MATA KULIAH MARTIKULASI

“TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI”

KELOMPOK III:

YASMIS

CORRY IRIANI

RIYADI

FADLI

BAB 1

PENDAHULUAN

Letak geografis Indonesia  sebagai  Negara Kepulauangaris pantai jauh lebih panjang dibandingkan dengan panjang benua Eropa (terpanjang di seluruh dunia).  Salah satu contoh tantangan adalah kondisi geografis negara Indonesia yang membentang dari Barat ke Timur, yang terdiri dari pulau-pulau serta diselingi dengan laut dan selat, dengan data sbb :

Luas Wilayah                       : 5.193.252 km2

Bentangan Horisontal        : 1/8 kel. Bumi

Jumlah Pulau                       : 17.508

Garis Pantai                          : 80.000 km

Kabupaten/kota                    : 446

Kecamatan                            : 5.263

Desa                                       : 62.806

Penduduk                             : 247 juta

Kondisi ini pasti menyulitkan pelaksanaan beberapa program pemerintah yang membutuhkan kecepatan dan keluasan. Salah satu program utama yang mengalami tantangan ini adalah dunia pendidikan.

Apa yang dapat dilakukan  oleh TIK terhadap kharakter khas alam negeri ini? Apa yang menjadi kelebihan dari garis pantai yang lebar, apa yang menjadi kekurangannya, apa yang menjadi kelemahan dan kekuatannya ?

Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah berkembang sangat jauh saat ini dan telah merevolusi cara hidup kita, baik terhadap cara berkomunikasi, cara belajar, cara bekerja, cara berbisnis, dan lain sebagainya. Era informasi memberikan ruang lingkup yang sangat besar untuk mengorganisasikan segala kegiatan melalui cara baru, inovatif, instan, transparan, akurat, tepat waktu, lebih baik, memberikan kenyamanan yang lebih dalam mengelola dan menikmati kehidupan. Dengan teknologi informasi dan komunikasi semua proses kerja dan konten akan ditransformasikan dari fisik dan statis menjadi digital, mobile, virtual dan personal. Akibatnya kecepatan kinerja bisnis meningkat dengan cepat. Kecepatan proses meningkat sangat tajam di banyak aktivitas modern manusia.

Teknologi Informasi adalah sarana/prasarana, sistem dan metode untuk perolehan, pengiriman, penerimaan, pengolahan, dan penapsiran, penyimpanan, pengorganisasian, dan penggunaan data yang bermakna. Teknologi informasi juga dapat dikatakan suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, pendidikan, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.

Perkembangan di bidang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) saat ini sangat pesat dan berpengaruh sangat signifikan  terhadap pribadi maupun komunitas, segala aktivitas,   kehidupan, cara kerja, metode belajar, gaya hidup maupun cara berpikir. Oleh karena itu, pemanfaatan TIK harus diperkenalkan kepada siswa agar mereka mempunyai bekal pengetahuan dan pengalaman yang memadai untuk bisa menerapkan dan menggunakannya dalam kegiatan belajar, bekerja serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari, bahkan bisa juga dikembangkan menjadi kegiatan wira usaha. Adapun jenis-jenis TIK yang kita kenal selama adalah sebagai berikut:

  1. Radio
  2. Televisi
  3. Telepon (fixed & mobile)
  4. Faxsimile
  5. Electronic recording (audio & video)
  6. Komputer dengan segala peripherals

—  Software

—  Hardware

—  Useware (program atau isi informasi)

—  Jaringan (lokal, wilayah & global/internet)

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945, maka pendidikan adalah hak mutlak bagi warganegara Indonesia, dimana menjadi kewajiban bagi pemerintah untuk mewujudkan hal tersebut.

Adapun masalah-masalah yang dihadapi dalam bidang pendidikan di awal kemerdekaan antara lain sangat terbatasnya kesempatan memperoleh pendidikan, rendahnya kualitas guru, tersendatnya program pendidikan karena perang kemerdekaan, terbatasnya sarana dan prasarana komunikasi dan transportasi. Berbagai daya dan upaya dikerahkan untuk memenuhi amanat tersebut dan melibatkan seluruh alat yang dapat dimanfaatkan, termasuk pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK).

