(Novel si ika, mhs yg manis n centil)

Andai saja aku tak pernah mengalami kejadian dua tahun lalu, mungkin gak akan kayak gini jadinya hubungan persahabatan antara aku dan karisa. Dan seandainya juga aku dan teman-temanku tidak menganggap remeh segala yang berkaitan dengan penyakit. Atau memang karisa yang gak mau mengerti alasan yang sebenarnya dariku. Dan seandainya saja kejadian tahun lalu tidak ada, mungkin karisa tidak akan menjadi sebenci ini dengan aku. Karisa yang dulu adalah teman satu sekolah denganku.

Semuanya berawal sejak kepindahanku kesekolah SMA Harapan Bunda. Dua tahun lalu aku, karisa, dan empat temanku bersahabat sangat dekat. Kami membentuk sebuah kelompok yang kami namakan sixway yaitu enam jalan, yah dari artinya kita bisa menyimpulkan dari enam jalan tersebut pasti memiliki arah dan tujuan yang berbeda-beda, ketika kami lulus dari SMA tersebut kami melanjutkan ke universitas yang berbeda, namun ada salah satu dari teman kami yaitu Via memutuskan bekerja di Batam. Kami berlima mengikuti tes di universitas negeri di kota ini namun hanya satu dari kami yang lulus yaitu intan. Rapika memutuskan untuk melanjutkan study ke fakultas kedokteran di Lampung, begitu juga dengan Lita yang melanjutkan kuliah di universitas tempat ibu nya mengajar, Tersisalah aku dan karisa. Karena kedekatan kami berdua melebihi teman-teman yang lain, sehingga kami memutuskan untuk kuliah di universitas yang sama. Saat itu karisa sering bercerita tentang penyakitnya yang ku anggap tidak begitu penting karena aku benar-benar tidak mengerti kalau penyakit itu bisa membahayakan diri seseorang apalagi seorang wanita. Sampai suatu kejadian yang membukakan mataku untuk tidak mengulangi segala kesalahanku lagi

***

Dua tahun lalu

Hatiku benar-benar sangat berbunga-bunga hari ini, karena urusan kepindahanku dari sekolah lamaku sudah selesai.

“dik, kata tante Beti,besok adek udah bisa mulai sekolah kalau adik udah siap!”Ucap mama sambil menyelimutiku saat aku sudah hampir terlelap.

“iya, ma.adik udah siap kok,malah udah gak sabar.hehe”sautku sambil menarik selimut.

Aku benar-benar bahagia, bahkan rasanya aku ingin cepat-cepat menerbitkan matahari, dan membangunkan ayam yang tidur agar cepat-cepat berkokok.

“wah…murid baru nih?” Ungkap seorang cowok dengan anak-anak yang lain ketika aku memasuki kelas baru itu.

“nama aku Kikan, pindahan dari SMA Tunas Jaya” ungkapku saat mengenalkan diri di depan kelas sebagai murid baru.

“Kikan silahkan kamu duduk di depan!”Ujar Bu Beti, tanteku yang juga merupakan wali kelasku, beliau menempatkan aku disalah satu kursi yang ada seorang perempuan berambut pendek yang sedang sibuk memandangiku dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, setelah berkenalan aku memangilnya Citra.

“Kikan,ini ketua kelas XI IPA 3, ibu harap kamu betah berada di kelas ini dan juga menjadi teman yang baik terhadap anak-anak yang lainnya”

Setelah dua mata pelajaran berakhir bel istirahat pun berbunyi, teman-teman yang menyapaku untuk mengajak ke kantin hanya ku balas dengan senyuman. Tak tau mengapa saat itu aku benar-benar kehilangan mood untuk keluar kelas. Sesekali aku melamun.

“duh…gak pernah-pernahnya aku duduk di depan, gimana aku bisa ngobrol atau bertanya dengan teman-temanku, kalau aku duduk benar-benar dekat dengan papan tulis ini.”Ungkapku resah. Aku melihat di sekitar jendela kelasku terdapat sesekali anak-anak kelas lain mengintip untuk melihatku, aku bagai seorang artis yang datang ke sekolah mereka, yups aku hanya bisa bilang begitu untuk memperbaiki moodku.

“teeeeeeeeeeeettt”bel tanda istirahat berakhir.

