MATA KULIAH MARTIKULASI

“ORIENTASI BARU DALAM PSIKOLOGI PENDIDIKAN”

1. LINGKUNGAN PEMBELAJARAN YANG EFEKTIF

Pembelajaran adalah suatu perubahan dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalamaman (Driscoll, dalam Slavin: 2008).  Penyediaan lingkungan pembelajaran yang efektif meliputi strategi yang digunakan guru untuk menciptakan pengalaman ruang kelas yang positif dan produktif. Lingkungan pembelajaran tersebut sering disebut manajemen kelas (classroom management), dimana stretegi untuk menyediakan lingkungan pembelajaran yang efektif tidak hanya meliputi mencegah dan menanggapi perilaku yang buruk tetapi juga yang lebih penting menggunakan waktu kelas dengan baik, menciptakan atmosfer yang kondusif bagi minat dan penelitian, dan membolehkan kegiatan yang melibatkan pikiran dan imajinasi siswa. Kelas yang tidak mempunyai masalah perilaku sama sekali tidak dapat dianggap sebagai kelas yang dikelola dengan baik.

Siswa yang berpartisipasi  dalam kegiatan yang ditata dengan baik yang melibatkan minat mereka, yang sangat termotivasi untuk belajar, dan yang mengerjakan tugas-tugas yang menantang namun dalam batas kemampuan mereka jarang membawa satupun masalah manajemen yang serius. Penciptaan lingkungan pembelajaran yang efektif melibatkan pengorganisasian kegiatan di ruang kelas, pengajaran, dan ruang kelas fisik untuk memungkinkan penggunaan waktu yang efektif, menciptakan lingkungan pembelajaran yang bahagia dan produktif, dan meminimalkan gangguan. Disiplin merujuk pada metode yang digunakan untuk mencegah masalah perilaku atau menanggapi masalah perilaku yang ada dengan maksud untuk mengurangi kejadiannya pada masa mendatang.

Penciptaan lingkungan pembelajaran yang efektif adalah soal mengetahui beberapa teknik yang dapat dipelajari dan diterapkan setiap guru. Pendekatan terhadap manajemen ruang kelas dan disiplin yang menekankan pada pencegahan perilaku yang buruk, berdasarkan teori bahwa pengajaran yang efektif itu sendiri adalah sarana terbaik untuk menghindari persoalan disiplin. Pada masa lalu, penciptaan lingkungan pembelajaran yang efektif sering dipandang sebagai soal mengatasi perilaku buruk masing-masing siswa. Pemikiran saat ini menekankan manajemen kelas sebagai keseluruhan dengan cara membuat masing-masing orang yang berperilaku buruk menjadi semakin jarang (Evertson & Harris, 1993). Guru yang menyajikan pelajran yang menarik dan tertata dengan baik, yang mengunakan insentif untuk belajar efektif, yang menyesuaikan pengajaran mereka terhadap tingkat persiapan siswa, dan yang merencakan dan mengelola waktu mereka sendiri dengan efektif akan mempunyai sedikit masalah untuk diatasi.

  1. 2. DAMPAK WAKTU PADA PEMBELAJARAN

Waktu adalah sumber daya terbatas di sekaloah. Sekaloah biasanya melakukan pertemuan sekitar 6 jam per hari selama 180 hari setiap tahun. Waktu untuk kegiatan pendidikan dapat diperpanjang melalui penugasan pekerjaan rumah, tetapi waktu total yang tersedia untuk pengajaran pada dasarnya ditentukan. Dari 6 jam ini harus terdapat waktu untuk mengajarkan berbagai mata pelajaran ditambah dengan waktu untuk istirahat, olahraraga (pendidikan jasmani), peralihan di antara jam pelajaram, pengumuman dan sebagainya. Oleh karena itu banyak alokasi waktu yang hilang. Alokasi waktu adalah waktu yang tersedia bagi siswa untuk mempunyai kesempatan belajar.

