran.

Ada enam macam kebutuhan yang biasa digunakan untuk merencanakan dan mengadakan analisa kebutuhan (Morrison, 2001: 28-30).

  1. Kebutuhan Normatif

Membandingkan peserta didik dengan standar nasional, misal, Ebtanas, UMPTN, dan sebagainya.

  1. Kebutuhan Komperatif, membandingkan peserta didik pada satu kelompok dengan kelompok lain yang selevel. Misal, hasil Ebtanas SLTP A dengan SLTP B.
  2. Kebutuhan yang dirasakan, yaitu hasrat atau kinginan yang dimiliki masing-masing peserta didik yang perlu ditingkatkan. Kebutuhan ini menunjukan kesenjangan antara tingkat ketrampilan/kenyataan yang nampak dengan yang dirasakan. Cara terbaik untuk mengidentifikasi kebutuhan ini dengan cara interview.
  3. Kebutuhan yang diekspresikan, yaitu kebutuhan yang dirasakan seseorang mampu diekspresikan dalam tindakan. Misal, siswa yang mendaftar sebuah kursus.
  4. Kebutuhan Masa Depan, Yaitu mengidentifikasi perubahan-perubahan yang akan terjadi dimasa mendatang. Misal, penerapan teknik pembelajaran yang baru, dan sebagainya.
  5. Kebutuhan Insidentil yang mendesak, yaitu faktor negatif yang muncul di luar dugaan yang sangat berpengaruh. Misal, bencana nuklir, kesalahan medis, bencana alam, dan sebagainya.
  1. G. Melakukan Analisis Kebutuhan

Ada empat tahap dalam melakukan analisa kebutuhan yakni perencanaan, pengumpulan data, analisa data dan menyiapkan laporan akhir.

Perencanaan : yang perlu dilakukan; membuat klasifikasi siswa, siapa yang akan terlibat dalam kegiatan dan cara pengumpulannya. (Morrison, 2001 : 32)

Pengumpulan data : perlu mempertimbangkan besar kecilnya sampel dalam penyebarannya (distribusi) (Morrison,2001 : 33).

Analisa data : setelah data terkumpul kemudian data dianalisis dengan pertimbangan : ekonomi, rangking, frequensi dan kebutuhan (ibid).

Membuat laporan akhir : dalam sebuah laporan analisa kebutuhan mencakup empat bagian; analisa tujuan, analisa proses, analisa hasil dengan table dan penjelasan singkat, rekomendasi yang terkait dengan data. (Morrison, 2001: 33-34).

Membicarakan tentang analisis tujuan tidak bisa dipisahkan dengan input yang terkait dengan masalah dan proses analisa kebutuhan.

ANALISIS INSTRUKSIONAL

  1. A. Analisis Instruksional

Analisis Instruksional yaitu proses menjabarkan kemampuan/perilaku/standar kompetensi umum menjadi kemampuan perilaku/ indikator yang logis dan sistematis.

Manfaat Analisis Instruksional, yaitu:

  • Mengidentifikasi semua kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa
  • Menentukan urutan pelaksanaan pembelajaran
  • Menentukan titik awal proses pembelajaran (melalui penentuan perilaku awal mahasiswa)

  1. B. Empat Macam Struktur Perilaku
    1. Hirarkhikal : susunan beberapa kompetensi dimana 1 / beberapa kompetensi menjadi prasyarat bagi kompetensi berikutnya.
  1. Prosedural : kedudukan beberapa kompetensi yang menunjukkan 1 rangkaian pelaksanaan kegiatan/pekerjaan, tetapi antar kompetensi tersebut tidak menjadi prasyarat untuk kompetensi lainnya.
  1. Pengelompokan : beberapa kemampuan yang satu dengan yang lainnya tidak memiliki ketergantungan, tetapi harus dimiliki secara lengkap untuk menunjang kemampuan berikutnya.
  1. Kombinasi : beberapa kemampuan yang susunanya terdiri dari bentuk hierarkhikal, prosedural, maupun pengelompokan.

Prosedur Analisis Instruksional

  1. Tentukan TIU dari satu matakuliah
  2. Identifikasi kemampuan-kemampuan khusus (TIK) yang menunjang pencapaian TIU.
  3. Tuliskan setiap kemampuan khusus tersebut pada satu lembar kertas kecil (satu lembar kertas kecil hanya berisi satu kemampuan). Perlu pula diingat bahwa  tidak ada TIK dengan kemampuan ganda.
  4. Letakkan/tempelkan seluruh TIK yang telah dituliskan tersebut pada kertas koran, sesuai dengan susunannya.
  5. Buatlah garis penghubung antara TIK yang satu dengan lainnya, maupun antara TIK dengan TIU.
  6. Tentukan perilaku awal mahasiswa, dengan membuat garis putus-putus sebagai garis  entry behaviour
  7. Berilah nomor untuk setiap kompetensi
  8. Lakukan  uji validitas

ANALISIS KARAKTERISTIK

SISWA DAN LINGKUNGAN

Keterampilan siswa dalam kelas acapkali sangat heterogen untuk mengatasi ini ada dua pendekatan yaitu :

  1. Siswa menyesuaikan dengan materi pelajaran.
  1. Seleksi Penerimaan siswa
  2. Tes dan pengelompokan siswa
  3. Lulus Mata Pelajaran Prasyarat
  1. Materi pelajaran disesuaikan dengan siswa. Siapa saja dapat masuk disini
  1. A. Perilaku Awal Siswa

Siapa kelompok sasaran, populasi sasaran, atau sasaran didik kegiatan instruksional itu ? istilah itu digunakan untuk menanyakan dua hal tentang perilaku siswa. Pertama, menanyakan siswa  yang mana atau siswa sekolah apa. Kedua menanyakan sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka miliki sehingga dapat mengikuti pelajaran tersebut.

Ada tiga macam sumber yang dapat emmberikan informasi kepada pendesain instruksional, yaitu :

  1. Siswa atau calon siswa.
  2. Orang-orang yang mengetahui kemampuan siswa atau calon siswa dari dekat seperti guru atau atasannya.
  3. pengelola program pendidikan yang biasa mengajarkan mata pelajaran tersebut .

Teknik yang digunakan dalam mengidentifikasi kebutuhan instruksional yaitu kuesioner, interviu , observasid an tes.

  1. B. Karakteristik Awal Siswa

Teknik yang digunakan dalam mengidentifikasi kebutuhan instruksional yaitu kuesioner, interviu , observasi dan tes.

MERUMUSKAN TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS

Tujuan Pendidikan

  • Tujuan  pendidikan nasional  (UU sisdiknas)

Berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang ber imtaq kepada Tuhan YME. , berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap , kreatif, mandiri,  dan menjadi warga negara yang demokratis  serta bertanggung jawab

  • Tujuan  pendidikan kelembagaan/institusi

Tujuan  dari suatu institusi/lembaga pendidikan.