Yah inilah saat yang paling aku tunggu yaitu pelajaran olahraga, huff ku rasa hanya pelajaran inilah satu-satu nya yang dapat memperbaiki mood ku hari ini.

Sesampainya di sebuah lapangan olahraga yang tidak begitu jauh dari sekolah ku, aku dan teman-teman sekelasku melakukan pemanasan dan selanjutnya dilanjutkan dengan bermain basket. Aku paling tidak suka bermain basket karena itu aku tidak ikut, bukan karena tidak suka sih tapi aku saja yang tidak bisa. Aku hanya duduk di podium lapangan tersebut. Tiba-tiba terhempaslah lamunanku.

“pindahan dari SMA Tunas Jaya yah?” Tanya seorang gadis cantik yang sepertinya teman satu kelasku.

“iya”jawabku

Kami berkenalan, dan obrolan kami pun sudah sangat akrab, gadis ini sangat ramah namanya Rapika dan aku memangilnya Aap, dia teman pertama yang mengajakku ngobrol dan aku terasa tidak asing apabila dekat dengannya.

Seminggu sudah ku jalani di sekolah baru ku ini. Sampai suatu hari Aap mengenalkanku dengan teman-temannya yang berlainan kelas dengan kami, Lita anak kelas XI IPA 1 dan Via anak kelas XI IPA 2. Mulai dari hari itu kami selalu pulang bareng.

Dan suatu hari Via mengajak teman yang satu kelas dengannya yang bernama Karisa, setelah berbincang ternyata rumah Karisa satu arah dan tidak terlalu jauh dari rumahku. Terkadang apabila Aap dijemput oleh papanya via dan lita sering nebeng karena jalan menuju rumah mereka satu arah, dan karena rumahku yang searah dengan karisa jadi aku dan karisa sering pulang bareng. Dari situlah kami mulai akrab, mulai dari kekantin bareng, pulang bareng dan karisa pun sering main kerumahku. Sampai keluargaku dan keluarga karisa pun juga ikut akrab seperti saudara sendiri. Karena umur karisa yang setahun lebih muda dariku jadi aku sudah menganggap karisa seperti adik kandungku.

“kak, ada anak baru dikelasku, namanya intan?”Cerita karisa saat jam istirahat.

“oh…pindahan dari mana dek?”Tanyaku

“katanya sih dari bandung” jawab karisa

Tak lama terlihat via bersama seorang temannya yang memakai sweater orange menghampiri kami. via pun mengenalkan anak itu, dengan wajah bingung aap dan lita yang berada didalam kelasku pun ikut keluar melihat kami bertiga yang sedang ngobrol dengan satu wajah asing.

“temen-temen kenalin ini intan, dia pindahan dari bandung!”Ujar via sambil menyodorkan tangan intan kepada kami satu per satu.

Mulai dari saat itu kemana-mana kami selalu berenam, sampai-sampai apabila salah satu diantara kami ada yang kurang pasti teman-teman lain pada nanyain. Tanpa terasa udah satu tahun kami lalui bersama, baik cerita cinta,sedih,bahagia,keluarga sampai hal kecil dalam diri kami masing-masing pun diantara kami berenam sudah kami ketahui.

Sekarang kami duduk di kelas XII, karena tidak ada perubahan kelas jadi kami tetap di kelas yang sama. Kian hari kami kian jauh mungkin karena sudah terlalu akrab jadi masing-masing dari kami mulai merasa bosan dengan teman yang itu-itu saja. Sehingga kami berenam terpencar menjadi dua bagian, kubu Ayam (aku, karisa, aap) dan kubu Bebek (via, lita, dan intan), hal ini terjadi karena kubu bebek yang sekarang dekat dengan kumpulan anak laki-laki dari kelas Ilmu Sosial…Mereka dikenal

rombongan d’PURE. Yah mulai dari situ kami sudah jarang ngumpul. Tapi karena diantara kami sudah ada ikatan bathin, ciee bisa dibilang begitu. Hari itu lita mengajak aku dan teman-teman yang lain untuk main kerumah intan sepulangnya dari sekolah. Kami berkumpul dirumah intan untuk menyelesaikan masalah antara kami, masalah yang sepele itupun sudah kami selesaikan. Mulai dari hari itu kami mulai akrab kembali walaupun tidak seakrab dulu karena kami udah mulai disibukkan dengan tugas-tugas dan les untuk menghadapi ujian akhir. Tapi aku dan karisa masih tetap akrab, kemana-mana kami selalu berdua. Aku dan karisa setiap ada waktu luang jalan-jalan ke mall dan berwisata kuliner menghabiskan uang jajan.