Ada beberapa cara untuk meminimalisasikan alokasi waktu yang hilang dalam pengajaran:

  1. Menggunakan semua waktu di ruang kelas dengan baik.
  2. Mencegah permulaan yang terlambat dan penyelesaian dini
  3. Mencegah gangguan  dari dalam atau dari luar
  4. Menangani prosedur rutin
  5. Meminimalkan waktu yang dihabiskan untuk disiplin
  6. Menggunakan waktu sibuk dengan efektif

Oleh karena itu, metode memaksimalkan alokasi waktu meliputi mencegah                   awal pengajaran yang terlambat dan pengakhiran dini, mencegah gangguan, menangani prosedur rutin dengan mulus dan cepat, menimalkan waktu yang dihabiskan                         untuk disiplin, dan menggunakan waktu sibuk dengan efektif. Waktu sibuk adalah              waktu yang digunakan masing-masing siswa yang benar-benar menyelesaikan                  pekerjaan  yang ditugaskan, guru dapat memaksimalkan waktu sibuk dengan             memberikan pelajaran yang memikat, mempertahankan daya gerak, mempertahankan kemulusan pengajaran, mengelola perhatian, mempertahankan fokus                             kelompok, mempraktikan kejelian, dan tupang tindih. Di ruang kelas yang terpusat                 pada siswa, manajemen ruang kelas lebih memungkinkan partisipasi, dengan                siswa yang    terlibat dalam menetapkan standar perilaku, namun peraturan masih diperlukan  dan harus dikomunikasikan secara konsisten dan ditegakkan.

  1. 3. MENCIPTAKAN LINGKUNGAN PEMBELAJARAN YANG KONDUSIF

Salah satu faktor penting yang dapat memaksimalkan kesempatan pembelajaran bagi anak adalah penciptaan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Lingkungan pembelajaran dalam hal ini, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan tempat proses pembelajaran dilaksanakan. Sedangkan kondusif berarti kondisi yang benar-benar sesuai dan mendukung keberlangsungan proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan interaksi antara anak dengan lingkungannya, sehingga pada diri anak terjadi proses pengolahan informasi menjadi pengetahuan, keterampilan dan sikap sebagai hasil dari proses belajar.

Lingkungan belajar dapat diciptakan sedemikian rupa, sehingga dapat memfasilitasi anak dalam melaksanakan kegiatan belajar. Lingkungan belajar dapat merefleksikan ekspektasi yang tinggi bagi kesuksesan seluruh anak secara individual. Dengan demikian, lingkungan belajar merupakan situasi yang direkayasa oleh guru agar proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Menurut Saroni (2006) dalam Kusmoro (2008), lingkungan pembelajaran terdiri atas dua hal utama, yaitu lingkungan fisik dan lingkungan sosial.

Lingkungan fisik dalam hal ini adalah lingkungan yang ada disekitar siswa belajar berupa sarana fisik baik yang ada dilingkup sekolah,  dalam hal ini dalam ruang kelas belajar di sekolah. Lingkungan fisik dapat berupa sarana dan prasarana kelas, pencahayaan, pengudaraan, pewarnaan, alat/media belajar, pajangan serta penataannya. Sedangkan lingkungan sosial merupakan pola interaksi yang terjadi dalam proses pembelajaran. Interaksi yang dimaksud adalah interkasi antar siswa dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan sumber belajar, dan lain sebagainya. Dalam hal ini, lingkungan sosial yang baik memungkinkan adanya interkasi yang proporsional antara guru dan siswa dalam proses pembelajaran.

Menurut Mulyasa (2006), dalam upaya menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif bagi anak, guru harus dapat memberikan kemudahan belajar kepada siswa, menyediakan berbagai sarana dan sumber belajar yang memadai, menyampaikan materi pembelajaran, dan strategi pembelajaran yang memungkinkan siswa belajar. Oleh karena itu, peran guru selayaknya membiasakan pengaturan peran dan tanggung jawab bagi setiap anak terhadap terciptanya lingkungan fisik kelas yang diharapkan dan suasana lingkungan sosial kelas yang menjadikan proses pembelajaran dapat berlangsung secara bermakna. Dengan terciptanya tanggung jawab bersama antara anak dan guru, maka akan tercipta situasi pembelajaran yang kondusif dan bersinergi bagi semua anak (Kusmoro, 2008).