Penjabaran  dari  tujuan pendidikan nasional

Mulai  dari tingkat pendidikan dasar, menengah, tinggi

Belum bersifat operasional

  • Tujuan kurikuler/ mata pelajaran/mata kuliah

Tujuan yang ingin dicapai  oleh setiap bidang studi, mata kuliah , mata pelajaran

Rincian dari tujuan institusional

Berpedoman  pada kurikulum

Belum bersifat operasional

  • Tujuan  pembelajaran umum / TIU

Tujuan  yg ingin  dicapai  setelah mempelajari satu pokok bahasan.

Bersumber dari tujuan kurikuler

Terdiri  dari kata kerja  dan objek

Harus dijabarkan lagi menjadi tujuan instruksional khusus

  • Tujuan  Pembelajaran khusus

Istilah  lain:  sasaran belajar (sasbel) , specific instructional objective, enabling objective, tujuan khusus instruksional, tujuan pembelajaran khusus,

Bersifat  operasional, khusus, bertitik tolak pada perubahan perilaku, dapat diamati/diukur

  1. A. Pengertian  TIK

Perumusan TIK merupakan titik permulaaan yang sesungguhnya dai prose pengembangan instruksional. Sedangkan proses sebelumnya , merupakan tahap pendahuluan untuk menghasilkan TIK.

  1. B. Bagaimana Merumuskan Tujuan Instruksional Khusus

Unsur-unsur dalam mengambangkan tes yang benar-benar dapat mengukur perilaku yang terdapat di dalamnya antara lain :

A         = Audience

B         = Behavior

C         = Condition

D         = Degree

A = Audience adalah mahasiswa yang belajar

B = Behavior adalah perilaku yang spesifik yang akan dimunculkan oleh mahasiswa setelah proses belajarnya dalam pelajaran tersebut.

C = Condition adalah kondisi, yang berarti batasan yang dikenakan kepada siswa atau alat yang digunakan siswa pad asaat ia tes, bukan pada saat ia belajar.

D = Degree adalah tingkat keberhasilan siswa dalam mencapai perilaku tersebut

  1. C. Hubungan TIK dengan Isi pelajaran

Dengan merumuskan TIK anda telah dapat mengidentifikasi isi pelajaran yang akan diajarkan.

MENYUSUN TES ACUAN PATOKAN

  1. A. Hakikat Tes Acuan

Mengukur tingkat pencapaian siswa terhadap perilaku yang terdapat dalam TIK. Bukan mengukur tingkat pencapaian penguasaan materi pembelajaran. Disusun setelah merumuskan TIK , bukan setelah penyajian materi. Bisa berdasarkan acuan patokan dan bisa juga berdasrkan acuan norma.

  1. B. Penilaian Berdasarkan Acuan Patokan

Penilaian berdasarkan acuan patokan adalah penilaian dilakukan berdasarkan seperangkat kompetensi atau kemampuan atau persiapan yang telah ditetapkan terlebih dahulu kriteria.

Skor yang dicapai siswa mencerminkan tingkat penguasaannya terhadap perilaku yang diukur. Skor yang dicapai siswa dibandingkan dengan skor maksimum yang mungkin dicapai unuk perilaku yang terdapat dalam TIK, sebagai kriteria/patokan. Dilakukan setelah belajar atau hasil akhir.

  1. C. Penilaian Berdasarkan Acuan Norma

Penilaian berdasarkan acuan norma adalah dilakukan berdasarkan atas penampilan mahasiswa.  Tes ini disusun untuk menentukan kedudukan seorang siswa di antara kelompoknya, bukan untuk menentukan tingkat penguasaan setiap peserta tes terhadap perilaku yang ada dalam TIK. Tes harus bisa membedakan antara siswa yang pintar, sedang dan bodoh. Harus mempunyai tingkat kesulitan (antara 20 % – 80 %).

Tingkat kesulitan yang sedang antara 20 -80 %. Bisa dijawab 90 % siswa , tesnya mudah. Bisa dijawab 10 % siswa, tesnya sulit. Sehingga diperlukan kurva normal, untuk menafsirkan hasil tes (ada 3 kelompok : tinggi, sedang, kurang).

Skor dibuat persentil. Misalnya A memperoleh skor 75, ada 20 siswa lain dari 50 siswa yang skornya dibawah A (40 %). Berarti ada 60 % siswa di atas A. Jadi kedudukan A berada pada kelompok sedang atau rendah. Dengan skor yang sama (75), dikelompok lain, mungkin A termasuk kelompok pintar jika seandainya ada 40 orang siswa yang skornya sdibawah A ( 80 % siswa yang skornya dibawah 75).

  1. D. Persamaan  dan Perbedaan PAP dan PAN

Berikut ini Gronlund (1990) mengemukakan persamaan dan perbedaan dari kedua jenis tes :

Persamaannya

  1. Keduanya mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur;
  2. Keduanya disusun dari sampel butir-butir tes yang relevan dan representatif;
  3. Keduanya menggunakan macam tes yang sama seperti tes subjektif, tes karangan, tes penampilan atau keterampilan;
  4. Keduanya menggunakan ketentuan yang sama dalam menulis butir tes, kecuali untuk kesulitan tes. Ini berarti bahwa keduanya sama-sama membutuhkan kalibrasi daya pembeda dan analisis option ;
  5. Keduanya dinilai kualitasnya darisegi validitas dan reliabilitasnya;
  6. Keduanya digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda.

Perbedaannya

  1. Tes Acuan Norma biasanya mengukur sejumlah besar perilaku khusus dengan sedikit butir tes untuk setiap perilaku.

Tes Acuan Patokan biasanya mengukur perilaku khusus dalam jumlah yang terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku.

  1. Tes Acuan Norma menekankan perbedaan di antara peserta tes dari segi tingkat pencapaian belajar secara relatif. Tes Acuan Patokan menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes.
  2. Tes Acuan Norma  lebih mementingkan butir-butir tes yang mempunyai tingkat kesulitan sedang dan biasanya membuang tes yang terlalu mudah dan yang terlalu sulit. Tes Acuan Patokan mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa peduli dengan tingkat kesulitannya.
  3. Tes Acuan Norma  digunakan terutama (tetapi tidak khusus) untuk tes survai. Tes Acuan Patokan digunakan terutama (tetapi tidak khusus) untuk tes penguasaan.
  4. Penafsiran hasil Tes Acuan Norma membutuhkan pendefinisian kelompok secara jelas . Penafsiran hasil Tes Acuan Patokan membutuhkan pendefinisian perilaku yang diukur secara jelas dan terbatas.
  1. E. Prinsip-Prinsip Evaluasi

Tiga prinsip utama evaluasi :

  1. Prinsip Keseluruhan

Evaluasi akan berhasil dengan baik jika pelaksanaanya secara bulat, utuh atau menyeluruh, tidak boleh dilakukan secara terpisah, atau sepotong-potong. Ini berarti bahwa evaluasi harus dapat mencakup berbagai aspek yang dapat menggambarkan perkembangan atau perubahan tingkah laku siswa seperti aspek kognitif, aspek afektif dan psikomotor.