BAB 2

PEMBAHASAN

A. Usaha Awal dan Persiapan TIK di Indonesia

TIK telah berkembang dengan sangat pesat sehingga sudah merupakan gejala dunia. Teknologi itu sudah menjadi bagian kebudayaan Indonesia sejak dikembangkannya sistem satelit domestik. Gejala ini sebenarnya telah menjadi perhatian sejak awal kemerdekaan, yaitu dengan digunakannya siaran radio untuk mengibarkan semangat perjuangan kemerdekaan. Siaran Radio Pendidikan untuk Demobilisan Pelajar dimulai pada 31 Juli 1951, merupakan kerjasama antara Djawatan Pendidikan Masjarakat Kementerian Pendidikan dan Pengajaran dengan RRI dan AURI. Pada tahun 1954 dihentikan karena semua ex tentara pelajar telah ditampung dalam sekolah khusus di Malang.  Marshall McLuhan (1967) seorang pakar dalam bidang sosio kultural yang terkenal dalam bukunya, Media is the Mesage, menyitir ucapan Presiden Soekarno sewaktu berkunjung ke Hollywood, bahwa gambar hidup telah menyebabkan revolusi nasional di Asia. (dalam Miarso,2007:481).

Pemerintah berupaya mengatasi untuk memecahkan persoalan-persoalan tersebut, antara lain: (1) Mendirikan Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru (BKPTPG) 2 Juli 1950 dan sekarang berubah menjadi PPPG (Pusat Pengembangan Penataran Guru) dengan bahan belajar mandiri dan tutorial; (2) Siaran Radio untuk Demobilisan Pelajar 31 Juli 1951 kegiatan ini terhenti pada tahun 1954 dan (3) Didirikan juga Kursus Tatabuku dan Hitung Dagang melalui korespondensi (Effendi Harahap, 1952, Semarang).

Setelah masa awal kemerdekaan telah diatasi, maka timbul masalah kedua yaitu pada awal periode pembangunan: (1) Terbatasnya kesempatan memperoleh pendidikan; (2) Rendah dan tidak meratanya mutu pendidikan; (3) Tuntutan relevansi pendidikan dengan kebutuhan pembangunan; (4) Kurangnya tenaga ahli dan profesional; dan (5) Terbatasnya dana, sarana dan prasarana.

Dalam REPELITA I sebenarnya telah tercantum secara ekplisit kebijakan untuk menggunakan siaran radio dan televisi bagi peningkatan mutu pendidikan (RI, 1970:361). Namun kebijakan itu belum dapat terlaksana dengan semestinya karena kurangnya sumber daya dan dana, serta belum memadainya sarana dan prasarana. Dalam bukunya Miarso (2007:481-482), menyatakan bahwa di lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan telah diselenggarakan sejumlah penelitan dan pengajian, diantaranya adalah:

  1. 1. L.H. Emerson (1968), “Education in Indonesia”
  2. 2. C. Koch (1969), “Educational Radio in Indonesia”
  3. J.B. Willings,et al. (1970), “Educational Broadcasting in Indonesia”
  4. 4. Yusufhadi Miarso (1970), A Programme for the Development of Educational Broadcasting in Indonesia”
  5. D. Jamison (1971), “Alternative Strategies for Primary Educational in Indonesia A Cost Effectivenes Analysis
  6. I. Alisyahbana (1972),”Study of the Specification and Design of Receivers for use in Educational Broadcasting
  7. Alwi Dahlan (1972), “The Effect Educational Broadcasting”
  8. LMUI (1972), “The Management Educational Broadcasting”
  9. IKIP Jakarta (1972), “Desing of Experiment of Use of Radio Broadcasting for Improving Primary School Instruction

10. IKIP Malang (1972), “Desind of Experiment for the Use of Radio Broadcasting for Teachers’ Upgrading”

11. Yusufhadi Miarso (1974), “Identification of the Use of the Domestic Satellite Communication System for Education”

Pada bulan September 1974, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memprakarsai suatu seminar nasional (yang dihadiri pula oleh peserta dari luar negeri), yang mengambil tema “Sistem Komunikasi Satelit Domestik untuk Pendidikan dan Pembangunan.”