  1. A. Desain Lingkungan fisik

Dalam manajemen kelas efektif, lingkungan fisik merupakan faktor yang sangat penting. Oleh Karena itu, lingkungan fisik harus dapat didesain secara baik dan lebih dari sekedar penataan barang-barang di kelas. Menurut Everston et al.  (dalam Santrock, 2008), terdapat empat prinsip yang dapat dipakai dalam menata kelas, yaitu:

  1. Kurangi kepadatan di tempat lalu lalang. Daerah ini antara lain area belajar kelompok, bangku siswa, meja guru, dan lokasi penyimpanan alat tulis, rak buku, computer dan lokasi lainnya. Area-area harus dapat dipisahkan sejauh mungkin dan dipastikan mudah diakses, karena gangguan dapat terjadi pada daerah yang sering dilewati.
  2. Pastikan bahwa Guru dapat dengan mudah melihat semua anak. Sebagai manajer kelas, guru penting untuk memonitor anak secara cermat. Pastikan ada jarak pandang yang jelas dari meja guru, lokasi instruksional, meja anak, dan semua anak.
  3. Materi Pengajaran dan Perlengkapan anak harus mudah diakses. Hal ini akan meminimalkan waktu persiapan dan perapian, serta mengurangi kelambatan dan gangguan aktivitas.
  4. Pastikan siswa dapat dengan mudah melihat semua presentasi kelas. Tentukan di mana anda dan siswa anda akan berada saat presentasi kelas diadakan. Pada aktivitas ini, anak tidak boleh memindahkan kursi atau menjulurkan lehernya.

Dalam mengorganisasikan ruang fisik kelas, juga sangat ditentukan oleh tipe aktivitas pembelajaran yang direncanakan untuk dilaksanakan oleh anak. Dalam hal ini, perbedaan level kelas, kecepatan materi antar kelas, aktivitas kelompok dan aktivitas individual harus dapat terakomodasi secara fleksibel dalam penataan lingkungan fisik kelas. Menurut Renne (2007) dalam Santrock (2008), penataan kelas standar dapat dilakukan dalam lima gaya penataan, yaitu:

  1. Gaya auditorium, gaya susunan kelas di mana semua siswa duduk menghadap guru.
  2. Gaya tatap muka, gaya susunan kelas di mana siswa saling menghadap.
  3. Gaya off-set, gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya tiga atau empat anak) duduk di bangku, tetapi tidak duduk berhadapan langsung satu sama lain.
  4. Gaya seminar, gaya susunan kelas di mana sejumlah besar siswa (sepuluh atau lebih) duduk disusunan berbentuk lingkaran, atau persegi, atau bentuk U.
  5. Gaya klaster, gaya susunan kelas di mana sejumlah siswa (biasanya empat sampai delapan anak) bekerja dalam kelompok kecil.

Penataan susunan meja yang mengelompok dapat mendorong interaksi sosial di antara siswa. Sedangkan susunan meja yang berbentuk lajur akan mengurangi interaksi sosial di antara siswa dan mengarahkan perhatian siswa kepada guru. penataan meja dalam lajur-lajur dapat bermanfaat bagi anak pada saat mengerjakan tugas individu, sedangkan meja yang disusun mengelompok akan membantu proses belajar kooperatif (Santrock, 2008).

Menurut Weinstein dan Mignano (1997) dalam santrock (2008), kelas juga penting untuk dilakukan personalisasi, meskipun bagi sekolah yang menggunakan sistem moving class terdapat beberapa kelas yang belajar dalam satu hari. Personalisasi kelas dapat dilakukan dengan memasang foto siswa, karya siswa, tugas, diagram tanggal lahir siswa (SD), ekspresi siswa yang positif serta media pembelajaran yang berhubungan dengan materi yang sedang dipelajari anak. Personalisasi ini, dapat bermanfaat sebagai inspirasi dan motivasi untuk belajar bagi anak serta dapat menjadi sumber belajar bagi anak. Selain itu, modifikasi pajangan dinding yang up to date dapat memberikan kesan dinamisasi lingkungan, anak mendapatkan objek pandang yang senantiasa bermakna bagi proses belajar.

