Makalah Mata Kuliah :

PENGEMBANGAN SUMBER BELAJAR

Oleh :

Fadli

  1. A. Pendahuluan

Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses pengembangan potensi individu. Melalui pendidikan, potensi yang dimiliki oleh individu akan diubah menjadi kompetensi. Kompetensi mencerminkan kemampuan dan kecakapan individu dalam melakukan suatu tugas atau pekerjaan. Tugas pendidik atau guru dalam hal ini adalah memfasilitasi anak didik sebagai individu untuk dapat mengembangkan potensi yang dimiliki menjadi kompetensi sesuai dengan cita-citanya.

Keberadaan perpustakaan sebagai salah satu pusat sumber belajar masih kurang mendapat perhatian. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya orang yang datangt  ke perpustakaan untuk memanfaatkan sebagai sumber belajar, khususnya pada perpustakaan Universitas PGRI Palembang. Kondisi ini menyiratkan bahwa perhatian penentu kebijakan di lingkungan universitas belum memprioritaskan perpustakaan sebagai program universitas yang perlu diperhatikan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar.

Secara sederhana pengertian perpustakaan adalah salah satu bentuk organisasi sumber belajar yang menghimpun berbagai informasi dalam bentuk buku dan bukan buku yang dapat dimanfaatkan oleh pemakai (dosen, mahasiswa, dan masyarakat) dalam upaya mengembangkan kemampuan dan kecakapannya. Menurut Wiryokusumo (dalam Darmono, 2004) dengan memanfaatkan perpustakaan dapat diperoleh data atau informasi untuk memecahkan berbagai masalah, sumber untuk menentukan kebijakan tertentu, serta berbagai hal yang sangat penting untuk keperluan belajar.

Jika ditilik dari pengertian tersebut, hakikat perpustakaan adalah pusat sumber bela­jar dan sumber informasi bagi pemakainya. Perpustakaan dapat pula diartikan sebagai tempat kumpulan buku-buku atau tempat buku dihimpun dan diorganisasikan sebagai media belajar siswa. Wafford (dalam Darmono, 2004) menterjemahkan perpustakaan sebagai salah satu organisasi sumber belajar yang menyimpan, mengelola, dan memberikan layanan bahan pustaka baik buku maupun non buku kepada masyarakat tertentu maupun masyarakat umum. Lebih luas lagi pengertian perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan. Jika dikaitkan dengan proses belajar mengajar di perguruan tinggi, perpustakaan memberikan sumbangan yang sangat berharga dalam upaya meningkatkan aktivitas mahasiswa serta meningkatkan kualitas pendidikan dan pengajaran.

Melalui penyediaan perpustakaan, mahasiswa dapat berinteraksi dan terlibat langsung baik secara fisik maupun mental dalam proses belajar. Perpustakaan merupakan bagian integral dari program universitas secara keseluruhan, dimana bersama-sama dengan komponen pendidikan lainnya turut menentukan keberhasilan proses pendidikan dan pengajaran. Melalui perpustakaan mahasiswa dapat mendidik dirinya secara berkesinambungan.

Keberadaan perpustakaan saat ini menjadi sangat penting dengan diberlakukannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Untuk itu perpustakaan perlu dikembangkan sehingga bisa berfungsi sebagai sumber belajar bagi warga kampus, khususnya mahasiswa. Oleh karena itu, makalah ini mengemukakan konsep perpustakaan sebagai sumber belajar dengan fokus pembahasan pada kelembagaan perpustakaan dan pembinaan minat dan kebiasaan membaca di lingkungan Universitas PGRI Palembang untuk mendukung keberadaan perpustakaan sebagai sumber.

  1. B. Kelembagaan Perpustakaan Universitas PGRI Palembang

Perpustakaan Universitas PGRI Palembang, terletak di Gedung G Lantai 2, terdiri dari ruang baca dan ruang sirkulasi. Bila dibanding dengan perpustakaan di perguruan tinggi lain (Perpustakaan Universitas Sriwijaya), tentu sangat jauh tertinggal, baik dari jumlah buku maupun dari kapasitas ruangan koleksi buku.