  1. Prinsip kesinambungan

Evaluasi dilaksanakan secara teratur dan kontiyu atau terusmenerus dari waktu ke waktu. Dengan demikian evaluator dapat mengetahui perkembangan dan kemajuan peserta didik dari awal sampai akhir mengikuti suatu program/jenjang di suatu lembaga pendidikan

  1. Prinsip obyektivitas

Evaluasi harus terlepas dari factor-faktor subyektif. Untuk itu seorang evaluator harus bersikap netral apa adanya sesuai dengan obyeknya. Dan tidak boleh mementingkan diri pribadinya.

  1. F. PROSEDUR PENYUSUNAN TES ACUAN

Langkah-langkah untuk menyusun tes antara lain :

  1. Menentukan  maksud tes

Tes yang akan disusun oleh pengembang instruksional akan digunakan untuk dua maksud utama sebagai berikut :

  • Memberikan umpan balik bagi mahasiswa tentang hasil belajar mahasiswa dalam setiap tahap proses belajarnya.
  • Menilai efektivitas sistem instruksional secara keseluruhan.
  1. Membuat tabel spesifikasi untuk setiap tes

Tabel 1

Kerangka tabel spesifikasi

Daftar

Perilaku

Bobot

Perilaku

Jenis tes Jumlah Butir Tes
1 2 3 4

Tabel 2

Contoh Tabel Spesifikais

Daftar

Perilaku

Bobot

Perilaku

Jenis tes Jumlah Butir Tes
1 2 3 4
A

B

A

D

20

15

15

50

Pilihan Ganda

Benar salah

Menjodohkan

Essay

20

15

15

5

  1. Menyusun butir soal/item

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam menulis setiap butir tes adalah :

  • Macam dan jumlah butir tes sesuai dengan tabel spesifikasi.
  • Menggunakan komponen kondisi dalam tik sebagai dasar dalam menyusun pertanyaan.
  • Harus yakin bahwa setiap item mengukur keberhasilan tujuan TIK.
  • Kesesuaian butir soal dan TIK.
  1. Merakit Tes

Butir tes yang telah selesai ditulis dikelompokkan atas dasar jenis kemudian diberi nomor urut 1 sampai seterusnya.

  1. Menulis petunjuk dalam mengerjakan tes

Setiap jenis tes itu diberi petunjuk tentang menuliskan jawabannya, waktu yang diperlukan untuk menjawab atau menyelesaikan seluruh tes tersebut. Petunjuk ini harus sederhana, singkat, tetapi jelas.

  1. Menulis kunci jawaban

Kunci jawaban menunjukkan dua hal, yaitu :

  • Jawaban yang benar. Untuk tes objektif jawaban yang benar adlah satu di antara pilihan jawaban yang tersedia. Untuk tes karangan dan tes penampilan dapat berupa model-model jawaban yang baik, sedang dan kurang dan garis-garis besar jawaban yang diharapkan dan skor maksimum untuk setiap garis besar jawaban tersebut.
  • Disamping berupa jawaban yang benar, kunci jawaban harus pula mengandung cara pemberian skor untuk setiap butir tes.
  1. Uji coba tes.

Tes perlu di uji coba untuk melihat beberpa hal penting berikut ini :

  • Kualitas setiap butir tes.
  • Kejelasan dan kesederhanaan petunjuk cara menjawab.
  • Kemudahan siswa memahami maksud setiap pertanyaan.
  • Kelengkapan alat-alat yang harus dibawa siswa, misalnya kalkulator, tabel, kertas jawaban, pensil atau alat tulis tertentu.
  • Kesesuaian waktu yang dibutuhkan siswa dengan yang diterapkan dalam tes tersebut.
  • Kejelasan dan kebersihan pengetikan.
  1. Analisis hasil uji coba

Hasil ujicoba tes dapat diolah dalam dua bagianpenting , Yaitu :

  • Kualitas setiap butir tes.
  • Kualitas teknik penulisan dan kualitas fisik.
  1. Revisi tes

Tes yang telah diujicobakan direvisi seperlunya menurut hasil uji coba.

  1. G. Kegunaan PAP

Penyusunan tes untuk digunakan dalam tiga hal sebagai berikut :

  • Mengukur tingkat pencapaian siswa setelah menyelesaikan seluruh proses instruksional untuk suatu mata pelajaran (post test).
  • Mengukur tingkat penguasaan siswa sebelum proses pembelajaran sebagai entry behavior (free test).
  • Mengetahuai tingkat kemajuan siswa (progress) selama proses pembelajaran.

PENGEMBANGAN STRATEGI  INSTRUKSIONAL

  1. A. Strategi  Instruksional

Berkaitan dengan pendekatan dalam mengelola kegiatan instruksional utk. Menyampaikan isi pelajaran secara sistematis sehingga tercapai tujuan yang efektif  dan efisien. Mengenai Urutan kegiatan instruksional, Metode yang digunakan,  Media  instruksional, Waktu yang diperlukan.

DICK  &  CAREY  (1985) mengatakan bahwa suatu strategi instruksional menjelaskan komponen-komponen umum dari suatu strategi bahan instruksional dan prosedur-prosedur yang akan digunakan bersama bahan-bahan tersebut untuk menghasilkan hasil belajar tertentu pada mahasiswa.

Ada  lima komponen  dalam  strategi  instruksional:

  1. Kegiatan pra-instruksional;
  2. Penyajian informasi;
  3. Partisipasi  siswa;
  4. Tes;
  5. Tindak lanjut;

GAGNE  &  BRIGGS (1979) menyebutnya sebagai  sembilan urutan kegiatan instruksional, yaitu :

  1. Pemberian motivasi atau menarik perhatian;
  2. Penjelasan TIK;
  3. Mengingatkan kompetensi prasyarat;
  4. Pemberian stimulus (masalah, topik, konsep);
  5. Memberikan petunjuk belajar;
  6. Menimbulkan penampilan siswa;
  7. Umpan balik;
  8. Penilaian  penampilan
  9. Menyimpulkan
  1. Pendahuluan

Pendahuluan adalah kegiatan awal dari kegiatan instruksional yang

Sesungguhnya.

  1. Penjelasan singkat tentang isi pelajaran
  2. Penjelasan tentang relevansi isi pelajaran baru dgn pengalaman siswa
  3. Penjelasan tentang  TIK

( D – R – T )

  1. Penyajian

Penyajian adalah inti kegiatan pengajaran

Subkomponen dalam penyajian tersebut :

  1. Uraian
  2. Contoh
  3. Latihan

( U -  C  -  L)   or  (C -  U – L)

  1. Penutup

Subterakhir dalam urutan kegiatan instruksional terdiri dari :  Evaluasi dan Umpan balik serta Tindak lanjut   (R – T – U – T)

Tabel

Komponen Utama dan Subkomponen dalam Strategi Instruksional

URUTAN KEGIATAN INSTRUKSIONAL METODE MEDIA WAKTU
PENDAHULUAN Deskripsi Singkat
Relevansi
TIK
PENYAJIAN Uraian
Contoh
Latihan
PENUTUP Tes formatif
Umpan balik
Tindak Lanjut

  1. B. Komponen Utama Pertama : Urutan Kegiatan  Instruksional
    1. 1. Pendahuluan

Pendahuluan adalah kegiatan awal dari kegiatan instruksional yang

sesungguhnya

  1. Penjelasan singkat tentang isi pelajaran adalah gambaran secara global tentang isi pelajaran yang akan dipelajari.
  2. Penjelasan tentang relevansi isi pelajaran baru  adalah penjelasanan mengenai relevansi  atau kegiatan isi pelajaran yang akan dipelajarinya dengan pengetahuan, keterampilan atau sikap yang telah dikuasainya atau relevansinya dengan pengalaman dan pekerjaannya sehari-hari.
  3. Penjelasan tentang  Tujuan Instruksional Khusus adalah kemampuan yang akan dicapai pada akhir proses pembelajaran.