  1. B. Pengelolaan Kelas yang Positif untuk Pembelajaran

Dalam rangka memaksimalkan proses pembelajaran, anak memerlukan lingkungan positif. Untuk menciptakan lingkungan positif diperlukan strategi manajemen kelas, dan strategi positif untuk membuat anak mau bekerja sama. Menurut Santrock (2008), strategi umum manajemen kelas untuk menciptakan lingkungan positif bagi anak mencakup penggunaan gaya otoritatif dan manajemen kelas secara efektif.

Gaya manajemen kelas otoritatif berasal dari gaya parenting, di mana guru yang otoritatif akan mempunyai siswa yang cenderung mandiri, tidak cepat puas, mau bekerja sama dengan teman, dan menunjukkan penghargaan diri yang tinggi. Strategi manajemen kelas otoritatif, mendorong siswa untuk menjadi pemikir yang independen dan pelaku yang independen, tetapi strategi ini masih menggunakan sedikit monitoring siswa. Guru otoritatif akan menjelaskan aturan, regulasi dan  menentukan standar dengan masukan dari siswa. Gaya otoritatif bertentangan dengan gaya otoritarian dan permisif yang tidak efektif.

Gaya manajemen kelas otoritarian fokus utamanya adalah menjaga ketertiban di kelas, bukan pada pengajaran dan pembelajaran. Guru otoriter sangat mengekang dan mengontrol perilaku siswa, sehingga siswa di kelas cenderung pasif, tidak berinisiatif dalam aktivitas, memiliki keterampilan komunikasi yang buruk. Sedangkan gaya manajemen kelas yang permisif, memberi banyak otonomi pada siswa tapi tidak memberi banyak dukungan untuk pengembangan keahlian pembelajaran atau pengelolaan perilaku. Siswa di kelas permisif, cenderung punya keahlian akademik yang tidak memadai dan control diri yang rendah.

Manajemen kelas secara efektif adalah upaya yang dilakukan guru dalam mengelola aktivitas kelas secara efektif. Menurut Santrock (2008), Guru efektif berbeda dengan guru yang tidak efektif bukan dalam cara merespon perilaku menyimpang siswa, tetapi berbeda dalam cara mereka mengelola aktivitas kelompok secara kompeten. Guru yang berperan sebagai manajer kelas yang efektif senantiasa mengikuti apa yang terjadi, selalu memonitor siswa secara regular, sehingga dapat mendeteksi perilaku yang salah jauh sebelum perilaku itu lepas kendali. Guru yang efektif mampu mengatasi situasi yang over-lapping secara efektif, menjaga kelancaran dan kontuinitas pelajaran, serta melibatkan siswa dalam berbagai aktivitas yang menantang.

Agar proses pembelajaran dapat berjalan lancar, maka kelas perlu punya aturan dan prosedur yang jelas. Tanpa aturan dan prosedur yang jelas, bisa memunculkan kesalahpahaman yang bisa melahirkan kekacauan. Aturan dan prosedur adalah pernyataan ekspektasi tentang perilaku. Aturan fokus pada ekspektasi umum atau spesifik atau standar perilaku, cenderung tidak berubah karena mengatur dasar-dasar tindakan terhadap orang lain, diri sendiri dan tugas, seperti menghargai orang lain, tidak mengunyah permen karet di kelas. Sedangkan prosedur berisi tentang ekspektasi tentang perilaku namun biasanya diterapkan untuk aktivitas spesifik dan diarahkan untuk mencapai suatu tujuan, bukan untuk melarang suatu perilaku. Prosedur dimungkinkan untuk bisa berubah karena rutinitas atau aktivitas kelas bisa berubah, misalnya prosedur suatu kelas menyatakan bahwa setelah masuk kelas siswa harus mengerjakan suatu soal, akan tetapi suatu hari guru bisa mengubahnya dengan membolehkan siswa menyelesaikan tugas yang belum selesai.