Gambar 1. Gedung Perpustakaan Universitas PGRI Palembang

Sebenarnya yang paling hakiki dari perpustakaan adalah bagaimana menciptakan kondisi di kampus melalui perpustakaan agar dapat membantu warga kampus dalam proses belajar mengajar. Lebih jauh diharapkan perpustakaan dapat menciptakan atmosfir kampus yang kondousif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran di Universitas PGRI Palembang. Melalui perpustakaan di lingkungan Universitas PGRI Palembang dapat mendorong tumbuhnya daya kreasi dan imajinasi mahasiswa melalui berbagai bacaan yang tersedia di perpustakaan. Untuk bisa menciptakan kondisi tersebut kelembagaaan perpustakaan haruslah dapat mendukung peran dan tugas yang harus diembannya. Secara umum kelembagaan perpustakaan Universitas PGRI Palembang masih mengalami kendala yang disebabkan berbagai faktor sebagai berikut:

  • Belum dipikirkannya posisi pepustakaan Universitas PGRI Palembang sebagai unit yang strategis dalam menunjang proses pembelajaran di Universitas PGRI Palembang.
  • Minimnya dana operasional pengelolaan dan pembinaan perpustakaan di Universitas PGRI Palembang.
  • Terbatasnya sumber daya manusia, dan bahkan amat terbatasnya sumber daya manusia di Universitas PGRI Palembang yang mampu mengelola perpustakaan serta mengembangkannnya sebagai sumber belajar bagi mahasiswa dan dosen.
  • Lemahnya koleksi perpustakaan di Universitas PGRI Palembang.
  • Minat baca mahasiswa yang masih belum menggembirakan.
  • Kepedulian penentu kebijakan terhadap perpustakaan masih kurang, bahkan keberadaan perpustakaan Universitas PGRI Palembang hanya sebagai pelengkap.
  • Masih kurangnya sarana dan prasarana yang diperlukan termasuk dalam hal ini adalah ruang perpustakaan di Universitas PGRI Palembang
  • Belum adanya jam perpustakaan di Universitas PGRI Palembang yang terintegrasi dengan kurikulum.
  • Kegiatan belajar mengajar belum memanfaatkan perpustakaan secara maksimal dalam arti dosen “tidak terlalu sering” memberikan tugas-tugas kepada siswa yang terkait dengan pemanfaatan perpustakaan di Universitas PGRI Palembang.

Untuk mengatasi masalah tersebut perpustakaan Universitas PGRI Palembang memang perlu mendapat perhatian. Universitas perlu melakukan berbagai upaya agar perpustakaan dapat berjalan paling tidak sesuai dengan kondisi yang diharapkan, namun itu semua perlu disesuaikan dengan kondisi dari Univeristas PGRI Palembang. Ada beberapa cara mengatasi atau boleh dikatakan menyiasati dari kondisi yang kurang mendukung. Misalnya masalah ruangan perpustakaan dan tenaga pengelola. Dengan segala keterbatasanya, universitas telah memiliki fasilitas ruang perpustakaan. Masalah dana misalnya, dapat diatasi dengan mengadakan kerjasama dengan pihak ketiga. Perpustakaan perlu mendapat dukungan dana tetap dari pihak ketiga sehingga koleksinya dapat ditambah setiap periode tertentu. Tanpa ada penyegaran koleksi perpustakaan menjadi kering dan kurang menarik minat mahasiswa untuk datang dan memanfaatkannya.

Gambar 2. Ruang Perpustakaan Universitas PGRI Palembang

Beberapa pakar bidang perpustakaan mengatakan mendirikan perpustaakaan itu mudah, tetapi untuk menjaga kelangsungnya diperlukan kerja serius dengan program yang jelas dan terarah. Karena dalam pelaksanannya banyak tantangan dan itu harus diatasi agar perpustakaan terus dapat berfungsi sebagai sumber belajar.