Tabel

Komponen Pendahuluan Dan Langkah-Langkah Di Dalamnya

URUTAN KEGIATAN PENDAHULUAN METODE MEDIA WAKTU
Deskripsi Singkat :
Relevansi :
TIK:
  1. 2. Penyajian

Penyajian adalah inti kegiatan pengajaran. Di dalamnya terkandung tiga pengertian pokok sebagai berikut : Uraian, Contoh, dan  Latihan

Tabel

Komponen Pendahuluan Dan Langkah-Langkah Di Dalamnya

URUTAN KEGIATAN PENYAJIAN METODE MEDIA WAKTU
Uraian :
Contoh :
Latihan :

Berikut ini penjelasan subkomponen dalam penyajian tersebut :

  1. Uraian adalah penjelasan tentang materi pelajaran atau konsep, prinsip, dan prosedur yang akan dipelajari siswa.
  2. Contoh adalah benda atau kegiatan yang terdapat dalam kehidupan mahasiswa sebagai wujud dari materi pelajaran yang diuraikan.
  3. Latihan adalah kegiatan siswa dalam rangka menerapkan konsep, prinsip, dan prosedur yang sedang dipelajarinya ke dalam praktik yang relevan dengan pekerjaan atau kehidupannya sehari-hari.
  1. 3. Penutup

Subterakhir dalam urutan kegiatan instruksional yang  terdiri dari :  Evaluasi dan  Umpan balik (Tes Formatif) serta Tindak lanjut.

  1. Tes formatif adalah satu set pertanyaan untuk dijawab atau seperangkat tugas dilakukan untuk mnegukur kemajuan belajar siswa setelah menyelesaikan suatu tahap pelajaran.
  2. Tindak Lanjut adalah kegiatan yang dilakukan siswa setelah melakukan tes formatif dan mendapatkan umpan balik.

  1. C. Komponen Utama kedua : Metode Instruksional

Metode  instruksional berfungsi sebagai cara dalam emnyajikan isi pelajaran kepada siswa untuk mencapai tujuan tertentu.

Berbagai metode yang digunakan dalam kegiatan instruksional :

  1. 1. Metode Ceramah

Metode ceramah berbentuk penjelasan pengajar kepada siswa dan biasanya diikuti dengan Tanya jawab tentang isi pelajaran yang belum jelas.

Beberapa kelemahan metode ceramah adalah :

  1. Membuat siswa pasif
  2. Mengandung unsur paksaan kepada siswa
  3. Mengandung daya kritis siswa ( Daradjat, 1985)
  4. Anak didik yang lebih tanggap dari visi visual akan menjadi rugi dan anak didik yang lebih tanggap auditifnya dapat lebih besar menerimanya.
  5. Sukar mengontrol sejauhmana pemerolehan belajar anak didik.
  6. Kegiatan pengajaran menjadi verbalisme (pengertian kata-kata).
  7. Bila terlalu lama membosankan.(Syaiful Bahri Djamarah, 2000)

Beberapa kelebihan metode ceramah adalah :

  1. Guru mudah menguasai kelas.
  2. Guru mudah menerangkan bahan pelajaran berjumlah besar
  3. Dapat diikuti anak didik dalam jumlah besar.
  4. Mudah dilaksanakan (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
  1. 2. Metode  Demonstrasi

Metode  Demonstrasi digunakan untuk mendemontrasikan penggunaan alat atau melaksanakan kegiatan tertentu seperti kegiatan sesungguhnya. Menurut Muhibbin (2000). metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan cara memperagakan barang, kejadian, aturan, dan urutan melakukan suatu kegiatan, baik secara langsung maupun melalui penggunaan media pembelajaran yang relevan dengan pokok bahasan atau materi yang sedang disajikan.
Menurut Syaiful Bahri Djamarah (2000), metode demonstrasi adalah metode yang digunakan untuk memperlihatkan pelajaran.

Manfaat psikologis dari metode demonstrasi adalah:

  • Perhatian siswa dapat lebih dipusatkan
  • Proses belajar siswa lebih terarah pada materi yang sedang dipelajari
  • Pengalaman dan kesan sebagai hasil pembelajaran lebih melekat dalam diri siswa.

Kelebihan metode demonstrasi sebagai berikut:

  • Membantu anak didik memahami dengan jelas jalannya suatu proses atau kerja suatu benda.
  • Memudahkan berbagai jenis penjelasan.
  • Kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diperbaiki melalui pengamatan  dan contoh konkret, dengan menghadirkan objek sebenarnya.

Kekurangan metode demonstrasi adalah anak didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan, kurangnya pemahaman siswa tentang kegunaan benda yang dipertunjukkan.

  1. 3. Metode Penampilan/praktik

Metode Penampilan/praktik berbentuk pelaksanaan praktik oleh siswa di bawah supervisi dari dekat oleh pengajar.

Untuk menggunakan metode ini pengajar harus :

  • Memberikan penjelasan yang cukup kepada siswa selama siswa berpraktik.
  • Melakukan tindakan pengamanan sebelum kegiatan praktik dimulai untuk keselamatan siswa dan alat-alat yang digunakan.

Metode penampilan tepat digunakan bila :

  • Pelajaran telah mencapai tingkat lanjutan.
  • Kegiatan instruksional bersifat formal, latihan kerja, atau magang.
  • Siswa mendapat kemungkinan untuk menerapkan apa yang dipelajarinya ke dalam situasi sesungguhnya.
  • Kondisi praktik sama dengan kondisi kerja
  • Dapat disediakan bimbingan kepada siswa secara dekat selama praktik.

Keterbatasan penggunaaan metode penampilan adalah :

  • Membutuhkan waktu panjang, karena siswa harus mendapatkan kesempatan berpraktik sampai baik.
  • Membutuhkan fasilitas dan alat khusus yang mungkin mahal, sulit diperoleh, dan dipelihara secara terus menerus.
  • Membutuhkan pengajar yang lebih banyak, karene setiap pengajar hanya dapat membantu sejumlah kecil siswa.
  1. 4. Metode Diskusi

Metode Diskusi adalah interaksi antara siswa dari siswa atau siswa dengan pengajar untuk menganalisis, atau memperdebatkan topic atau permasalahan tertentu.

Metode diskusi diaplikasikan dalam proses belajar mengajar untuk :

  • Mendorong siswa berpikir kritis.
  • Mendorong siswa mengekspresikan pendapatnya secara bebas.
  • Mendorong siswa menyumbangkan buah pikirnya untuk memecahkan masalah bersama.
  • Mengambil satu alternatif jawaban atau beberapa alternatif jawaban untuk memecahkan masalah berdsarkan pertimbangan yang seksama.