Gak kerasa Ujian Nasional sudah berakhir.

“kikan, kita mau pake kebaya apa nih buat perpisahan?” Isi sms dari aap semalam saat aku baru saja selesai mandi.

“gak tau ni sai, besok aja kita bicarain sama anak-anak” balasku.

Keesokkan harinya ketika sudah berkumpul disekolah akhirnya kami memutuskan untuk memakai kebaya warna hijau.

Terakhir kami berenam berkumpul disekolah ialah saat acara perpisahan disekolah itu, setelah pengumuman kelulusan kami makan bareng disebuah cafe favorit kami berenam.

“rencananya aku mau kerja dibatam!” Ucap via kepada kami berenam yang sedang menikmati mie ayam lada hitam, menu favorit kami di cafe itu. Imesa cafe itulah tempat favorit kami

“hah,apa! Ujar lita

Yah seperti biasa lita memang loading otaknya agak lambat, mungkin asupan gizi dalam mie ayam tersebut belum sampei ke otak nya.

“kamu serius vi?kenapa gak coba cari kerja disini aja?” intan mencoba membujuk via.

Kami tahu diantara kami berenam yang kelihatan keadaan ekonominya paling sulit adalah via.

“iya tan, aku serius. Kalian udah tau gimana keadaan keluargaku, tapi tenang aja kok walau kita jauh…” Ucap via.

“tapi kita akan selalu dekat dihati..” Jawab kami berlima dengan kompaknya.

Terhitung satu minggu dari hari itu

“tin…tinnn…” Terdengar suara klakson mobil aap.

Yah benar sekali dan langsung saja aku naik, ternyata didalam mobil sudah ada intan dan lita.

“mana karisa?” Tanyaku pada teman-temanku.

“oh…tadi dia sms katanya dia mau periksa kedokter dulu nanti langsung nyusul kerumah via” jelas aap kepadaku.

Tak lama setelah kami sampai karisa datang, aku rasa tidak terjadi apa-apa dengannya karena wajahnya begitu ceria seperti biasanya, jadi kami tidak terlalu bertanya-tanya.

Suasana haru pun muncul saat pelukan terakhir limar mendekap badan kami satu persatu saat dibandara.

“hati-hati yah vi…” Pesanku buat via.

“iyah…guys aku nitip ibu yah!” Ucap via sambil menghela nafas panjang seakan berat untuk meninggalkan kedua orang tuanya.

“tenang sai, kita-kita pasti bakal sering-sering jengukin ibu!” Saut lita dengan senyum manisnya, sampai-sampai membuat semut-semut yang mendengar pingsan.

“daaaaaaaaa daaa viia, we love u!” Kalimat terakhir yang kami berikan saat melihat pesawat via lepas landas.

***

Selang beberapa minggu, kami pun mengantarkan aap kestasiun untuk berangkat kelampung, aap sudah mendapatkan surat panggilan untuk melakukan registrasi di kampusnya. Karisa memberi kabar bahwa lita dan intan pun sudah mulai masuk kuliah dan melakukan ospek. Karisa mengabarkan saat aku berada di jogja untuk megikuti tes salah satu sekolah tinggi kedinasan disana. Tapi sayangnya aku tidak lulus, jadi aku menjalankan target yang kedua. Mama bilang kalau aku tidak lulus terpaksa aku melanjutkan kuliah dikota ini saja. Sepulangnya dari jogja aku main kerumah karisa.

“kak, selama kakak pergi dito nanyain kakak terus tuh…!” Ujar karisa saat sesampainya aku dirumahnya.

“dito? Upsss, iya selama kakak disana kakak hanya satu kali menghubunginya, kakak lupa!” Jawabku.