  1. C. Strategi Pengembangan Perpustakaan Universitas PGRI Palembang

Melihat fungsi perpustakaan di Universitas PGRI Palembang yang demikian penting dan melihat kenyatan bahwa pengelolaan perpustakaan belum berjalan dengan baik, untuk itu diperlukan strategi pengembangan perpustakaan dengan baik. Tentunya pengembangan perpustakaan di Universitas PGRI Palembang harus berangkat dari inisiatif sendiri. Adapun pengembangan perpustakaan di Universitas PGRI Palembang yang harus dilakukan meliputi hal-hal sebagai berikut:

  • Status organisasi

Perlu ada pemantapam status organisasi atau kelembagaan perpustakaan di Universitas PGRI Palembang

  • Pembiayaan

Perlu adanya anggaran yang memadai yang dapat digunakan untuk operasional perpustakaan di lingkungan Universitas PGRI Palembang

  • Gedung dan atau ruang perpustakaan

Perlu ada ruangan yang representatif sehingga keberadaan perpustakaan Universitas PGRI Palembang mampu menunjang kegiatan pembelajaran di kampus

  • Koleksi bahan pustaka

Koleksi bahan pustaka perlu disesuaikan dengan kebutuhan minimun yang mengacu pada kurikulum dan kegiatan ekstra kurikuler di Universitas PGRI Palembang

  • Peralatan dan perlengkapan

Perlu disesuiakn dengan kebutuhan perpustakaan di Universitas PGRI Palembang sehingga perpustakaan dapat berjalan dengan baik

  • Tenaga perpustakaan

Mempunyai kualifikasi yang memadahi untuk pengelolaan perpustakaan Universitas PGRI Palembang

  • Layanan perpustakaan

Disesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa. Jika mungkin ada layanan diluar jam-jam belajar mahasiswa, sehingga mahasiswa dapat memanfaaatkan perpustakaan dengan baik.

  • Promosi

Perlu dilakukan dengan berbagai cara agar perpustakaan Universitas PGRI Palembang menarik bagi mahasiswa.

  1. D. Peluang Pengembangan Perpustakaan Universitas PGRI Palembang

Sebenarnya peluang untuk lebih memberdayakan perpustakaan telah terbuka. Beberapa kondisi yang saat ini dapat mendukung pengembangan perpustakaan telah ada seperti:

  • Adanya UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang merupakan dasar pijkakan kita dan memungkinkan semua lembaga pendidikan formal didukung oleh sarana dan prasarana (termasuk perpustakaan),
  • Adanya Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
  • Pemberlakuan kurikulum Tahun 2006 tentang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang menuntut dosen untuk mengembangkan indikator pembelajaran sesuai dengan kebutuhan pembelajaran. Untuk itu perguruan tinggi perlu didukung dengan perpustakaan secara memadai.
  • Adanya metode pengajaran yang melibatkan mahasiswa secara aktif. Dalam metode ini mahasiswa dituntut untuk mengembangkan, dan memperdalam sendiri materi yang telah disampaikan oleh dosen. Dalam kondisi ini maka peran perpustakaan sangat besar untuk membantu mahasiswa dalam memperkaya kasanah pengetahuannya.
  • Adanya kebijakan permerintah untuk menggalakkan minat baca dengan mengambil even-even tertentu seperti tanggal 2 Mei sebagai hari Pendidikan Nasional dan sekaligus sebagai even bulan buku, tanggal 14 September sebagai hari Aksara Internasional, momentum ini sekaligus dimanfaatkan sebagai bulan gemar membaca dan hari kunjung perpustakaan, 28 Oktober sebagai hari Sumpah Pemuda dan sekaligus bulan bahasa. Kegiatan tersebut secara langsung maupun tidak langsung terkait dengan perpustakaan, Momen ini sangat baik untuk kegiatan promosi dan pemasyarakatan perpustakaan serta pengembangan minat baca mahasiswa.
  • Kebijakan pemerintah/pemerintah daerah untuk memberikan subsidi buku baik buku pelajaran maupun buku bacaan kepada setiap perpustakaan
  • Tumbuhnya berbagai partisipasi masyarakat yang berkaitan dengan minat baca, perbukuan, dan perpustakaan, seperti Gerakan Waqaf Buku, Kelompok Masyarakat Pecinta Buku (KMPB), Klub Perpustakaan, dan Kelompok Pecinta Bacaan Anak.