Pembuatan aturan dan prosedur dapat dirumuskan oleh guru dan dijelaskan ke siswa, namun guru dapat pula melibatkan siswa dalam merumuskan aturan dan prosedur kelas untuk menanamkan rasa tanggung jawab siswa terhadap aturan dan prosedur. Proses ini dapat menjadi sarana untuk menjalin hubungan yang positif dengan siswa dan melatih mereka untuk berbagi dan mengemban tanggung jawab.

Upaya menciptakan lingkungan positif bagi siswa dapat pula dilakukan dengan memberikan hadiah terhadap perlaku yang tepat. Untuk pemberian imbalan dalam mengelola kelas, guru harus dapat memilih penguat yang efektif, menggunakan prompt dan shapping secara efektif. Menggunakan imbalan yang mengandung informasi tentang kemampuan siswa yang bisa meningkatkan motivasi intrinsik dan rasa tanggung jawab siswa, bukan untuk mengontrol perilaku.

Menurut Naim (2009), ada dua aspek penting yang perlu dikembangkan oleh seorang guru sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang kondusif bagi siswa, yaitu pribadi guru dan suasana pembelajaran. Perpaduan kedua aspek tersebut akan menjadikan dimensi inspiratif semakin menemukan momentum untuk mengkristal dan membangun energi perubahan positif dalam diri siswa. Kepribadian guru sebagai orang dewasa dapat menjadi model sekaligus pengarah dan fasilitator belajar yang tercermin dari suasana atau iklim pembelajaran yang diciptakan di dalam kelas. Kedua aspek ini, pada gilirannya akan mampu mengakumulasi potensi diri para siswa untuk semakin meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya.

  1. 4. KOMUNIKASI EFEKTIF ANTARA GURU DENGAN SISWA

Mengelola kelas dan memecahkan konflik dalam pembelajaran secara konstruktif membutuhkan keterampilan komunikasi yang baik. Menurut Santrock (2008), terdapat tiga aspek utama dari komunikasi dalam pembelajaran, yaitu keterampilan berbicara, mendengar dan komunikasi nonverbal. Berbicara di hadapan kelas dan di hadapan siswa harus dapat mengkomunikasikan informasi secara jelas. Kejelasan dalam berbicara penting agar pengajaran yang dilakukan oleh guru dan proses belajar yang diikuti siswa dapat berjalan responsive.

Florez (1999) dalam Santrock (2008) mengemukakan bererapa strategi yang dapat  digunakan oleh guru agar dapat berbicara secara jelas pada saat proses pembelajaran berlangsung. Strategi yang dimaksud oleh Florez adalah harus dilakukan dengan menggunakan tata bahasa yang benar, kosa kata yang dapat dipahami dan tepat pada perkembangan anak, melakukan penekanan pada kata-kata kunci atau dengan mengulang penjelasan, berbicara dengan tempo yang tepat, tidak menyampaikan hal-hal yang kabur, dan menggunakan perencanaan dan pemikiran logis sebagai dasar berbicara secara jelas di kelas.

Salah satu aspek penting yang perlu diperhatikan dalam komunikasi verbal adalah gaya penyampaian pesan. Menurut Santrock (2008), terdapat dua gaya penyampaian pesan dalam komunikasi verbal, yaitu gaya pesan “kamu” dan gaya pesan “saya”. Gaya pesan kamu merupakan gaya yang tidak disukai oleh siswa karena pembicara tampak menghakimi orang lain dan menempatkan siswa dalam posisi defensive. Contohnya, “itu benar-benar perkataan bodoh” yang berarti “ucapan kamu benar-benar bodoh”. Ataukah “jauhi diriku” yang berarti “kamu mengganggu hidup saya”. Sedangkan komunikasi pesan “saya” bersifat merefleksikan perasaan pembicara dan lebih baik. Pesan “saya” dapat menggeser percakapan ke arah yang konstruktif dengan mengekspresikan perasaan tanpa menghakimi orang lain atau siswa. Contohnya, “saya marah karena keadaan jadi buruk”, “saya sedih kalau perasaan saya tidak diperhatikan”. Dalam proses pembelajaran, guru selain harus dapat memonitor percakapan sendiri, juga harus dapat memonitor percakapan siswa agar dapat membimbing mereka untuk lebih banyak menggunakan pesan “saya”.