Untuk lebih memantafkan dan mengoperasionalkan berbagai pengkajian dan masukan, kemudian dibentuk suatu TIM Studi Pra-Investasi Teknologi Komunikasi untuk Pendidikan dan Kebudayaan. Tim tersebut yang berintikan 16 orang, telah melibatkan secara aktif sekurangnya 70 ahli dan pejabat dari lingkungan pemerintah, swasta, dan masyarakat (temasuk BAPPENAS, HANKAM, BAKIN, LIPI, LAPAN, TVRI, RRI, dan lembaga/perorangan lain yng berkaitan), serta 10 orang ahli dari luar negeri (UNESCO, USAID, dan Universitas luar negeri), diberi tugas oleh Pimpinan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk merumuskan usulan kebijakan pengembangan dan pemanfaatan teknologi komunikasi untuk pengembangan dan pembinaan pendidikan dan kebudayaan.

Arah dan kegiatan perkembangan kebijakan pada masa lalu dapat dilihat dari pelita 1 sampai dengan pelita VII (1998-1999). Arah dan perkembangan kebijakan tersebut adalah Pelita I Peningkatan mutu dengan penataran guru melalui media radio dan TV, Pelita II: (1) peningkatan mutu melalui penataran guru, Siaran Radio dan TV untuk PLS, Pendidikan Tenaga terampil, Program dan Pendidikan Keahlian di Perguruan Tinggi, Perintisan Model Penyajian Pendidikan; dan (2) Pedoman Pengembangan, Kegiatan harus bertolak dari kebijakan pendidikan yang sudah ada, Rencana dikembangkan dari analisis kebutuhan, diprioritaskan pemerataan mutu pendidikan, harus dimulai dari titik pangkal strategis: guru, media harus telah terbukti efektif, Pembentukan lembaga. Pelita III Mengatasi kesenjangan mutu antar wilayah, Peningkatan efisiensi pengelolaan. Pelita IV Peningkatan mutu dan perluasan Pendidikan Dasar, Perluasan kesempatan belajar di SLTP, Pelita V Peningkatan mutu setiap jenis dan jenjang, Perluasan kesempatan jenjang SLTP, Peningkatan dan pendayagunaan media pendidikan. Perkembangan berikutnya. Pelita VI pada pelita ini kebijakan diarahkan pada, Pemerataan dan peningkatan kualitas Pendidikan Dasar, Pelaksanaan Wajar 9 Tahun, Pengembangan dan pemanfaatan media pengajaran, teknologi pendidikan. Pelita VII tahun 1998 dan tahun 1999 kebijakan diarahkan pada, Perluasan dan peningkatan kesempatan, Peningkatan kualitas tenaga pendidik, Peningkatan, pengembangan dan penyebarluasan media pengajaran, teknologi, Perluasan dan pemerataan kesempatan yang bermutu, Diversifikasi kurikulum melayani keberagaman peserta didik, Kurikulum nasional dan lokal sesuai kepentingan setempat, Pengembangan kualitas SDM sesuai dengan potensinya, Peningkatan partisipasi keluarga dan masyarakat.

B. Kegiatan Pengembangan TIK di Indonesia

Ada beberapa kegiatan pengembangan TIK yang dilakukan oleh pemerintah. Beberapa kegiatan pengembangan yang dilakukan antara lain: (1) Pelatihan tenaga inti (1970) Australia; (2) Sosialisasi gagasan (Seminar Nasional SRP) – 1972; (3) Pelatihan tenaga terampil (1972) Jakarta; (4) Eksperimen di DIY, Jateng dan Irja (1973); (5) Evaluasi hasil eksperimen (1975); (6) Pra-investasi Teknologi Komunikasi Untuk Pendidikan dan (7) Kebudayaan → STPN Tekkom-dikbud  → Pusat TKPK (1975 – 1978) dan (7) Pendidikan tenaga ahli TP S1 1976; S2 dan S3 1978  →  sekarang.