Jika perpustakaan Universitas PGRI Palembang akan difungsikan sebagai penunjang proses belajar mahasiswa, maka perlu ada upaya untuk lebih mendayagunakan perpustakaan tersebut. Berikut ini beberapa cara untuk lebih memberdayakan keberadaan perpustakaan di lingkungan Universitas PGRI Palembang:

  • perlu upaya untuk menciptakan “penguatan kelembagaan” terhadap perpustakaan Universitas PGRI Palembang
  • perlunya diciptakan pengajaran yang terkait dengan pemanfaatan fasilitas yang tersedia di perpustakaan Universitas PGRI Palembang
  • perlu upaya melibatkan dosen dalam pemilihan koleksi buku perpustakaan yang akan dibeli, sehingga dosen tahu koleksi yang demiliki perpustakaan Universitas PGRI Palembang
  • perlu diupayakan adanya jam belajar di perpustakaan, sehingga mahasiswa terbiasa memanfaatkan perpustakaan Universitas PGRI Palembang
  • promosi dan pemasyarakatan perpustakaan dengan mengambil even-even khusus seperti pada hari peringatan nasional
  • perlunya pemberian rangsangan kepada mahasiswa agar termotivasi untuk memanfaatkan perpustakaan Universitas PGRI Palembang, misalnya penghargaan terhadap mahasiswa yang meminjam buku paling banyak dalam kurun waktu tertentu.
  1. E. Perpustakaan Universitas PGRI Palembang yang Ideal

Perpustakaan Universitas PGRI Palembang yang baik memang bersifat relatif, namun demikian bukan berarti kriteria tersebut tidak bisa dirumuskan sama sekali. Sifat relatif ini disebabkan oleh kondisi dari Universitas PGRI Palembang. Ada perguruan tinggi yang mempunyai sarana yang lengkap sedangkan pada sisi lain masih ada perguruan tinggi yang sarana pendukungnya kurang lengkap.

Berikut ini beberapa kriteria dari “perpustakaan Universitas PGRI Palembang yang ideal” yang dapat berfungsi sebagai sumber belajar mahasiswa secara memadai, yaitu :

  • adanya status kelembagaan yang kuat dari perpustakaan
  • struktur oraganisasi perpustakaan jelas dan berjalan dengan baik
  • memiliki ruangan yang memadai sesuai dengan jumlah mahasiswa, bersih, dan penyinaranya cukup
  • memiliki tempat baca yang memadai
  • miliki perabot perpustakaan secara memadai
  • partisipasi pemakainya (mahasiswa dan dosen) baik dan aktif
  • jenis koleksinya mencerminkan komposisi yang baik antara buku teks dengan buku fiksi, yaitu 40% untuk buku teks, 30% buku-buku pengayaan, dan 30% buku fiksi serta judul buku yang dimiliki bervariasi
  • koleksi yang dimiliki sesuai dengan kebutuhan kurikulum perguruan tinggi
  • memiliki tenaga pengelola dengan kompetensi yang memadai
  • pengorganisasian koleksinya teratur
  • didukung dengan teknologi informasi dan komunkasi
  • administrasi perpustakaanya tertib yang meliputi administrasi keanggotaan, administrasi inventaris buku dan perabot, peminjaman, penyusutan, penambahan buku, statistik peminjaman
  • memiliki sarana penelusuran informasi yang baik
  • memiliki peraturan perpustakaan
  • memiliki program pengembangan secara jelas dan terarah
  • memiliki program keberaksaraan informasi (literasi infomasi)
  • memiliki program pengembangan minat membaca dikalangan mahasiswa
  • memiliki program mitra perpustakaan
  • melakukan kegiatan promosi dan pemasyarakatan perpustakaan
  • kegiatan perpustakaan terintegrasi dengan kurikulum dan kegiatan belajar
  • memiliki anggaran perpustakaan secara tetap
  • adanya kerjasama dengan perpustakaan lain
  • pelayanannya menyenangkan
  • ada jam perpustakaan di Universitas PGRI Palembang yang terintegrasi dalam kurikulum

Parameter tersebut tentunya tidak bisa diterapkan bila tidak ada dukungan dari pihak yayasan PGRI sebagai pengelola. Dengan parameter tersebut pihak Universitas PGRI Palembang dapat mengembangkan perpustakaan Universitas PGRI Palembang secara ideal.