Kelebihan metode diskusi sebagai berikut :

  • Menyadarkan anak didik bahwa masalah dapat dipecahkan dengan berbagai jalan
  • Menyadarkan anak didik bahwa dengan berdiskusi mereka saling mengemukakan pendapat secara konstruktif sehingga dapat diperoleh keputusan yang lebih baik.
  • Membiasakan anak didik untuk mendengarkan pendapat orang lain sekalipun berbeda dengan pendapatnya dan membiasakan bersikap toleransi. (Syaiful Bahri Djamarah, 2000) .

Kelemahan metode diskusi sebagai berikut :

  • Peserta diskusi mendapat informasi yang terbatas.
  • Tidak dapat dipakai dalam kelompok yang besar.
  • Dapat dikuasai oleh orang-orang yang suka berbicara.
  • Biasanya orang menghendaki pendekatan yang lebih formal (Syaiful Bahri Djamarah, 2000)
  1. 5. Metode Studi Mandiri

Metode Studi Mandiri berbentuk pelaksanaan tugas membaca atau penelitian oleh mahasiswa tanpa bimbingan atau pengajaran khusus.

Metode ini dilakukan dengan cara :

  • Memberikan daftar bacaan kepada siswa yang sesuai dengan kebutuhannya.
  • Menjelaskan hasil yang diharapkan dicapai oleh siswa pada akhir kegiatan studi mandiri.
  • Mempersiapkan tes untuk menilai keberhasilan siswa.

Penerapan metode ini adalah :

  • Pada tahap akhir proses belajar.
  • Dapat digunakan pada semua mata pelajaran.
  • Menunjang metode pembelajaran yang lain.
  • Meningkatkan kemampuan  kerja siswa.
  • Mempersiapkan siswa untuk kenaikan tingkat atau jabatan.
  • Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperdalam minatnya tanpa dicampuri siswa lain.
  1. 6. Metode  Kegiatan instruksional Terprogram

Metode  Kegiatan instruksional Terprogram  menggunakan bahan instruksional yang disiapkan secara khusus.

Untuk menggunakan metode ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Siswa harus benar-benar memiliki seluruh bahan, alat-alat dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pelajaran tersebut.
  • Siswa harus benar-benar tahu bahwa bahan itu bukan tes. Respon yang harus dibuat siswa selama proses belajarnya dimaksudkan untuk membantu belajar, bukan untuk dijadikan dasar penilaian dalam mata pelajaran tersebut.
  • Tersedia sumber yang dapat membantu siswa bila mengalami kesulitan.
  • Secara periodik, siswa harus dicek kemampuannya untuk membuatnya benar-benar belajar.

Metode ini diterapkan untuk :

  • Kurang mendapatkan interaksi sosial.
  • Semua tahap belajar, dari permulaan sampai dengan proses akhir belajar siswa.
  • Pelajaran formal, belajar jarak jauh, dan magang.
  • Mengatasi kesulitan perbedaan individual.
  • Mempermudah siswa belajar dalam waktu yang diinginkan.

Metode ini  memiliki keterbatasan sebagai berikut :

  • Bahan pelajaran yang telah dikumpulkan dengan baik membuat siswa melalui urutan kegiatan belajar yang sama. Hal ini  membuat metode kurang fleksibel.
  • Biaya pengembangan tinggi.
  • Siswa kurang mendapat interaksi sosial.
  1. 7. Metode Latihan dengan Teman

Memanfaatkan seorang yang telah lulus dalam latihan tertentu untuk bertindak sebagai pelatih bagis eorang mahasiswa lain.

Untuk menggunakan metode ini perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  • Mula-mula seorang siswa memperhatikan siswa yang lain yang telah mencapai tingkat lanjut dalam melaksanakan semua tugas di bawah supervisi pelatih.
  • Setelah mengenal tugas tersebut, siswa dilatih dalam keterampilan melakukannya.
  • Setelah lulus tes, ia menjadi pelatih untuk siswa berikutnya.

Metode ini dapat dilaksanakan bila :

  • Semua tahap yang membutuhkan latihan satu persatu.
  • Latihan kerja, latihan formal dan magang.

Metode ini memiliki kelemahan sebagai berikut :

  • Terbatasnya siswa yang dapat dilatih dalam satu periode tertentu.
  • Kegiatan latihan harus senantiasa dikontrol secara langsung untuk memelihara kualitas.
  1. 8. Metode Simulasi

Metode ini menampilkan simbol-simbol atau peralatan yang menggantikan proses, kejadian, atau benda yang sebenarnya. Metode simulasi adalah metode yang diberikan kepada siswa, agar siswa dapat menggunakan sekumpulan fakta, konsep, dan strategi tertentu. Penggunaan metode tersebut memberi kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi sehingga dapat mengurangi rasa takut. Metode simulasi cenderung lebih dinamis dalam menanggapi gejala fisik dan sosial, karena melalui metode ini seolah-olah siswa melakukan hal-hal yang nyata ada. Dengan mensimulasikan sebuah kasus atau permasalahan, seseorang akan lebih menjiwai keberadaannya.

Kebaikan metode simulasi antara lain adalah, (1) metode ini dapat mempelajari situasi yang nyata, (2) bisa membuat siswa belajar dari umpan balik yang datang dari dirinya sendiri, (3) bisa melatih siswa dalam mensimulasikan sesuatu sehingga siswa menjadi lebih berani, dan (4) siswa dapat lebih menggunakan sekumpulan fakta dan konsep.

Kelemahan metode simulasi antara lain, (1) bagi siswa yang penakut penerapan metode ini menjadi hal yang tidak menyenangkan sehingga enggan untuk bersimulasi, (2) sebaliknya bagi siswa yang pandai, dan yang senang berbicara cenderung menguasai proses simulasi, (3) bagi siswa yang susah mengeluarkan pendapat hal ini merupakan, metode yang paling menyusahkan.

  1. 9. Metode  Sumbang pendapat atau sumbang saran (Brainstorming)

Proses penampungan pendapat dari siswa tanpa evaluasi terhadap kualitas pendapat tersebut. Metode ini tepat digunakan untuk meningkatkan partisipasi siswa dalam mengajukan pendapatnya. Tetapi, metode ini dapat menimbulkan frustasi di kalangan siswa, karena mereka tidak menemukan konsensus pada akhir proses tersebut. Akan  tetapi guru dapat mengambarkan bahwa yang diminta adalah buah fikiran dengan alasan-alasan rasional.

10. Metode Studi kasus

Berbentuk penjelasan tentang masalah,kejadian, atau situasi tertentu, kemudian siswa ditugaskan mencari alternatif pemecahannya.

Kesulitan penggunaan metode ini adalah :

  • mendapat kasus yang tealh ditulis dengan baik sebagai hasil penelitian lapangan dan sesuai dengan lingkungan kehidupan siswa.
  • Mengembangkan kasus sangat mahal.

11. Metode  Computer Assisted Learning (CAL)

Metode ini berbentuk suatu seri kegiatan belajar yang sangat berstruktur dengan menggunakan computer. Metode ini dapat digunakan pada setiap tingkat pengetahuan dari yang sederhana sampai dengan yang paling kompleks.