Kegiatan pengembangan berikutnya melakukan kegiatan antara lain :

  1. Proyek TKPK (Teknologi Komunikasi Pendidikan Kebudayaan)
  2. Pendidikan tenaga terampil 1971
  3. Pelatihan tenaga di luar negeri 1973
  4. Pendidikan tenaga ahli di luar negeri 1974
  5. Pendidikan tenaga ahli di dalam negeri 1976
  6. ECD Project 1976 – 1982 (bantuan USAID)
  7. Pendidikan tenaga Pascasarjana 1978
  8. SMP Terbuka
    1. PROYEK TKPD
    2. Eksperimen penggunaan radio untuk pembelaran di SD (Yogyakarta) 1974 – 1976
    3. Eksperimen penggunaan radio untuk penataran guru (Jawa Tengah) 1974 – 1976)
    4. Perintisan siaran radio untuk komunikasi kebijakan (Irian Jaya) 1973 – 1977
    5. Siaran Radio untuk Penatarn Guru di 11 provinsi 1976 – 1984
    6. Pengembangan Sistem Pembelajaran dengan media 1976 – 1980
    7. PAMONG (modul cetak + radio dan Kaset) 1976 – 1980
    8. 5 SD rintisan + 98 SD imbas
      1. SMP Terbuka (1978)
      2. ECD Project (1978 – 1984)
      3. Rural Satellite Project (BKSPT-Intim) 1982 – 1985)
      4. International Workshop on Teaching at a Distance 1982 → konsep awal UT (1984)
      5. Serial TV Pendidikan Watak (ACI 1984)

C. Usaha Pengembangan TIK di Indonesia

Adapun usaha pengembangan TIK yang dilakukan adalah sebagai          berikut:

  1. PROYEK TKPT
  2. ITB – CCTV untuk kelas bersama Smt I
  3. IPB – Pusat Sumberdaya Informasi
  4. UNDIP – CCTV untuk fakultas Kedokteran
    1. ITS – Perintisan siaran televisi lokal
    2. IKIP (Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Malang) – Pusat Sumber Belajar 1976 (mulai tahun 1980 semua IKIP/LPTK)
    3. SISDIKSAT  (BKSPT-INTIM, 16 PT)
    4. (UNHAS,UNM,UNTAD,UNHAL,UNSAM,UNIMA,UNTALO,UNPATI, UNCEN-Jayapura dan Manokwari,UNDANA,UNRAM,UNLAM, UNMUL, UNNUS, UNISA)
      1. PROYEK TKPLS
      2. SRP menunjang KEJAR Paket A di 20 provinsi
      3. SRP untuk pendidikan masyarakat di 5 desa binaan (Pamulihan, Sumedang; Tegaltirto, Sleman; Ronowijayan, Madiun; Pekan Selesai, Langkat; dan Sungai Batang, Pontianak
      4. Kerjasama dengan BKKBN – program radio dan rekaman untuk penyuluhan
        1. Televisi Pendidikan Indonesia (1991 – 2001)
        2. IDLN (1994 – sekarang)
        3. SEAMOLEC (1997 – sekarang)
        4. Nusantara 21 (1997 – 1999)
        5. Telematika (1998 – sekarang)
        6. GDLN (2001 – seterusnya)

10. KKPI -SMK (2004 – sekarang)

11. TVedukasi (2004 – sekarang)

D. Pembentukan Lembaga dan Pengembangannya

Pembentukan lembaga TIK adalah sebagai berikut:

  1. Tim Studi Pra-investasi TKPK 1974
  2. Satuan Tugas Penyelenggara TKPK 1975
  3. Pustekkom 1978
  4. 3 Balai Produksi
  5. 14 Sanggar Pelaksana daerah
    1. Pustekkominfo 2005
    2. 3 Balai Tekkominfo ( di bawah Pustekkominfo)
    3. 33 Balai dan Sanggar Tekkominfo daerah (di bawah Pemda)