  1. F. Pengembangan Kebiasaan Membaca Mahasiswa melalui Perpustakaan Universitas PGRI Palembang

Untuk mengembangkan perpustakaan sebagai sumber belajar perlu diciptakaan atmosfir kampus yang menunjang. Salah satu upaya yang perlu dilakukan adalah adanya pengembangan program kebiasaan membaca untuk menumbuhkan minat membaca mahasiswa. Diharapkan penyediaan sarana untuk peningkatan kegemaran membaca mahasiswa akan berpengaruh positif terhadap peningkatan keterampilan membaca. Keterampilan membaca dan dan kegemaran membaca memiliki hubungan yang saling mendukung. Upaya-upaya peningkatan minta membaca perlu dilakukan baik oleh dosen dengan tujuan agar mahasiswa mempunyai kemauan untuk melakukan kegiatan membaca sesering mungkin di luar kelas. Pada lingkungan kampus, perpustakaan mempunyai peran yang sangat strategis dalam hal penyediaan fasilitas untuk meningktkan minat baca mahasiswa.

Minat dan kegemaran membaca tidak dengan sendirinya dimiliki oleh seseorang, termasuk mahasiswa. Minat baca dapat tumbuh dan berkembang dengan cara dibentuk. Dalam kaitan ini dapat kita simak teori rangsangan dan dorongan. Dorongan adalah daya motivasional yang mendorong lahirnya perilaku yang mengarah pada pencapaian suatu tujuan. Dorongan yang dimaksud adalah motivasi tidak hanya untuk perilaku tertentu saja, melainkan perilaku apa saja yang berkaitan dengan kebutuhan dasar yang diinginkan seseorang. Dorongan-dorongan tersebut dapat muncul dari dalam diri orang tersebut atau dapat dirangsang dari luar.

Memperhatikan asal dari dorongan untuk berperilaku, dapat diprediksikan bahwa minat dan kegemaran membaca itu timbul dalam diri sendiri maupun dari orang-orang lain di lingkungan sekitar. Oleh sebab itu upaya untuk mengangkat program peningkatan minat dan kegemaran membaca perlu melibatkan unsur-unsur berikut ini:

  • lembaga-lembaga masyarakat yang berminat terhadap pengembangan minat dan kegemaran membaca, misalnya dengan mendirikan pondok baca.
  • pemerintah melalui berbagai program yang dikembangkan, seperti adanya kegiatan bulan buku nasional pada setiap bulan Mei, hari Aksara Internasional pada setiap bulan September, hari kunjung perpustakaan yang jatuh pada bulan September, kegiatan tersebut bisa dikaitkan dengan pembinaan minat dan kegemaran membaca

Motivasi yang berasal dari diri sendiri merupakan dorongan yang bersifat internal, sedangkan dorongan dari pihak lainnya bersifat eksternal. Dengan kata lain bila akan merumuskan strategi peningkatan minat dan kegemaran membaca mahasiswa maka dua model strategi tersebut patut dipertimbangkan, yaitu model strategi yang didasarkan pada motivasi internal dan model yang digerakkan oleh motivasi eksternal

Sekurang-kurangnya terdapat tiga dimensi pengembangan minat dan kegemaran membaca yang perlu dipertimbangkan yaitu:

  • Dimensi edukatif pedagogik

Dimensi ini menekankan tindak-tindak motivasional apa yang dilakukan para dosen di kelas, untuk semua bidang studi yang akhirnya para mahasiswa tertarik dan memiliki minat terhadap kegiatan membaca untuk tujuan apa saja. Paradigma pengajaran saat ini adalah berpusat pada mahasiswa, maka pengembangan minat baca hendaknya dimulai dari aktivitas belajar sehari-hari di kelas

  • Dimensi sosio kultural

Dimensi ini mengandung makna bahwa minat baca mahasiswa dapat digalakkan berdasarkan hubungan-hubungan sosial dan kebiasaan mahasiswa sebagai anggota masyarakat. Misalnya dalam masyarakat paternalistik, orang tua atau pemimpin selalu menjadi panutan. Dalam hal ini jika yang dijadikan panutan memiliki minat baca maka dapat diprediksi bahwa mahasiswa juga dengan sendirinya terbawa situasi tersebut, artinya anak akan memiliki sikap dan kegemaran membaca

  • Dimensi perkembangan psikologis nahasiswa

Pada masa ini perlu dipertimbangkan secara sungguh-sungguh dalam upaya memotivasi kegemaran membaca mahasiswa. Pengamatan membaca yang jitu biasanya melalui ilustrasi gambar. Penalaran intelektual mudah dirangsang melalui diskripsi yang dikotomis, argumentasi yang menggugah