Dito adalah teman satu kelas karisa, karisa menjodohkan aku dengannya. Dito baik banget, tapi dia gak seganteng rafi ahmad atau cristian sugiono. Dia sangat tinggi kira-kira 170 cm, berkulit hitam saking hitamnya kalo mati lampu nunggu dia senyum baru keliatan. Saat itu teman-temanku tidak suka aku jadian sama dito, hingga akhir nya keluarlah kata-kata dari mulutku yang membuat dito marah padaku. Saat itu acara ulang tahunku yang ke 17 tahun, aku mengadakan makan-makan dirumah. Salah satu temanku bertanya.

“kikan, kamu jadian yah sama dito? Kok bisa sih, kamukan cantik sedangkan dito?” Tanya lani padaku.

“iya sih, tapi aku nerima dia itu iseng aja kok, gak mungkinlah aku mau serius sama cowok kayak dia” jawabku ke lani.

Aku berbohong karena aku tidak suka lani mengejekku seperti itu, aku sebenarnya sayang banget sama dito tapi karena aku malu, sehingga rasa maluku mengalahkan rasa sayangku terhadap dito.

Sampai suatu hari setelah aku putus dari dito, dan aku ingin mengajak dito balikan dito tidak membalas smsku, telpon dari aku juga gak diangkat, wajar sih kalo dia marah sama aku. Tapi karna ada karisa yang selalu menemaniku perlahan aku bisa mulai melupakan dito. Walau sekarang karisa memiliki pacar tapi karisa bisa meluangkan waktunya untuk bersamaku. Sebenarnya aku tidak setuju karisa pacaran sama yuda, habis dia jelek sih, mana dia suka sepak bola. Aku kan ada pengalaman buruk sama laki-laki pecinta bola. Sekarang kami kuliah ditempat yang sama, pada saat opdik pun kami selalu bersama, hingga saat pembagian kelas kami terpisah karena jurusan yang kami ambil berbeda.

“dik, kamu kenal rio?dia semalem sms kakak, dia mau ngajak kakak nonton besok…gimana dik?” Sebuah sms kukirimkan ke karisa

“rio?dia teman sekelasku dulu kak,oh iya dia memang minta nomer hape kakak semalam.yah kalo kakak mau why not?” Balas karisa.

Hari jumat,yups rio menjemputku dikampus, sebelumnya aku sudah pernah liat rio dulu disekolah, dia teman baik nya dito.

Tiba-tiba

“aku udah digerbang depan kampus kamu,kikan! ” isi sms yang dikirim rio.

Setelah jam kuliah berakhir aku bergegas menuju gerbang.

Rio langsung menyodorkan helm dan akupun langsung naik kemotornya.

“waahh, keren juga ni motornya…rio juga wangi banget…humh” gerutuku dalam hati

Dimotor rio mengajakku ngobrol. Rio anaknya asik, dia buat aku nyaman. Selesai nonton dia megajakku makan siomay.

“kayak kenal daerah ini?” Ujarku

“kenapa?” Tanya rio.

“oh gak” jawabku

“uhm, iya inikan daerah dekat rumahnya karisa” aku berkata dalam hati,sambil mengangukkan kepala.

“rio, kita pisah disini aja yah aku masih ada urusan nih?”

“lho kok?udah aku anter aja. Kamu mau kemana nanti aku anter?” Tanya rio.

“oh gak kok aku ada urusan bentar, ntar ngeropitn, lagian ini udah deket kedaerah rumahku” jawabku sambil terbata-bata.

“ya udah kalo gitu, aku bayar dulu ya makanannya” jawab rio sambil menuju kasir.

Lalu Kita pencar, aku suruh dia duluan biar dia gak ngebuntutin aku.

“assalamualaikum…karisa….karisa” teriakku sesampainya dirumah karisa.

“ masuk aja kak…” Terdengar suara karisa dari dalam.

Aku langsung masuk kekamarnya, aku melihat karisa yang sedang merapikan obat-obatnya diatas meja belajarnya.

“obat siapa itu dik?banyak amat” tanyaku polos

“obat karisa kak,tadi karisa abis periksa lagi kedokter.kata dokter…”Belum selesai karisa menjelaskan aku langsung memotong pembicaraannya. Karena bahagia aku sampai-sampai tidak menghiraukan kalau aku belum melepaskan sepatuku.

“kakak bahagia banget dik, rio itu wangi banget, baek, perhatian, motornya juga keren. Pasti dia anak orang kaya ya dek..uhm kayaknya dia korban selanjutnya nih?hihihi gak kok becanda” aku langsung menceritakan semuanya dengan karisa.

