(Cerpen si Ika, mhs yg sedang jatuh cinta)

Bulan dan bintang kini telah hilang, kelelawar pun telah tertidur lelap, kokokan ayam bersahut-sahutan membangunkan semua makhluk yang ada dimuka bumi ini. Sepercik embun kini telah membasahi jendela kamarku, dan seberkas sinar matahari juga telah memusnahkan kegelapan

Tentunya tidak memusnahkan aku yang saat ini sedang memasang tali sepatuku. Setelah memakai sepatu aku pun siap untuk berangkat ke kampus dan tak lama kemudian aku pamit sama mama untuk berangkat kekampus. Dimata teman-teman dan dosen, aku adalah anak yang baik dan ramah kepada orangtua, tetapi satu bulan terakhir ini aku sering menjadi bahan omongan orang lain. Kata mereka aku berubah menjadi anak yang pemurung, tidak suka berkumpul dengan teman-teman, bahkan aku sekarang suka marah-marah yang tak jelas sebabnya.

“Pagi Cinta,” sapa seorang temanku, tetapi aku tidak menghiraukannya, dan aku terus berjalan menuju kelasku.

Kriiiiiiiiiiiiiiiiiiiingg, bel pulang pun berbunyi. Aku pun pulang dengan lelah sekali sesampainya dirumah, aku melihat mama yang sedang sibuk mengerjakan tugas kantornya, tiba-tiba mama terkejut karena bunyi gelas yang tanpa sengaja aku jatuhkan.

“Cinta…, kamu sudah pulang? Kenapa tidak mengucapkan salam terlebih dahulu,” kata mama kepadaku.

“Ah, mama kan sedang sibuk, mana mungkin aku ganggu,” ujarku menjawab pertanyaan mama.

“Kamu sudah lupa pesan papa ya?” Tanya mama. “Untuk menjadi anak yang baik…,” lanjut mama.

“Argggh, lagi-lagi mama mengatakan itu,”jawabku memotong perkataan mama.

“Semenjak kejadian penangkapan papa satu bulan lalu kau selalu menolak jika mama mengungkit tentang papa, kenapa?” Tanya mama lagi. “Aku selalu tidak ingin mengingat papa yang kelakuannya seperti hewan buas,” jawabku dengan nada tidak senang.

Suatu ketika dikantin aku diminta oleh Ranti, teman akrabku dikampus yang kebetulan seorang redaksi disuatu majalah untuk membuat tips-tips untuk bahan majalah minggu depan.

“Cinta,” panggil Ranti.

“Aku minta tolong dong, kamu buatin tips-tips cara bergaul yang baik, dan bagaimana agar dapat dipercaya orang lain, ini untuk majalah minggu depan, tolong ya?” cerocos Ranti padaku sehingga lamunanku buyar.

“hm, maaf Ran, sepertinya aku tidak bisa melakukan itu. Saya harap kamu bisa mengerti, kamubisa menyuruh Tika, atau yang lain,” ujarku.

“Lho kenapa? Biasanya kamu mau kalau membuat tips-tips seperti ini?” Tanya Ranti heran.

“Sekali lagi aku minta maaf Ran, kali ini aku benar-benar tidak mau melakukan apapun,” Tolakku tanpa bermaksud memotong pembicaraan Ranti.

Aku merasa teman-temanku melihat tingkahku yang aneh seperti ini. Biarlah, ujarku dalam hati. Sepulang dari kampus aku tidak langsung pulang kerumah, karena aku juga bingung dengan apa yang sudah aku lakukan selama ini. Aku merasa aku sudah membuat orang mengkhawatirkan diriku. Tapi saat aku pulang kerumah, selangkah aku menginjakkan kakiku, aku melihat mama sedang berbicara dengan seorang perempuan yang wajahnya sangat tidak asing, yah mama sedang berbicara dengan Ranti.

“Jadi apa tante yang membuat Cinta jadi seperti itu”

“Entahlah, memang akhir-akhir ini Cinta banyak berubah.”

“Coba tante memberikan penertian kepada Cinta agar dapat merubah sikapnya, karena jika begini terus bias-bisa kuliah Cinta akan terganggu.”

“Dia berubah semenjak penangkapan papanya.” Itulah beberapa percakapan antara mama dan Ranti. Ternyata jelas, aku pun berfikir tak mengerti atas perubahan sikapku.

Suatu ketika aku pulang dari kampus, kulihat suasana rumah sepi, dan kucari disemua ruangan dan sudut rumah ternyata mama tidak ada, ah paling mama ke kantor pikirku, tapi hari ini kan mama libur. Saat aku kekamar, aku melihat mama menangis dan kulihat ditangannya ada sebuah buku diaryku dan akupun mendekati mama, lalu kuambil diaryku dari tangan mama dan ku lihat, “Hari ini aku melihat papa bersama perempuan yang sebaya denganku, aku begitu kesal melihatnya, papa telah menyakiti perasaan mama, maafkan aku papa, aku melakukan ini karena aku benar-benar saying sama mama, entah sampai kapan aku menyimpan rasa bersalahku ini kepada mama.”

Tanpa pikir panjang aku bersujud dikaki mama,”mamafkan Cinta mama…Cinta tidak bermaksud meracuni perempuan itu,” kataku sambil terbata-bata.

“Tahukah kamu nak, perempuan yang kamu lihat itu adalah keponakan papamu sendiri, itu sepupumu, oleh karena itu papamu saat itu sangat sayang pada perempuan itu sama seperti pada anaknya sendiri, sama seperti beliau sayang padamu.” Lanjut mama sambil berlinangan air mata.

Mendengar semua itu aku syok berat. “mama, apakah papa marah padaku? Apakah Tuhan murka padaku? Aku telah durhaka pada papa!!!” teriakku histeris.

Mama hanya bisa menangis dan hanya bisa menyesali. Mama hanya bisa berkata,”Ya Allah ampuni dosa dan kesalahan anakku, ampuni perbuatan anakku,” tangis mama pun kian menjadi.

Setelah itu aku dan mama pun pergi menjenguk papa di lembaga permasyarakatan yang kurang lebih berjarak 2 Km dari rumahku, dan setelah itu aku dan mama pergi kepemakaman Intan sepupuku.

“Intan maafkan aku, maafkan aku Intan…,” teriakku sambil memeluk pemakaman Intan. Dan ketika hari sudah beranjak sore kami pun pulang. Dan aku pun selalu di hantui rasa bersalah setelah kejadian itu.***

Iklan