Kesulitan penggunaan  metode ini :

  • Pengembangan program CAL membutuhkan biaya tinggi dan waktu lama.
  • Pengadaan dan pemeliharaan alat yang mahal.

12. Metode Insiden

Merupakan variasi dari metode studi kasus. Siswa dibekali dengan data dasar yang tidak lengkap tentang kejadian atau peristiwa. Kelebihan metode ini dari metode studi kasus adalah siswa belajar menyusun dan menyelami masalah lebih dahulu sebelum belajar berpikir kritis untuk mencari pemecahannya.

13. Metode Praktikum

Berbentuk pemberian tugas kepada siswa untuk menyelesaikan suatu proyek dengan berpraktik dan menggunakan instrumen tertentu

14. Metode proyek

Berbentuk pemberian tugas kepada  semua siswa untuk dikerjakan secara individual. Metode ini bertujuan membentuk analisis masing-masing siswa.

15. Metode bermain peran

Berbentuk interaksi antara dua atau lebih siswa tentang suatu topik atau situasi. Metode sosiodrama (role playing) adalah suatu cara menyajikan bahan pelajaran dengan mendramasisasikan tingkah laku dalam hubungan social dengan suatu problem, agar peserta didik dapat memecahkan masalah sosial. Metode sosiodrama adalah metode yang bertujuan untuk mempertunjukkan suatu perbuatan dari suatu pesan yang ingin disampaikan dari peristiwa yang pernah dilihat. Metode ini juga menjadikan siswa menjadi senang, sedih, tertawa jika pemerannya bisa menjiwai dengan baik. Seringkah Anda melakukan?

16. Metode Seminar

Berbentuk kegiatan belajar bagi sekelompok siswa untuk membahas topik atau masalah tertentu.

17. Metode simposium

Mengetengahkan suatu seri ceramah mengenai berbagai kelompok topik dalam bidang tertentu.

18. Metode Tutorial

Berbentuk pemberian bahan belajar yang telah dikembangkan untuk dipelajari siswa secara mandiri dan kesempatan berkonsultasi secara perodik tentang kemajuan dan masalah yang dialaminya.

19. Metode Deduktif

Dimulai dengan pemberian penjelasan tentang prinsip-prinsip isi pelajaran, kemudian disusul dengan penerapannya atau contoh-contohnya pada situasi tertentu.

Metode ini tepat digunakan bila :

  • Siswa telah  mengenal  atau telah mempunyai pengalaman yang berhubungan dengan mata pelajaran tersebut.
  • Yang diajarkan berupa keterampilan komunikasi antara pribadi, sikap, pemecahan, dan pengambilan keputusan.
  • Pengajar mempunyai keterampilan mendengarkan yang baik, fleksibel, terampil mengajukan pertanyaan, terampil mengulang pernyataan dan sabar.
  • Waktu yang tersedia cukup panjang.

20. Metode  Induktif

Dimulai dengan pemberian berbagai kasus, fakta, contoh, atau sebab yang mencerminkan suatu konsep atau prinsip, kemudian, siswa dibimbing untuk berusaha keras mensintetis, menemukan, atau menyimpulkan prinsip dasar dari pelajaran tersebut.

Metode ini tepat digunakan bila :

  • Belum  mengenal pengetahuan yang sedang dipelajari
  • Isi pelajaran meliputi terminologi, teknis dan bidnag yang kurang membutuhkan proses berpikir kritis.
  • Pengajaran mengenai pelajaran tersebut mempunyai persiapan yang baik dan pembicara yang baik
  • Waktu yang tersedia singkat.

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

KAITAN ANTARA KURIKULUM DAN BAHAN AJAR

  • Kurikulum
  • Silabus/GBPP
  • SAP
  • Bahan Ajar

PERAN DOSEN DALAM PBM

-          Membangkitkan minat belaja mahasiswa

-          Menjelaskan materi dengan struktur yang baik

-          Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk berlatih/umpan balik

-          Memperhatikan dan menjelaskan hal-hal yang sulit dan tidak dimengerti

-          Menciptakan komunikasi dua arah

HAKIKAT BAHAN AJAR

Bahan ajar merupakan bahan atau materi pembelajaran yang disusun secara sistematis yang digunakan guru dan siswa dalam  proses pembelajaran, sebagai acuan bagi dosen dalam mengajar, bersifat self- instructional, dan mempunyai kemampuan menjelaskan sendiri.

FUNGSI BAHAN AJAR

–   Acuan bagi mahasiswa dalam belajar

–   Menjelaskan tujuan instruksional khusus dan umum

–   Memberi kesempatan pada siswa untuk berlatih

–   Mengakomodasi kesulitan siswa

–   Memberikan rangkuman

PENCAPAIAN TUJUAN PEMBELAJARAN

Dengan bahan ajar : Dosen dan mahasiswa lebih siap , materi kuliah lebih terkontrol sesuai dengan tujuan, PBM lebih terarah dan informasi dapat diulang sesuai kebutuhan.

BENTUK-BENTUK BAHAN AJAR

  1. Hand Out

Hand out adalah Bahan  ajar yang dikemas dalam bentuk ringkasan dari materi yang akan diajarkan dalam setiap perkuliahan, selama satu semester.

  1. Diktat

Diktat adalah Bahan  ajar yang dikemas dalam bentuk tulisan yang lengkap (bab per bab), biasanya diberikan kepada mahasiswa untuk kalangan sendiri (bukan untuk mahasiswa secara umum).

  1. Modul

Modul adalah Bahan ajar yang dikemas sedemikian rupa sehingga memungkinkan mahasiswa belajar secara mandiri tanpa bantuan dosen (modul UT). Modul ini ada lembar kerja untuk mahasiswa , mempeunyai mekanisme umpan balik atau mungkin saja belum diterbitkan.

  1. Buku Ajar

Buku Ajar adalah Bahan ajar yang paling lengkap, dikemas sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk mahasiswa bukan saja di kalangan sendiri tetapi untuk seluruh mahasiswa, (diterbitkan, dan mempunyai ISBN).

