Model adalah sesuatu yang menggambarkan adanya pola berpikir. Sebuah model biasanya menggambarkan keseluruhan konsep yang saling berkaitan. Dengan kata lain model juga dapat dipandang sebagai upaya dan untuk mengkonkretkan sebuah teori sekaligus juga merupakan sebuah analogi dan representasi dari variable-variabel yang terdapat di dalam teori tersebut.[1] Sedangkan menurut Robins, “A model is an abstraction of reality; a simplified representation of some real-world phenomenon.”[2] Maksud dari definisi tersebut, model merupakan representasi dari beberapa fenomena yang ada di dunia nyata. Definisi model juga diungkapkan oleh Miarso yaitu model adalah representasi suatu proses dalam bentuk grafis dan/atau naratif, dengan menunjukkan unsur-unsur utama serta strukturnya. Dalam hal ini dimungkinkan penafsiran model naratif ke dalam bentuk grafis, atau sebalikny.[3] Jadi dari definisi-definisi tersebut dapat di simpulkan bahwa model merupakan suatu proses pola pikir dan komponen-komponen yang terdapat di dalamnya, yang direpresentasikan dalam bentuk grafis dan/atau naratif.

Dalam desain sistem pembelajaran, model biasanya menggambarkan langkah-langkah atau prosedur yang perlu ditempuh untuk menciptakan aktivitas pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik.[4] Jadi suatu model dalam pengembangan pembelajaran  adalah suatu proses yang sistematik dalam desain, konstruksi, pemanfaatan, pengelolaan, dan evaluasi sistem pembelajaran.

Berdasarkan pada pengertian pengembangan pembelajaran, maka diperlukan sekurang-kurangnya lima kriteria yang harus dipenuhi dalam model pembelajaran yaitu: 1) mempunyai tujuan; 2) keserasian dengan tujuan; 3) sistematik; 4) mempunyai kegiatan evaluasi; dan 5) menyenangkan. Oleh karena itu, sistem pembelajaran dapat diibaratkan sebagai proses produksi yang terdiri dari bagian input-proses-output, yang saling terintegrasi.

Salah satu model pengembangan pembelajaran adalah Model Pengembangan Instruksional (MPI) yang dikembangkan oleh Atwi Suparman (2004)[5], memberikan pedoman untuk mengembangkan pembelajaran, seperti dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar. 2.1 Model Pengembangan Instuksional (Atwi Suparman, 2004)

 

Secara umum MPI menurut Atwi Suparman terdiri dari tiga tahap yaitu tahap mengidentifikasi, tahap mengembangkan, dan tahap mengevaluasi dan merevisi.[6] Adapun tahap-tahap tersebut adalah sebagai berikut:

Tahap Mengidentifikasi
  1. Mengidentifikasi kebutuhan instruksional dan menulis tujuan instruksional umum
  2. Melakukan analisis instruksional
  3. Mengidentifikas perilaku dan karakteristik siswa
Tahap Mengembangkan
  1. Menulis tujuan instruksional khusus
  2. Menulis tes acuan patokan
  3. Menyusun strategi instruksional
  4. Mengembangkan bahan instruksional
Tahap Mengevaluasi dan Merevisi
  1. Mendesain dan melaksanakan evaluasi formatif yang termasuk di dalamnya kegiatan merevisi

Pendekatan MPI dipilih karena pendekatan ini dapat diterapkan baik pada pendidikan formal di sekolah atau perguruan tinggi, maupun pendidikan non formal dan juga model ini cocok untuk mengembangkan pembelajaran virtual pada pelajaran matematika  melalui teori dan praktek secara langsung.

Secara rinci tahap MPI dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. 1.      Mengidentifikasi Kebutuhan Instruksional dan Menulis Tujuan Instruksional Umum

Mengidentifikasi kebutuhan instruksional adalah suatu proses untuk: a) menentukan kesenjangan penampilan siswa yang disebabkan kekurangan kesempatan mendapatkan pendidikan dan pelatihan pada masa lalu; b) mengidentifikasi bentuk kegiatan instruksional yang paling tepat; c) menentukan populasi sasaran yang dapat mengikuti kegiatan instrusional tersebut.[7] Dari kegiatan mengidentifikasi kebutuhan instruksional diperoleh jenis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang tidak pernah dipelajari atau belum dilakukan dengan baik oleh siswa. Jenis pengetahuan, keterampilan, dan sikap tersebut masih bersifat umum atau garis besar saja, yang merupakan hasil belajar yang diharapkan dikuasai siswa setelah pembelajaran. Hasil belajar ini disebut Tujuan Instruksional Umum (TIU), karena sifatnya yang masih umum.[8]