Pengembangan lembaga TIK sebagai berikut:

  1. International Workshop on Teaching at a Distance 1972 → menghasilkan naskah akademik untuk Universitas Terbuka
  2. Internasional Seminar on the Use of Domestic Satellite for Development 1974
  3. Serial TV Pendidikan ACI (Aku Cinta Indonesia/Amir,Cici,Ito) 1985
  4. TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) 1991 – 2001
  5. NUSANTARA 21 (di bawah Menteri Perhubungan) 1996
  6. TELEMATIKA (di bawah Menko EKUIN) 1998
  7. TELEMATIKA  (di bawah Wakil Presiden) 2000
  8. IDLN (Indonesia Distance Learning Network) 2002
  9. TV EDUKASI (Pustekkominfo) 2004 dengan misi :

a.      Mencerdaskan masyarakat

b.      Menyajikan keteladanan

c.      Menyebarkan informasi pendidikan

d.    Memotivasi warga masyarakat untuk belajar

Dilakukan :

  • Pembagian Lokal dan Komunitas 100.000 pesawat TV (target semua SMP pada tahun 2008) dan Generator untuk sekolah terpencil tanpa listrik
  • Kerjasama dengan TVRI, TV Lokal dan Komunitas
  • Pembinaan intensif di 25 Provinsi

10. KKPI (Keterampilan Komputer dan Pengelolaan Informasi) – Dikmenjur 2003 untuk semua SMK

11. WAN Kota (Dikmenjur) 2004 diselenggarakan untuk menghubungkan Kantor Pusat dengan 6 lembaga di daerah untuk membangun jaringan yang dapat diakses oleh sekolah dalam jangkauan

12. USO – Kominfo 2003

  1. Desa Berdering 43.000 tahun 2007
  2. Desa Pinter (Punya Internet) semua tahun 2015

13. OSOL (One School One Computer Laboratory) – Depkominfo

38 sekolah (15 SMU, 13 SMP, 4 SD, 4 Pesantren, 2 LPTK) 2005

14. IPTEKNET – Menristek : Jaringan informasi dikoordinasikan oleh Dewan Riset Nasional, yang menghubngkan sumber dan pengguna informasi ilmu pengeta-huan dan teknologi di dalam dan luar negeri

15. DETIKNAS (Dewan Teknologi Informasi dan Komunikasi Nasional) – Ketua Pengarah Presien RI, Ketua harian Menkominfo

  1. Koordinasi nasional
  2. Kebijakan umum dan pola nasional
  3. Kegiatan strategis
  4. Masukan lintas sektoral

16.  Intel Indonesia

  1. Classmate PC : pelatihan profesional guru untuk pembelajaran TIK
  2. Intel Teach : menyediakan konten kurikulum lokal, kerjasam dengan industri lokal untuk koneksi internet; donasikan 100.000 komputer untuk 2000 sekolah; pelatihan 10 juta guru pada tahun 2012

17. ICT Access Point dan Telecenter : kerjasama Badan Litbang DepKominfo dengan Asia Pacific Telecommunity (APT), disponsori oleh JICA, terkoneksi dengan Tokyo dan Keio University.

18. WARINTEK (Warung Informasi Teknologi) – Kantor Menristek kerjasama dengan PJI untuk menyediakan fasilitas layanan informasi dalam berbagai kebutuhan masyarakat.

19. CTC (Community Teleservice Center) – MASTEL (Masyarakat Telematika Indonesia),  dengan misi sebagai berikut: (1) Menyediakan akses informasi yang adil bagi masyarakat; (2) Menciptakan lapangan kerja untuk pertumbuhan ekonomi masyarakat; dan (3) Menyediakan jasa penunjang untuk belajar dan berbagai kebutuhan pembangunan (kesehatan, pertanian dan lain-lain).