Aspek lain dalam komunikasi verbal yang penting bagi guru adalah cara menangani konflik. Menurut Santrock (2008), cara menangani konflik dapat dilakukan dengan menggunakan empat gaya, yaitu agresif, manipulative, pasif dan asertif. Gaya agresif cenderung galak, menuntut, kasar dan bertindak dengan gaya bermusuhan, serta seringkali tidak peka terhadap hak dan perasaan orang lain. Gaya manipulative, berusaha mendapatkan yang diinginkan dengan membuat orang lain merasa bersalah kepada dirinya, memilih bertingkah sebagai korban agar orang lain melakukan sesuatu untuk dirinya. Gaya pasif, bersifat tidak tegas dan pasrah, membiarkan orang lain “menindas” dirinya tanpa mengekspresikan perasaannya dan tidak memberi tahu orang lain keinginannya. Sedangkan gaya asertif, mengekspresikan perasaannya, meminta apa yang diinginkan, dan berkata tidak untuk hal yang tidak diinginkan. Gaya asertif memperjuangkan hak yang sah, mengekspresikan pandangan secara terbuka, berusaha mengubah perilaku yang salah, dan menolak paksaan untuk dimanipulasi. Menurut Santrock (2008), bersikap asertif adalah pilihan terbaik bagi guru dalam berkomunikasi verbal dengan siswa untuk menyelesaikan konflik.

Dalam berbagai hal, seorang guru dapat mengalami situasi di mana komunikasi dengan siswa menjadi tidak efektif. Gordon (1997) dalam Santrock (2008) mengemukakan lima hal yang dapat menjadi rintangan dalam menjalankan komunikasi verbal yang efektif, yaitu kritik, pelabelan (membri julukan), menasihati, mengatur-atur, dan ceramah moral. Mengevaluasi dengan memberikan kritik kepada siswa dapat mengurangi efektivitas komunikasi, sehingga mengkritik siswa dapat dilakukan dengan meminta siswa evaluasi diri, misalnya penyebab nilai ujiannya yang buruk. Julukan atau pelabelan biasanya menjadi cara untuk merendahkan siswa dengan menggunakan kata-kata hinaan, sehingga guru harus mengontrol perkataannya dan perkataan murid agar dapat saling memahami perasaan satu sama lain. Menasihati yang dimaksud dalam hal ini adalah merendahkan orang lain lalu memberi nasihat solusi, dan mengatur-atur dapat terjadi dengan memerintahkan orang lain melakukan sesuatu yang diinginkan, sehingga dapat menimbulkan resistensi. Sedangkan ceramah moral yang bersifat mengkhotbah bagi siswa dapat meningkatkan rasa bersalah dan kegelisahan pada diri siswa. Dengan demikian, seorang guru lebih baik menggunakan bahasa yang tidak terlalu menyalahkan siswa.

Mengelola kelas secara efektif dapat lebih mudah dilakukan apabila guru dan siswa memiliki keterampilan mendengar yang baik. Seorang pendengar yang baik akan mendapatkan daya tarik bagi orang lain untuk berkomunikasi. Pendengar yang baik akan mendengar secara aktif dan tidak sekedar menyerap informasi secara pasif. Menurut Santrock (2008), mendengar aktif berarti memberi perhatian penuh pada pembicara, memfokuskan diri pada isi intelektual dan emosional dari pesan. Seorang guru dapat menggunakan strategi di bawah ini untuk berinteraksi dengan siswa dan melatihkan keterampilan siswa dalam mendengar aktif:

  1. Memberi perhatian cermat pada orang yang sedang berbicara, hal ini akan menunjukkan bahwa anda tertarik pada hal yang sedang dibicarakan, gunakan kontak mata, isyarat condong badan kepada orang yang sedang berbicara.
  2. Melakukan parafrasa, menyatakan kembali kalimat yang baru saja dikatakan orang lain dengan menggunakan kalimat sendiri.
  3. Mensinstesiskan tema dan pola, meringkas tema utama dan perasaan pembicara yang disampaikan dalam percakapan panjang.
  4. Memberi umpan balik atau tanggapan dengan cara yang kompeten, dapat berupa tanggapan verbal atau nonverbal yang membuat pembicara mengerti pencapaian target sasaran pesan.