TIU harus dirumuskan dalam kalimat dengan kata kerja dan operasional, yang menunjukan kegiatan yang akan dilihat. Suatu kalimat yang menggungkapkan siswa dapat menjelaskan atau menguraikan sesuatu lebih tepat digunakan daripada siswa dapat mengerti, memahami, atau mengetahui sesuatu. Hal ini dimaksudkan agar tujuan yang akan dicapai dapat diukur sejauh mana kemampuan siswa dalam proses pembelajaran telah mencapai kompetensi atau belum.

  1. 2.      Melakukan Analisis Instruksional

Analisis instruksional adalah proses menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis.[9] Kegiatan tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi perilaku-perilaku khusus yang dapat menggambarkan perilaku umum secara terperinci. Perilaku-perilaku khusus disusun sesuai dengan kedudukannya, misalnya kedudukannya sebagai perilaku prasyarat, perilaku yang menurut urutan gerakan fisik berlangsung lebih dulu, perilaku yang menurut proses psikologi muncul lebih dulu atau secara kronologis terjadi lebih awal.

Maksud dari gambaran dilakukannya analisis instruksional adalah akan tersusun perilaku khusus dari yang paling awal sampai yang paling akhir. Melalui tahap perilaku-perilaku khusus tertentu, siswa akan mencapai perilaku umum. Perilaku khusus yang telah disusun secara sistematis menuju perilaku umum, laksana jalan yang singkat yang harus dilalui siswa untuk mencapai tujuannya yang lebih baik.

  1. 3.      Mengidentifikas Perilaku dan Karakteristik Siswa

Mengidentifikasi perilaku awal siswa dimaksudkan untuk mengetahui siapa kelompok sasaran, populasi sasaran, serta sasaran didik dari kegiatan instruksional. Istilah tersebut digunakan untuk menanyakan siswa yang mana atau siswa sekolah apa, serta sejauh mana pengetahuan dan keterampilan yang telah mereka miliki sehingga dapat mengikuti pelajaran tersebut.[10]

Langkah selanjutnya mengidentifikasi karakteristik siswa yang berhubungan dengan keperluan pengembangan instruksional. Informasi yang dikumpulkan terbatas kepada karakteristik siswa yang ada manfaatnya dalam proses pengembangan instruksional. Misalnya minat siswa, kemampuan siswa dalam membaca bahasa asing, atau informasi lain yang berhubungan dengan pengembangan instruksional.[11]

  1. 4.      Menulis Tujuan Instruksional Khusus

Tujuan Instruksional Khusus (TIK) terjemahan dari specific instructional objective. Literature asing menyebutkan pula sebagai objective atau enabling objective untuk membedakannya dari general instructional objective, goal, atau terminal objective, yang berarti tujuan instructional umum (TIU) atau tujuan instruktional akhir. TIK dirumuskan dalam bentuk kata kerja yang dapat dilihat oleh mata (observable). TIK merupakan satu-satunya dasar untuk menyusun kisi-kisi tes, karena itu TIK harus mengandung unsur-unsur yang dapat memberikan petunjuk kepada penyusun tes agar dapat mengembangkan tes yang benar-benar dapat mengukur perilaku yang terdapat di dalamnya.[12]

Unsur-unsur dalam TIK dikenal dengan ABCD yang berasal dari kata sebagai berikut: A = Audience, B = Behavior, C = Condition,  dan D = Degree.  Audience adalah siswa yang akan belajar, behavior adalah perilaku spesifik yang akan dimunculkan oleh siswa setelah selesai proses belajarnya dalam pelajaran tersebut, condition adalah kondisi atau batasan yang dikenakan kepada siswa atau alat yang digunakan siswa pada saat di tes (bukan pada saat belajar), dan degree adalah tingkat keberhasilah siswa dalam mencapai perilaku tersebut.[13]

  1. 5.      Menulis Tes Acuan Patokan

Tes acuan patokan dimaksudkan untuk mengukur tingkat penguasaan setiap siswa terhadap perilaku yang tercantum dalam TIK. Adapun langkah-langkah dalam menyusun tes acuan patokan adalah sebagai berikut: a) menentukan tujuan tes; b) membuat table spesifikasi untuk setiap tes yaitu daftar perilaku, bobot perilaku, persentase jenis tes, dan jumlah butir tes; c) menulis butir tes; d) merakit tes; e) menulis petunjuk; f) menulis kunci jawaban; g) mengujicobakan tes; h) menganalisis hasil ujicoba; i) merevisi tes.[14]