Perbedaan Antara bahan Ajar dan Buku Teks

BAHAN AJAR BUKU TEKS
Menimbulkan minat Sudah Ada minat
Dirancang khusus untuk mahasiswa Terutama untuk dosen
Menjelaskan TIU dan TIK Belum tentu ada TIU dan TIK
Berdasarkan kebutuhan mahasiswa Disusun secara linier
Berfokus pada mahasiswa Strukturnya berdasarkan logika bidang ilmu
Memberikan latihan Belum tentu memberikan latihan
Mengakomodasi kesulitan mahasiswa Tidak mengantisipasi kesulitan mahasiswa
Memberikan rangkuman Belum tentu Memberikan rangkuman
Gaya penulisan komunikatif dan semi formal Gaya Penulisan naratif, tidak komunikatif
Kepadatan berdasarkan kebutuhan mahasiswa Sangat padat
Dikemas untuk digunakan dalam PBM Dikemas untuk dijual secara umum
Ada mekanisme umpan balik Tidak punya mekanisme umpan balik

BAHAN AJAR VS SKS MATA KULIAH

-    Satu SKS = 3 Bab , 2  SKS – 6 Bab

-    1 BAB = 40 – 60 Hal (Non Eksakta), 25- 40 Hal (Eksakta)

-    (1,5 spasi, kuarto)

-    Mata kuliah 2 SKS = 6 BAB

240 – 360 Halaman ( non Eksakta)

150 – 240 Halaman (Eksakta)

BEBAN BELAJAR MAHASISWA VS SKS

-    Mata kuliah dua SKS :

-    1. Kuliah tatap muka = 16 x 100 menit = 1600 menit = 27 jam/ semester

-    Tugas terstruktur = 16 x 120 menit = 1920 menit = 32 jam/ menit

-    Tugas mandiri = 16 x 100 menit = 1920 menit = 32 Jam/ semester

-    Jumlah jam dalam satu semester = 91 Jam

KEMAMPUAN BELAJAR MAHASISWA

-    Kemampuan belajar mahsiswa (penguasaan minimal 80 %) = 4 – 6 hal/ jam (non Eksak), 2,5 – 4 Hal/jam (Eksak)

-    Untuk matakuliah 2 SKS dengan bahan ajar 240 – 360 Halaman (non Eksak) dan Bahan Ajar 150 – 240 halaman (Eksak), waktu yang diperlukan mahasiswa sekitar 60 – 90 jam/ persemester.

PENGEMBANGAN BAHAN AJAR

-    Menyusun Silabus dan SAP.

-    Menulis bahan ajar dengan mengikuti strategi instruksional.

-    Merevieu, uji lapangan, revisi

-    Menggunakan bahan ajar

-    Revisi ulang, penyempurnaan

-    Disesuaikan dengan issu yang berkembang

PENYUSUNAN BAHAN AJAR

  1. Merumuskan TIU?TIK
  2. Analisis Instruksional
  3. Menentukan PAM
  4. Menentukan TIK/TPK
  5. Menyusun Rencana KBM
  6. Menyusun Kontrak Kuliah
  7. Menulis bahan ajar
  8. Review/ Uji Lapangan
  9. Digunakan

SIAPA MENULIS BAHAN AJAR

  1. Dosen sendiri
  2. Bekerjasama dengan dosen lain (kelompok/tim)
  3. Minta bantuan dari perancang instruksional

CARA PENYUSUNAN BAHAN AJAR

-     Menulis Sendiri

-    Pengemasan kembali informasi

-    Penataan informasi (kompilasi)

PROSEDUR MENULIS BAHAN AJAR

Asumsi :

Dosen adalah pakar ilmu

Dosen punya kemampuan menulis

Dosen mengerti kebutuhan mahasiswa dalam bidang ilmu tersebut

BAHAN AJAR DITULIS BERDASARKAN

-    Analisis Instruksional

-    Silabus dan SAP

-    Kontrak Perkuliahan

PROSEDUR PENGEMASAN KEMBALI INFORMASI

-    Informasi yang sudah ada dikumpulkan berdasarkan kebutuhan (TIU?TIK, GBPP/Silabus, SAP, kontrak perkuliahan)

-    Informasi tersebut disusun kembali/ ditulis ulang dengan gaya bahasa dan strategi yang sesuai untuk bahan ajar lalu ditambahkan.

-    Kompetensi yang ingin dicapai, bimbingan belajar, latihan, tes formatif, umpan balik.

PROSEDUR KOMPILASI

-    Kumpulkan seluruh buku, artikel dan sumber lain yang dib\gunakan dalam mata kuliah yang ada dalam DP Di GBPP.

-    Tentukan bagian-bagian buku, artikel/jurnal dan bagian acuan lain yang digunakan perpook bahasan sesuai dengan GBPP.

-    Fotokopi seluruh bagian dari sumber yag digunakan.

-    Pilih hasil fotokopi berdasarkan urutan Pokok Bahasan sesuai GBPP.

-    Buat halaman penyekat setiap pokok bahasan.

-    Bahan yang sudah dilengkapi dengan halaman penyekat, dijilid rapi.

-    Buat pedoman pengajar dan pedoman mahasiswa untuk mendampingi bahan kompilasi tersebut.

STRUKTUR BAHAN AJAR

-    Tinjauan matakuliah

-    BAB I

Kompetensi Umum

Deskripsi singkat

Pokok- pokok isi

Rangkuman

Soal Latihan

-    BAB II

-    Daftar Pustaka

TINJAUAN MATA KULIAH berisi

-    Deskripsi singkat isi mata kuliah secara keseluruhan yang diambil dari GBPP.

-    Kegunaan mata kuliah bagi mahasiswa jika ada prasyarat, dijelaskan.

-    Susunan Judul-judul Bab dalam matakuliah tersebut, dalam bentuk narasi.

MENULIS BAB PERTAMA

Kompetensi Umum

Setelah membaca/ mempelajari Bab ini diharapkan mahasiswa..

Kompetensi Khusus

Jabaran rinci dari kompetensi umum (sama dengan TIK), Behavioral, operasional, terukur, spesifik.

Deskripsi Singkat

-    Ditulis dalam 1 atau 2 paragraf pernyataan tentang isi bab, atau bentuk pertanyaan tentang ruang lingkup, gunanya untuk menstimulir rasa ingin tahu mahasiswa.

-    Memberikan gambaran umum kepada mahsiswa tentang isi bab

Pokok-Pokok isi

-    Uraian rinci tentang materi dalam setiap sub-pokok bahasan, konsep, prinsip contoh dan ilustrasi, keterangannya.

-    Setiap subpokok bahasan ada uraiannya

Rangkuman

-    Kesimpulan dari semua materi yang dijelaskan pada pokok-pokok isi.

-    Sebagai patokan bagi mahsiswa dalam mempelajari Bab I tersebut.

-    Lebih Lengkap dari deskripsi singkat.

Soal Latihan

-    Alat Evaluasi

-    Dasar/alasan bagi mahasiswa untuk belajar.

-    Sebagai umpan balik

-    Sebaiknya disertai kunci jawabannya

BAB II DAN SELANJUTNYA

-    Sama Seperti BAB I

-    Daftar Pustaka

KIAT-KIAT DALAM PENULISAN BAHAN AJAR

-    Bayangkan anda sedang menjelaskan sesuatu pada siswa anda.

-    Tulislah apa yang anda jelaskan, demikian juga apa yang ditanyakan mahasiswa

-    Gunakan kalimat pendek pada tulisan anda

-    Bacalah hanya kalimat terakhir sebelum melanjutkan pada kalimat berikut.

-    Mintalah teman anda membaca apa yang anda tulis sebelum merevisinya dan tanyakanlah pada bagian mana ia tidak mengerti

-    Mintalah ahli materi dan bahasa untuk penyempurnaan tulisan anda.