Selain komunikasi verbal, interaksi di dalam kelas juga dapat terjadi komunikasi nonverbal. Dengan demikian, komunikasi nonverbal penting diperhatikan untuk mencapai komunikasi efektif dalam pembelajaran. Komunikasi nonverbal biasanya dilakukan untuk memback up atau menegaskan pesan verbal, namun seringkali pesan nonverbal lebih efektif dalam mencapai sasaran pesan. Beberapa contoh komunikasi nonverbal dapat dilakukan dengan mengangkat alis, bersedekap untuk melinndungi diri, mengangkat bahu sebagai tanda tak peduli, menepuk dahi sebagai tanda lupa sesuatu, dan lain sebagainya. Banyak pakar komunikasi percaya bahwa sebagian besar komunikasi interpersonal dilakukan secara nonverbal. Bahkan siswa yang duduk di sudut ruangan sambil membaca buku sebenarnya mungkin sedang mengkomunikasikan keinginannya menyendiri secara nonverbal (Santrock, 2008). Ekspresi wajah, komunikasi mata, sentuhan, menghormati ruang pribadi dan melakukan diam merupakan teknik komunikasi nonverbal yang efektif dalam membangun interaksi positif antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa.

  1. 5. PEMBELAJARAN SEBAGAI SISTEM
  1. A. Pengertian dan Kegunaan Sistem

Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menentukan kualitas pembelajaran adalah pendekatan sistem. Melalui pendekatan sistem kita dapat melihat berbagai aspek yang dapat memengaruhi keberhasilan suatu proses. Menurut Sanjaya (2008), sistem adalah salah satu kesatuan yang satu sama lain saling terkait dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah diterapkan.

Berdasarkan pengertian tersebut, maka ada tiga hal penting yang menjadi karakteristik suatu sistem. Pertama, setiap sistem pasti memiliki tujuan. Tujuan merupakan ciri utama sistem. Tidak ada sistem tanpa tujuan. Tujuan merupakan arah yang harus dicapai oleh suatu pergerakan sistem. Semakain jelas tujuan maka semakin mudah menentukan pergerakan sistem. Kedua, sistem selalu mengandung suatu proses. Proses adalah rangkaian kegiatan. Kegiatan diarahkan untuk mencapai tujuan. Semakin kompleks tujuan, maka semakin rumit juga proses kegiatan. Ketiga, proses kegiatan dalam suatu sistem selalu melibatkan dan memanfaatkan berbagai komponen atau unsur-unsur tertentu. Oleh sebab itu, suatu sistem tidak mungkin hanya memiliki satu komponen saja. Sistem memerlukan dukungan berbagai komponen tang satu sama lain saling berkaitan. Atas pengertian tersebut, maka jelas sistem bukanlah hanya seabai suatu cara, seperti banyak dipahami oleh banyak orang selama ini. Cara hanyalah bagian dari rangkaian kegiatan suatu sistem. Yang pasti adalah sistem sebagai tujuan, dan seluruh kegiatan dengan melibatkan dan memanfaatkan setiap komponen diarahkan untuk encapai tujuan tersebut.

Menurur Ely (1979) Sistem bermanfaat untuk merancang atau merencanakan suatu proses pembelajaran. Perencanaan adalah proses dan cara berpikir yang dapat membantu menciptakan hasil yang diharapkan. (dalam Sanjaya, 2008). Oleh karena itu proses perencanaan yang sistematis dalam proses pembelajaran mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya:

  1. Melalui sistem perencanaan yang matang, guru akan terhindar dari keberhasilan secara untung-untungan, dengan demikian pendekatan sistem memiliki daya ramal yang kuat tentang keberhasilan suatu proses pembelajaran, karena memang perencanaa disusun untuk mencapai hasil yang optimal.
  2. Melalui sistem perencanaan yang sistematis, setiap guru dapat menggambarkan berbagai hambatan yang mungkin akan dihadapi sehingga dapat menentukan berbagai strategi yang bisa dilakukan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
  3. Melalui sistem perencanaan, guru dapat menentukan berbagai langkah dalam memanfaatkan berbagai sumber dan fasilitas yang ada untuk ketercapaian tujuan.
  1. B. Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Sistem Pembelajaran

Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kegiatan proses sistem pembelajaran, diantaranya faktor guru, faktor siswa, sarana, alat dan media yang tersesia, serta faktor lingkungan.