“kak, aku harap kakak jangan mainin perasaan rio,kalau kakak cuma kagum dengan hartanya lebih baik kakak temenan aja deh, nanti kayak dito dulu.” Nasihat terlontar dari mulut imut karisa.

“iya yah dik, gara-gara masalah itu teman-teman dito jadi musuhin kakak.”Balasku

Bener banget gara-gara itu temen-temen dito jadi jutek tiap aku lewat depan kelas mereka dulu.

Setelah hari itu aku sudah jarang main kerumah Karisa, paling kalau aap pulang libur kuliah, kami sering kumpul, itupun jarang sekali lengkap. Kami sudah mulai disibukkan dengan tugas kuliah.

Aku dan Rio sudah sebulan ini dekat, tapi hubungan kami tidak ada kejelasan status, malah terkadang Rio sering memancing amarahku dengan mengungkit kesalahanku yang memutuskan Dito, hingga akhirnya aku bosan. Dan tidak pernah lagi berhubungan dengan Rio.

Hingga suatu hari aku menghubungi Karisa lewat sms, tapi gak dibalas,mungkin karisa gak ada pulsa, aku berusaha positive thinking.

Esok harinya aku menelepon Karisa tapi telpon ku di reject berulang kali ku coba tapi hasilnya nihil.

Setelah seminggu kemudian ketika aku selesai les nari, dan setelah aku ganti pakaian. Aku lihat di hp ku ada satu pesan diterima. Yang ternyata dari karisa.

“kenapa kakak baru sms Karisa? mau cerita apalagi? jadian sama siapa lagi? habis mutusin siapa lagi? Karisa capek dengerin cerita kakak. Karisa juga capek harus jadi tong sampah orang yang cuma mau dimengerti tapi gak bisa ngertiin orang! Karisa bosen harus berteman dengan orang yang cuma mau didengar tapi gak mau mendengar!” Pertanyaan karisa yang bertubi-tubi membuat hatiku terasa tercabik-cabik. Aku langsung berlari menuju halte untuk segera pulang.

Aku duduk terdiam didalam bus menuju rumahku

“teringat akan masa lalu yang kita lewati. Terasa indah sejuk meresap didalam sanu bari, walau duka sempat singgah hadapi bersama bahagia hinggapi hatiku…ingatkah kamu saat kita bersedih.ingatkah kamu saat kita bahagia.ingatkah kamu janji bersatu demi kasih sayang kita berdua.” Terdengar sendu suara asap band menyanyikan lagu ingatkah lewat handphone yang sekarang telah basah oleh air mataku.

Sampai dirumah aku hanya bisa menangis, tanpa menghiraukan lagi orang-orang dirumahku. Suasana kamarku hening hanya terdengar desahan panjang.

Aku menarik nafas panjang, dan ku baca lagi sms dari karisa.

“karisa kenapa? Mungkin kata maaf kakak gak cukup buat ngembaliin semua kekecewaan karisa. Tapi kakak benar-benar gak ngerti dengan kata-kata Karisa? cuma Karisa yang kakak punya! Kemana lagi kakak cerita kalau bukan Karisa. Karisa yang kakak kenal gak pernah marah bahkan gak pernah ngomong kasar sedikitpun dengan kakak.” Hanya itu kata-kata yang dapat aku rangkai untuk meringankan sesaknya dada ini karna sms Karisa tadi sore.

“iya kakak emg gak kenal karisa, gmn mau kenal denger cerita Karisa pun gak pernah, karisa gak pernah ngomong kasar sama kakak karna karisa menghargai kakak,tapi apa pernah kakak menghargai perasaan karisa. Kakak juga gak pernah peduli dengan karisa, karisa mau cerita kalau karisa sakit,tapi apa?kakak nanggepinya gitu aja.gak ada sedikitpun rasa peduli.sama kayak yang lain. Kalian itu bukan sahabat yang baik buat karisa.” Begitu kesalnya karisa terungkap dalam sebuah pesan singkat itu.

Air mataku yang sejenak terhenti tiba-tiba jatuh menetes dilayar handphoenku.

Aku rasa karisa masih emosi, mungkin amarahnya memuncak ketika semua orang tidak ada yang peduli dengannya. Gak terasa udah dua bulan aku lalui tanpa Karisa. Karisa pun tidak ada kabar beritanya.