ASPEK-ASPEK TEKNIS PENULISAN BAHAN AJAR

-    Penggunaan Halaman

-    Sign Point dan ide utama

-    Penulisan Alinea

-    Cara mengutip

-    Cara menulis Daftar Pustaka

PENGGUNAAN HALAMAN

-    Pada dasarnya terdapat dua cara dalam penggunaan halaman; pertama cara konvensional, yaitu dengan menggunakan halaman secara penuh (jarak 3 cm dari sisi atas dan kiri, dan 2,5 cm dari sisi bawah dan kanan). Cara kedua adalah dengan menggunakan 2/3 halaman untuk penulisan dan 1/3 halaman sisanya dibiarkan kosong untuk menulis’ sign posting” dan ide utama.

SIGN POSTING

-    Salah satu cara untuk memudahkan proses belajar mahasiswa adalah dengan mencantumkan tanda-tanda tertentu (sign posting) di sebelah kiri atau di sebelah kanan tulisan (ditempat yang kosong). Tanda tersebut memberikan makna atau pengertian tertentu terhadap apa yang diuraikan dalam tulisan. Misalnya, tanda tanya (?) dalam suatu lingkaran, mengandung arti untuk direnungkan atau dipikirkan, tanda telunjuk ke atas mempunyai arti penting atau perhatikan, tanda jari tangan sedang memegang pulpen atau sedang menulis mempunyai arti latihan dan sebagainya.

IDE UTAMA

-    Ide Utama(pokok) adalah ide yang menjadi titik pusat uraian dalam suatu alinea. Misalnya jika dalam suatu alinea akan dijelaskan tentang prestasi belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, maka ide utamanya adalah faktor-faktor yang mempengaruh prestasi belajar, dan ini ditulis di bagian kosong dari halaman disamping sign posting.

PENULISAN ALINEA

-    Biasanya terdapat dua cara penulisan alinea. Pertama dengan memasukkan awal alinea sekitar lima ketukan ke dalam tubuh alinea (indensi); Kedua dengan memulai alinea dari sebelah kiri dan terus demikian sampai akhir alinea (blok), dan penggantian alinea diberi jarak dua spasi.

CARA MENGUTIP

-    Ada dua bentuk kutipan, yaitu kutipan langsung (verbatim) dan kutipan tidak langsung (paraphreasing)

-    Kutipan langsung adalah kutipan yang diambil seperti apa adanya fdari tulisan sumber (tidak boleh diubah titik komanya). Ada dua jenis kutipan langsung, yaitu kutipan langsung pendek, jika yang dikutip kurang dari empat baris dan kutipan langsung panjang, jika yang dikutip empat baris atau lebih

-    Untuk kutipan pendek, biasanya tulisan yang dikutip menyatu dengan badan tulisan dan dipisahkan dengan tanda kutip, sementara untuk kutipan panjang, biasanya tulisan yang dikutip ditulis tersendiri, agak ketengah dan diketik satu spasi, tanpa tanda kutip. Setiap tulisan yang dikutip harus disertai dengan sumber kutipan yaitu nama penulis dan tahun penerbitan

-    Kutipan tidak langsung dimaksud adalah jika kita mengutip tulisan yang tidak persis sama dengan yang dikutip, tetapi menggunakan kata-kata penulis sendiri, namun tidak menambah, mengurangi, atau menafsirkan ide tersebut. Jika kita mengutip dengan cara tidak langsung ini, tidak memerlukan tanda kutip dan menyatu dengan badan tulisan.

PENULISAN DAFTAR PUSTAKA

-    Ada beberapa cara penulisan daftar pustaka, diantaranya, jika sumber bacaan itu dalam bentuk buku, dalam jurnal, majalah, koran, makalah seminar, skripsi, surat keputusan, dokumen lembaga dan sebagainya

-    Contoh :

Buku :  Margono, Slamet. 1998. manajemen Mutu Terpadu. Jakarta : Bina Aksara.

-    Jurnal :

Abdulkadir, Ahmad.. 2001. Perilaku Sosial Masyarakat Kota dalam forum Keadilan, No 15 hal 21 – 31

-    Koran :

Bakri, Aburizal. 2006 ” Inflasi telah mencapai 17 persen ” Republika, Rabu, 2 Nopember.

FUNGSI ILUSTRASI

-    Deskriptif

-    Ekspresif

-    Analisis /Struktur

-    Kuantitatif

JENIS ILUSTRASI

-    Daftar/ tabel

-    Diagram

-    Grafik

-    Kartun

-    Gambar dan Foto

-    Sketsa

-    Simbol

-    Skema

LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN ILUSTRASI

-    Menentukan bagian bahan ajar yang membutuhkan ilustrasi

-    Menentukan jenis ilustrasi

-    Menentukan letak ilustrasi

-    Menentukan ukuran masing-masing  ilustrasi

-    Menentukan  ilustrasi yang akan dibuat oleh desainer grafis dan yang diambil dari sumber lain

-    Merancang caption atau keterangan pada setiap ilustrasi.

Desain :

-    Membuat ilustrasi sesuai isi pesan

-    Memilih dan menyeleksi ilustrasi dari sumber lain

-    Membubuh caption pada setiap ilustrasi

-    Memodifikasi ilustrasi

-    Menyusun tata letak ilustrasi

Editing

-    Menilai ketepatan ilustrasi dengan isi pesan yang disampaikan

-    Merevisi kesalahan-kesalahan pada ilustrasi dan teks

BAHASA INDONESIA YANG BAIK DAN BENAR

-    Tata bunyi

-    Tata Bahasa (pembentukan kata dan kalimat)

-    Ejaan

-    Penyusunan alinea

-    Tata Tulis Ilmiah

FORMAT PENULISAN BAHAN AJAR

-    Judul bahan ajar

-    Kata pengantar

-    Daftar isi

-    Daftar tabel

-    Daftar gambar

-    Tinjauan mata kuliah/mata pelajaran

-    BAB I

Kompetensi umum

Deskripsi singkat

Pokok-pokok isi

Rangkuman

Soal-soal latihan

-    Bab II

-    DST

-    Daftar Pustaka

-    Lampiran

EVALUASI FORMATIF

  1. A. Pengertian Evaluasi Formatif

Evaluasi Formatif adalah sebagai proses menyediakan dan menggunakan informasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam rangka meningkatkan kualitas produk atau program instruksional.

  1. B. Empat tahap Evaluasi Formatif

Empat tahap Evaluasi Formatif yaitu

  1. Review oleh ahli bidang studi di luar pengembang instruksional artinya untuk mempermudah pendapat orang lain, sesama ahli dalam bidang studi.
  2. Evaluasi satu-satu dilakukan antara pengembang instruksional dengan dua atau tiga mahasiswa secara individual. Mahasiswa yang mempunyai kemampuan sedang, di atas sedang dan di bawah sedang.
  3. Setelah di revisi berdasarkan masukan evaluasi satu-satu, produk instruksional tersebut dievalusi lagi dengan menggunakan sekelompok kecil mahasiswa yang terdiri atas 8 – 12 orang.
  4. Uji Lapangan

DAFTAR PUSTAKA

Suparman, M. Atwi. 2004. Desain Instruksional. Jakarta : Universitas Terbuka

Yamin, H. Martinis. 2007. Profesionalisasi guru dan Implementasi KTSP. Jakarta : Gaung Persada Press

About these ads