Sebuah cerita yang sangat mengharukan.. betapa Kasih Sayang dari seorang sahabat kecil ditunjukkan dengan sebuah empati tulus dan pengorbanan.
Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan”.
Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya NISA , tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi goreng. Nisa anak yang cantik,pemberani dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 6 tahun. Dia sangat tidak suka makan goreng ini. Papah dan mamahku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan nasi goreng papah ada “cooling effect”.
Aku mengambil mangkok dan berkata:
“Nisa sayang, demi ayah, maukah kamu makan nasi goreng ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah”.

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Nisa mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata:
“Boleh ayah akan aku makan nasi goreng ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta – agak ragu2 sejenak -“akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku?”.
Aku menjawab: “Oh, pasti sayang”.
Nisa: “Betul ayah?”.
“Yah pasti”. sambil menggenggam tangan anakku yang yang lembut sebagai tanda setuju.
Nisa juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan.
Nisa yang merengek sambil berkata tanpa emosi, “janji” kata istriku.
Aku sedikit khawatir dan berkata:
“Nisa, jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang, cicilan mobil belum selesai, cicilan motor juga belum selesai”.
Nisa: “Jangan khawatir, Nisa tidak minta barang2 mahal kok”.
Kemudian Nisa dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi nasi goreng buatan papahnya itu. Dalam hatiku aku marah sama papah dan mamahku yang memaksa aku untuk makan sesuatu yang tidak disukainya..
Setelah Nisa melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap dan semua perhatian (aku dan istriku ) tertuju kepadanya.
Ternyata Nisa mau kepalanya digundulin pada hari Minggu!
Istriku spontan berkata: “Permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin!”.
Juga papahku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV. Dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.
Aku coba membujuk: “Nisa, kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak?”.
Tapi Nisa tetap dengan pilihannya: “Tidak ada, yah, tak ada keinginan lain”.
Aku coba memohon kepada Nisa:
“Tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami!”.
Nisa, dengan menangis, berkata:
“Ayah sudah melihat bagaimana menderitanya aku menghabiskan nasi goreng itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan aku. Kenapa ayah sekarang mau menarik perkataan Ayah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral,bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya raja rela memberikan tahta, kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri?”.
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku: “Janji kita harus ditepati”.
Secara serentak istriku berkata: “Apakah aku sudah gila?”.
Papah: “Tidak, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Nisa permintaanmu akan kami penuhi”.
Dengan kepala botak, wajah Nisa nampak bundar dan matanya besar dan bagus.
Hari Senin aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Nisa botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.
Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak: “Nisaaaa, tolong tunggu saya”.
Yang mengejutkanku ternyata kepala anak laki2 itu botak, aku berpikir mungkin “botak” model jaman sekarang.
Tanpa memperkenalkan dirinya, seorang wanita keluar dari mobil dan berkata:
“Anak anda, Nisa, benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Haris, adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia”.
Wanita itu berhenti berkata-kata, sejenak aku melihat air matanya mulai meleleh dipipinya:
“Bulan lalu Haris tidak masuk sekolah, karena chemotherapy kepalanya menjadi botak, jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek oleh teman2 sekelasnya. Nah, minggu lalu Nisa datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya, saya betul2 tidak menyangka kalau Nisa mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Haris. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Allah, mempunyai anak perempuan yang berhati mulia”.
Aku berdiri terpaku dan tidak terasa air mataku meleleh. Malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang arti sebuah kasih!
(Sumber: Renungan – YauHui.net)

Iklan