Setahun lebih telah berlalu,

Pagi itu handphone ku berbunyi, aku bergegas mengambilnya dari dalam tasku. Aku mengharapkan karisa menghubungiku. Ternyata

“temand-temand, aap udah dirumah nih! Aku bawain kalian oleh-oleh!” Huh, ternyata vika, langsung kuletakkan kembali handphoneku diatas tempat tidur.

Dari bawah terdengar teriakan seperti memanggil-manggil namaku. Aku bergegas turun, belum juga sempat menarik nafas.

“kikan, ayo cepetan ganti baju, kita mau kerumah aap?wajib ikut.” Ancam intan sambil mendorongku ketangga,untuk segera ganti baju. Akupun segera naik lagi menuju kamar.

“intan tunggu di mobil yah! Ini si lita bawa kabur mobil emaknya.” Teriak intan dari bawah.

Dirumah aap kami hanya membahas tentang karisa, gak ada yang kami bicarain selain dia.

“aku pernah denger kalau karisa ada masalah sama rahimnya, tapi itupun dia gak pernah mau jelasin sebenernya dia sakit apa.”Ujar itan

“ya berarti bukan salah kita dong, dia sendiri yang gak terbuka sama kita. Jadi gimana kita mau care, apa kita harus pura-pura kasihan.” Saut lita

“bener tuh, ntar malah buat dia tersinggung” sambung aap yang muncul dari balik pintu sambil membawa tiga gelas minum.

Bukan hanya aku yang merasa aneh dengan sikap karisa, teman-temanku yang lain juga.

Mungkin Karisa merasa gak ada yang peduli dengannya, padahal gak seperti itu. Kami peduli tapi memang kami ini tidak menunjukkan kepedulian kami dengan hal yang membuat dia merasa dikasihani. Hingga suatu hari kami memutuskan untuk mendatangi rumahnya. Tapi dirumahnya kami hanya menemui pembantunya karisa.

“karisanya ada mbak?” Tanyaku penasaran.

“keluarga disini pergi kejakarta mbak!”Jelas seorang wanita separuh baya itu.

“kejakarta?” Tatap heran ku, kami saling melirik.

“ngapain mbak?” Tanya intan penasaran.

“mbak karisa operasi mbak, tapi ada titipan dari mbak karisa buat mbak kikan.” Jelas pembantu karisa sambil menuju masuk kedalam rumah.

Aku, aap, lita, dan intan hanya bisa saling berpandangan, karena dibenak kami tidak lain hanya ada kumpulan tanda tanya.

“ini mbak suratnya.”Ucap peempuan itu sambil menyodorkan surat.

“kapan karisa pulang?” Tanya lita sambil mengambil sebuah amplop hijau yang berisi sebuah surat.

“saya kurang tau mbak, mungkin akan lama?” jawab perempuan itu.

“oh yasudah terima kasih mbak, kalau ada apa-apa sama Karisa kabari kami kesini yah mbak!” ucap aap sambil memberikan kartu nama.

Sesampainya dimobil aku lagsung membuka amplop hijau itu dan membaca surat yang ditulis oleh Karisa.

Dear kikan,

Maafin karisa. Karisa baru sadar ternyata amarah karisa sama kalian udah kelewatan. Karisa bosan kak, orang-orang selalu bilang tentang kejelekan kakak. Karisa udah berusaha merubah sifat kakak yang suka sesuka hati mainin perasaan teman-teman karisa. Dan karisa juga marah sama kakak, saat karisa benar-benar butuh suport dari kakak, kakak malah memotong pembicaraan karisa dengan menceritakan Rio. Kakak gak tau betapa kecewanya Karisa ketika terlintas dipikiran Karisa kalau kakak itu sepertinya hanya menjadikan karisa pelarian saat kakak sedih, saat karisa sedih,saat karisa butuh kakak,kakak gak pernah ada buat karisa!