Peran perpustakaan sangat sentral dalam membina dan menumbuhkan kesadaran membaca. Kegiatan membaca tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan tersedianya bahan bacaan yang memadai baik dalam segi jumlah maupun dalam kualitas bacaan. Pada aspek lain minat baca senantiasa perlu dikembangkan. Di lingkungan mahasiswa usaha pengembangan minat baca dapat dilakukan dengan prinsip jenjang dan pikat. Prinsip pertama perlu adanya usaha untuk memikat pengguna untuk mulai menyenangi kegiatan membaca. Prinsip kedua perlu ada upaya untuk mengkondisikan perlunya penyediaan meteri bacaan yang sesuai dengan perkembangan mahasiswa yang dapat memperkuat minat baca mahasiswa, yang senantiasa terus mendorong mahasiswac untuk maju menuju pada kegiatan membaca yang berkualitas.

Beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kegemaran membaca siswa melalui perpustakaan adalah:

  • Menyediakan bahan bacaan yang diminati mahasiswa
  • Menjadikan perpustakaan Universitas PGRI Palembang sebagai tempat yang menyenangkan bagi mahasiswa melalui penataan yang bagus, dengan pelayanan yang ramah
  • Membuat promosi dan kegiatan pengembangan minat dan kegemaran membaca dengan memanfaatkan perpustakaan Universitas PGRI Palembang
  • Memberikan tugas tambahan kepada mahasiswa di luar kelas. Pemberian tugas tambahan ini tentunya berkaitan dengan terbatasnya jam pelajaran di dalam kelas. Oleh sebab itu dosen sebaiknya senantiasa mendorong mahasiswa untuk lebih banyak membaca di luar jam-jam perkuliahan (di rumah). Tugas membaca dapat dipantau dengan membuat laporan, resensi buku, atau membuat laporan garis besar isi buku yang telah dibacanya (sinopsis) dengan memanfaatkan bacaan yang tersedia di perpustakaan Universitas PGRI Palembang.
  1. G. Penutup

Dari uraian yang serba ringkas tersebut dapat ditarik benang merah bahwa dalam lingkungan Universitas PGRI Palembang, kegiatan belajar perlu didukung oleh sarana yang memadai, salah satunya adalah perpustakaan yang berfungsi sebagai sumber belajar mahasiswa. Sebagai sumber belajar perpustakaan Universitas PGRI Palembang mengemban beberapa fungsi yang amat fital. Fungsi perpustakaan tersebut akan dapat berjalan dengan baik apabila didukung oleh beberapa hal seperti:

  • pengembangan koleksi yang sesuai
  • organisasi dan penguatan kelembagaan perpustakaan
  • pelayanan, penyediaan sarana dan prasarana
  • program promosi dan pengembangan perpustakaan

Keberadaan perpustakaan Universitas PGRI Palembang perlu ditangani secara baik dan memadai. Untuk itu diperlukan kemauan dari berbagai pihak untuk mengembangkannya yaitu penentu kebijakan pada tingkat departemen, tingkat daerah, tingkat perguruan tinggi (yayasan, pengelola, rektor, dekan, dosen, dan  pengelola perpustakaan).

☻☺♥☺☻

REFERENSI

Darmono, 2002. Menjadi Pintar: Memanfaatkan Perpustakaan Sekolah Sebagai Sumber Belajar. Malang: UM Press.

———–, 2004. Manajemen dan tata kerja perpustakaan sekolah. Cetakan ke-2. Jakarta: Gramedia.

Hardjono, AR. Langkah-langkah Pengembangan Perpustakaan (http://www.blog.hardjono.com diakses pada tanggal 4 November 2008)

Kamarga, Hanny. 2002. Menumbuhkan Minat Baca bagi Anak. Jakarta: Inti Media

Nasution, A.S. 1998. Perpustakaan Sekolah. Petunjuk untuk Membina dan Memelihara Perpustakaan Sekolah. Jakarta : Pusat Pembinaan Perpustakaan Depdiknas.

Nusa, Ramadhan. 2006. Perpustakaan dan Minat Membaca bagi Anaka. (http://www.geocities.com/Nusa2006/indek-1.html diakses pada tanggal                   4 November 2008)

Purbo, Jaya. 2001. Masyarakat Pengguna Perpustakaan di Indonesia (http://www.geocities.com/inrecent/project.html diakses pada tanggal                   4 November 2008)

Iklan