E. Potensi dan Peran TIK dalam Pendidikan

Potensi yang perlu dikembangkan agar masyarakat belajar melalui TIK adalah sebagai berikut:

  1. Pengembangan jaringan ke seluruh pelosok indonesia (termasuk menjangkau wilayah kepulauan, terpencil/terisolasi, dan sulit transportasi)à perlu investasi TIK
  2. Sosialisasi di berbagai media dan kesempatan untuk pemanfaat TIK di segala bidang
  3. Penyediaan sarana dan prasarana TIK di seluruh wilayah indonesia (termasuk network ICT)
  4. Saat ini pengguna TIK di indonesia mengalami perkembangan cukup pesat
  5. Pengembangan SDM
  6. Perangkat hukum (peraturan)/Cyber law
  7. Penetrasi komputer di indoensia masih rendah
  8. Memperlebar /memperluas tempat akses internet

Peran yang dapat  dilakukan dalam pemanfaatan TIK untuk pendidikan adalah sebagai berikut:

  1. Lembaga Pemerintah
    1. Peraturan pemanfaatan TIK yang jelas
    2. Kebijakan/regulasi pemanfaatn TIK dalam pendidikan
    3. Menyediakan/menyiapkan sarana dan prasarana TIK yang memadai di seluruh wilayah/daerah
    4. Lembaga Pendidikan
    5. Menyediakan sarana dan prasarana TIK di setiap satuanpenddikan
    6. Menyediakan SDM TIK yang berkualitas
      1. Lembaga Swasta
        1. Kontrol terhadap penyelenggaran pendidikan
        2. Partisipasi dalam pengembangan TIK
        3. Masyarakat
          1. Dukungan terhadap pemanfaatan TIK
          2. Ikut mengawasi penyelenggaraan pendidikan terkait dengan TIK

BAB 3

PENUTUP

Sejarah perjalanan panjang perintisan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang sampai hari ini telah terbentuk lembaga Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Maka dapat ditarik kesimpulan sbb :

  1. Sejarah perjalanan panjang TIK mulai 31 Juli 1951 dalam siaran radio demobilisan;
  2. Pengkajian dan Studi Kelayakan (1968 – 1973); Seminar Sosialisasi dan pelatihan tenaga inti dimulai 1970;
  3. Perkembangan Lembaga, Periode I: pengembangan sistem antara lain: (1) Perumusan kebijakan; (2) Pengembangan tenaga; (3) Penelitian dan perancangan; (4) Perintisan program; (5) Pembentukan organisasi; (6) Pembangunan jaringan kerjasama. Periode II: Pemantapan Sistem, antara lain: (1) Usaha pemantapan kebijakan; (2) Pengukuhan organisasi; (3) Kelengkapan sarana produksi; (4) Peningkatan produksi jumlah & jenis media; (5) Pelatihan tenaga terampil. Periode III: Perluasan Sistem antara lain; (1) Perluasan organisasi; (2) Pembangunan jaringan pengembangan – nasional dan regional; (3) Pendayagunaan teknologi canggih; (4) Peningkatan jumlah program binaan; (5) Pengembangan aneka pola dan media.

Aplikasi dan potensi TIK telah membawa pergeseran pandangan tentang pembelajaran dan peran guru dalam proses pembelajaran di sekolah. Perubahan paradigma dalam proses pembelajaran dari pembelajaran konvensional ke pembelajaran yang beriorientasi pada penerapan TIK akan mempercepat peningkatan kualitas pendidikan yang pada akhirnya dapat mengejar ketertinggalan dari negara-negara lain di dunia.

Penerapan TIK dalam pembelajaran memungkinkan kegiatan belajar mengajar lebih interaktif, simulatif dan lebih menarik. Bagaimanapun banyaknya dampak positif dalam penerapan TIK dalam pembelajaran di sekolah, kita mempunyai tanggungjawab bersama dalam meminimalisasi dampak negatif yang muncul baik secara individual, maupun sosial. Perlu kerjasama (kolaborasi) antara guru di sekolah dan dosen di perguruan tinggi untuk memperbaiki kualitas kurikulum TIK di Indonesia.

About these ads