(Cerpen si Ika, mhs yg lg gundah)

Pagi ini keadaan sudah menjatuhkan mood, ketika bangun tidur disambut dengan tumpukkan pakaian kotor dalam box yang tepat berada didepan tempat tidurku, yupss pakaian-pakaian kotor itu seakan- akan memperingatkanku untuk segera mencuci mereka.

“hoaaaamh…pagiii” ucapku pada cermin dikamar sambil mengusap-ngusap mata.

Aku harap hari ini bisa ku jalani dengan mulus.

“maaa, mama…Bagi duit donk!”teriakku sambil mengetok pintu kamar mama sebelum pergi,suaraku terdengar merdu bagai kicauan burung yang sedang arisan.

Setelah mendapatkan uang jajan, akupun bergegas pergi. Dari kejauhan terlihatlah mobil angkutan umum yang biasa ku tumpangi untuk berangkat kekampus tercinta.berulang kali aku mengusap mataku yang maih terasa berat, smpai akhirnya aku menemukan headset hp ku didalam tas, saat itu munculah ide untuk mendengarkan musik dari hp kesayanganku.

Setelah turun dari angkutan umum aku melanjutkan perjalanan dengan Bus jurusan Lemabang-Plaju begitulah biasanya kondektur Bus berteriak.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam termenung, Aku terbawa suasana dengan lagu-lagu melow di hp ku dan disaat itulah aku meneteskan air mata karena teringat akan banyaknya masalah yang aku hadapi beberapa hari ini. ketika aku melihat kesamping ternyata gerbang kampusku sudah hampir terlewatkan, terhempaslah lamunanku.

“stop pinggir bang!”aku berteriak kepada abang supir.

Aku pun turun dan berjalan menuju kelas. Sesampainya dikelas, aku masih asik dengan lagu yang kudengar, tak sadar ada sosok seorang gadis manis yang duduk didepanku, dia salah satu teman dekatku saat ini, gadis itu bernama Lili, dan sepengelihatanku dia sedang berbicara denganku. Sengaja aku tidak memperdulikannya karena aku lagi kesal padanya karena kejadian semalam.

Semalam aku merasakan keputusasaan, tapi tak ada satu orang pun sahabat-sahabatku yang membalas pesan singkatku, termasuklah Lili.

“nia, Mav semalam aku udah tidur”. Ucap Lili kepadaku yang sama sekali tidak memperdulikannya bicara.

“apa? Apa? Ga’ kedengeran!” jawabku kepada lili sambil menuju keluar kelas, tapa menghiraukannya,karena aku melihat salah satu temanku memanggilku dari luar kelas.

Dan ternyata karena kejadian itu lili marah padaku. Setelah selesai pelajaran Analisis komplek berakhir akupun berdiri diluar kelas  dan terlihatlah lili yang sedang berjalan bersama Tantri. Aku pun langsung mengejarnya dan meminta maaf

“Lili maavvv, li kamu marah beneran yah? Lili?” dessakku pada lili tapi lili hanya terdiam membisu tanpa berucap satu katapun.

Lili tidak pernah bersikap sedingin itu kepadaku, kurasa kali ini dia benar-benar marah padaku, aku sadar aku salah karena tidak mendengarkan lagi penjelasannya tadi.

Aku hanya bisa merengek dan meneteskan air mata didepan Ulfa, yang kebetulan hanya dia yang berada tepat didekatku. Dan kulihat Lili kembali lewat didepanku dan dia masih tetap diam. Lalu aku mengambil hp ku dan kukirim kan satu pesan singkat kepadanya sebelum pulang dan berharap dia mau memaafkanku karena hari ini aku hany mengikuti satu mata kuliah.

“ Lili maav! Kau membuat aku menangis. Keluar dong? Aku ingin cerita!”

tak lama setelah aku mengirim pesan singkat itu, hp ku berbuyi dan kulihat ada satu pesan dari lili yang isinya begitu membuat aku semakin merasa bersalah.

Dengan segera aku menarik tangan ulfa dan mengajak ulfa untuk segera pulang, sampai digerbang kampus aku dan ulfa pun berpencar, karena ulfa ada janji dengan temannya.

“Nia, aku duluan yah? Aku ada janji nih sama temen” tanya ulfa

“hah, umh…iya ga’apa-apa, lagian juga kita ga’ searah” jawabku.

Dengan segera aku menaiki Bus yang menuju rumahku, di Bus aku kembali menggunakan headset dan mendengarkan lagu-lagu melow.

Sambil terisak menangis, orang yang duduk disebelahku bertanya-tanya karena melihat aku menangis, tapi aku tak menghiraukannya.

Yang ada difikiranku saat ini adalah mengapa orang-orang yang kuharapkan dapat mengurangi beban fikiranku malah menambah beban fikiranku, mengapa orang yang ku harap dapat ku andalkan untuk menjadi tempatku bersandar malah membiarkan aku dengan kegundahanku, dan mengapa orang yang kurasa aku selalu menyediakan telingaku untuk mendengarkan keluhnya malah tidak berbuat sebaliknya padaku.

Air mataku terus dan terus mengalir, sesampainya dirumahpun aku masih terisak menagis walau sesekali kutahan karena malu dilihat orang-orang disekitar jalan menuju rumah.

Sesampainya dirumah aku mencuci muka, lalu masuk kekamar dan mulai melihat beberapa pesan yang tak kuhiraukan selama perjalananku dari kampus menuju rumah.

Dan salah satu pesan singkat itu adalah pesan dari Lili yang mengatakan bahwa dia tadi keluar untuk menemuiku. Tapi ternyata aku udah gak ada lagi. Prasaanku benar – benar kacau. Tapi aku mencoba untuk tegar, yah benar sekali masak dengan masalah kecil seperti ini saja aku lemah.

Keesokkan harinya aku pun mencoba bersikap biasa saja. Aku sudah bertekad untuk tidak terlalu larut, mungkin kesedihan yang mendalam ini akibat dari trauma yang pernah ku alami Dua tahun lalu, dimana sahabatku emilia yang sudah meninggalkanku untuk selamanya karena kesalahanku karna bersikap. Dan aku tak mau semua itu terjadi lagi.

———————————————–***—————————————————–

persahabatan itu memang benar – benar ada

Iklan