Karisa kena kanker rahim kak, karisa udah pernah cerita ini sama intan. Kayaknya intan juga gak peduli, kalian pun bahkan gak ada yang cari tau tentang penyakit karisa. Dari situlah karisa mulai merasa kalian tidak peduli, dan karisa menutup hati karisa buat kalian. Kalian hanya pduli sama via. Kalian gak tau kalau disini ada karisa yang butuh kalian, karisa yang gak punya apa-apa, karisa yang cuma punya cinta untuk kalian. Karisa tau karisa bukan sahabat yang baik

Makanya karisa kirim surat ini sebagai permohonan maaf karisa selama ini yang udah buat temen-temen bingung. Tapi karisa mohon doa kalian, karisa pengen sembuh. Karisa berharap kita bisa bersahabat dan berkumpul seperti dulu lagi.

Salam hangat dan sayang

Sahabatmu,

Karisa putri

Surat itu akhirnya membuat aku mengerti. Mengerti betapa aku egois menjadi seorang sahabat. Aku sekarang hanya bisa melanjutkan hari-hariku sambil menunggu kabar lagi dari karisa. Kabar baik tentang kesembuhan karisa. Walaupun rahim karisa harus diangkat.

Tiga bulan kemudian aku mendapat kabar dari Rapika bahwa karisa masih harus menjalani therapy disana jadi belum bisa pulang.

Tepat enam bulan karisa dijakarta dan kabar terakhir ternyata karisa menolak untuk dioperasi oleh karena itu karisa harus menjalani therapy. Hatiku semakin sedih, setiap hari,setiap saat aku selalu berdoa untuk kesembuhan karisa.

“kikan, kikan…., “terdengar suara mama memanggilku.

“iya ma …ada apa?.” Saut ku yang masih berada dalam selimut

“tadi Aap telpon, katanya sekitar setengah jam lagi dia sampai, jadi kamu harus siap-siap!” Jelas mama.

“iyaaaaaaaaaaaaaaaahh…” Teriakku sambil bergegas bangun lalu mandi.

Tak lama

“tok tok tokk…” Tangan sseorang yang mengetok pintu kamarku.

“iya masuk gak dikunci!” Sautku sambil mengeringkan rambutku yang masih basah.

“cepet banget nyampenya?katanya setengah jam?ini baru 20 menit?” Tanyaku sambil bercanda.

Saat itu kulihat wajah aap, lita, dan intan kusam seperti orang yang habis mendengar suatu kejadian yang paling menyedihkan.

“karisa, pulang sai” jelas aap sambil menangis.

“lho kenapa kamu nangis? Baguskan kalo dia pulang?udah de serius?” Desakku pada aap.

“karisa pulang ki…karisa…”Jelas intan sambil memelukku

“apaa….karisa?…nggak mungkin, kalian pasti bercanda?ini pasti mimpi?” Ujarku.

Aku sangat shock, rasanya ingin kutusuk-tusuk perutku dengan pisau.

“karisa tadi pagi meninggal, setelah melakukan operasi karisa pendarahan. Sabar ya ki?”Jelas aap.

“iya ,kan masih ada kita-kita, via udah kami kabarin tapi dia gak bisa pulang, kita sedih banget ki.” Saut lita sambil ikut mendekap kami bertiga.

Sore ini Karisa dimakamkan di Taman Pemakaman Angrek.

Semuanya sudah mulai meninggalkan pemakaman Karisa., karena belum ingin meninggalkan aku yang sedang benar-benar terpuruk Karena kematian Karisa. aap, lita, dan intan menginap dirumahku.

Besok harinya aku mendatangi lagi pemakaman karisa. Setelah mengantarkan Aap,Lita, dan Intan pulang.

“dik, kakak bener-bener kehilangan adik! Adik tau kakak sekarang gak tau gimana harus menjalani hidup kakak tanpa adik, adik sahabat sekaligus saudara yang sangat kakak banggakan, walaupun ada mereka. Kakak janji bakal nebus segala kesalahan kakak. Kakak harap adik nunggu kakak disana sambil tersenyum, kakak bakal ngejalani hidup ini dan menjadi bagian dari Karisa.” Keluhku pada batu nisan yang bertuliskan nama KARISA PUTRI.

Aku pun meletakkan secarik kertas disamping nisan karisa yang bertuliskan

Kata maaf gak cukup untuk mengganti semua salah

Tak cukup untuk mengganti detak nadimu

Senyum lucu mu

Riang tawamu

Senja…

Telah menjemputmu

Maaf, Karisa !!!

Created by :

Rika Octalisa

Des’2007

Iklan