  1. 6.      Menyusun Strategi Instruksional

Strategi instruksional dalam menyampaikan materi atau isi pelajaran harus secara sistematis, sehingga kemampuan yang diharapkan dapat dikuasi oleh siswa secara efektif dan efisien. Dalam strategi instruksional terkadung empat pengertian sebagai berikut: a) urutan kegiatan instruksional, yaitu urutan kegiatan guru dalam menyampaikan isi pelajaran kepada siswa; b) metode instruksional, yaitu cara guru mengorganisasikan materi pelajaran dan siswa agar terjadi proses belajar secara efektif dan efisien; c) media instruksional, yaitu peralatan dan bajan instruksional yang digunakan guru dan siswa dalam kegiatan instruksional; dan d) waktu yang digunakan dalam menyelesaikan setiap langkah dalam kegiatan instruksional.[15]

  1. 7.      Mengembangkan Bahan Instruksional

Pemilihan format media dalam pembelajaran virtual kadang-kadang tidak sesuai dalam pratek, walaupun secara teori telah dilakukan dengan benar. Untuk itu diperlukan kompromi untuk mendapatkan produk pembelajaran yang sesuai dengan lingkungan belajar.

Tahapan yang akan dicapai dalam mengembangkan bahan instruksional adalah sebagai berikut: a) menjelaskan faktor yang mungkin menyebabkan perbaikan dalam pemilihan media dan sistem penyampaian agar sesuai dengan kegiatan instruksional; b) menjelaskan dan menyebutkan paket dalam komponen instruksional; c) menjelaskan peran desainer dalam pengembangan materi dan penyampaian kegiatan instruksional; d) menjelaskan prosedur untuk mengembangkan bahan instruksional yang sesuai dengan strategi instruksional; e) membuat bahan instruksional berdasarkan strategi instruksional.[16]

  1. Mendesain dan Melaksanakan Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif bertujuan untuk menentukan apa yang harus ditingkatkan atau direvisi agar produk lebih efektif dan lebih efisien. Selain itu, evaluasi formatif sebagai proses mnyediakan dan menggunakan informasi untuk dijadikan dasar pengambilan keputusan dalam rangka meningkatkan kualitas produk atau program instruksional. Tahapan evaluasi formatif adalah sebagai berikut: a) reviu oleh ahli bidang studi di luar tim pengembangan instruksional; b) evaluasi satu-satu (one-to-one evaluation); c) evaluasi kelompok kecil; dan d) ujicoba lapangan. [17]

Pelaksanaan evaluasi formatif belum menjamin terjadinya peningkatan kualitas produk instruksional, bila rekomendasi yang dihasilka evaluasi tidak digunakan untuk merevisi produk instruksional yang dievaluasi. Revisi yang dihasilkan dapat dikelompokkan dalam tiga bidang besar, yaitu: a) isi dari produk instruksional; b) kegiatan instruksional yang meliputi prosedur penggunaan bahan instruksional dan penyajian atau presentasi; dan c) kualitas fisik bahan instruksional.[18]


[1] Benny A. Pribadi, Model Desain Sistem Pembelajaran (Jakarta: Dian Rakyat, 2010), h. 86

[2] Stephen P. Robins, Organizational Behavior: Concepts, Controversies, Applications (New York: Prentice Hall, Inc., 1996), h. 25

[3] Yusufhadi Miarso, “Survei Model Pengembangan Instruksional”, makalah yang disampaikan sebagai bahan ajar kuliah mahasiswa S3 Program Studi Teknologi Pendidika Pascasarjana UNJ, Jakarta, 2011

[4] Pribadi, op.cit, h. 86

[5] M. Atwi Suparman, Desain Instruksional (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka, 2004), h. 16

[6] Ibid., h. 14

[7] Ibid., h. 79

[8] Ibid., h. 89

[9] Ibid., hh. 120-121

[10] Ibid., h. 145

[11] Ibid., hh. 150-151

[12] Ibid., hh. 158-163

[13] Ibid., hh. 163-167

[14] Ibid., hh. 186-197

[15] Ibid., h. 206

[16] Ibid., hh 256-271

[17] Ibid., hh. 276-286

[18] Ibid., hh. 286-287