  1. 1. Faktor Guru

Guru adalah komponen yang sangat menentukan dalam implementasi suatu strategi pembelajaran. Guru yang menganggap mengajar hanya sebatas menyampaikan materi pelajaran akan berbeda dengan guru yang menganggap mengajar adalah suatu proses pemberian bantuan kepada peserta didik. Masing-masing perbedaan tersebut dapat mempengaruhi baik dalam penyusunan strategi atau implementasi pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran, guru tidak hanya berperan sebagai model atau teladan bagi siswa yang diajarnya, tetapi juga sebagai pengelola pempebelajaran. Dengan demikian, efektifitas proses pembelajaran terletak pada guru. Menurut Dunkin (dalam Sanjaya, 2008), ada sejumlah aspek yang dapat mempengaruhi kualitas proses pembelajaran dilihat dari faktor guru, yaitu teacher formative experience, teacher traing experience, dan teacher properties.

Teacher formative experience, meliputi jenis kelamin serta semua pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang sosial mereka. Yang termasuk ke dalam aspek ini di antaranya meliputi tempat asal kelahiran guru termasuk suku, latar belakang budaya, dan adat istiadat, keadaan keluarga dari mana guru itu berasal, misalkan apakah guru itu berasal dari keluarga yang tergolong mampu atau tidak, apakah mereka berasal dari keluarga harmonis atau bukan.

Teacher training experience, meliputi pengalaman-pengalaman yang berhubungan dengan aktivitas dan latar belakang pendidikan guru, misalnya pengalaman latihan profesional, tingkatan pendidikan, pengalaman jabatan, dan lain sebagainya.

Teacher properties adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan sifat yang dimiliki guru, misalnya sikap guru terhadap profesinya, sikap guru terhadap siswa, kemampuan atau inteligensi guru, motivasi dan kemampuan mereka baik kemampuan dalam pengelolaan pembelajaran termasuk di dalamnya kemampuan dalam merencanakan dan evaluasi pembelajaran maupun kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran.

  1. 2. Faktor Siswa

Siswa adalah organisme yang unik yang berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Proses pembelajaran dapat da[at dipengaruhi oleh perkembangan anak yang tidak sama itu, di samping karakteristik lain yang melekat pada diri anak.

Seperti halnya guru, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran dilihat dari aspek siswa meliputi aspek latar belakang siswa yang menurut Dunkin disebut pupilformative experience serta faktor sifat yang dimiliki siswa (pupil properties).

Aspek latar belakang meliputi jenis kelamin siswa, tempat kelahiran, tempat tinggal siswa, tingkat sosial ekonomi siswa, dari keluarga mana siswa berasal, dan lain-lain. Sedangkan dilihat dari faktor sifat yang dimilik siswa meliputi kemampuan dasar pengetahuna, dan sikap. Tidak dapat disangkal bahwa setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda yang dapat dikelompokan pada siswa kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.

Sikap dan penampilan siswa di dalam kelas juga merupakan aspek lain yang bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Ada kalanya ditemukan siswa yang sangat aktif dan ada juga siswa yang pendiam, tidak sedikit juga ditemukan siswa yang memilikin motivasi yang rendah dalam belajar. Semua itu akan mempengaruhi proses pembelajaran di dalam kelas. Sebab, bagaimanapun faktor siswa dan guru merupakan faktor yang sangat menentukan dalam interaksi pembelajaran.

  1. 3. Faktor Sarana dan Prasarana

Sarana adalah segala sesuatu yang mendukung secara langsung terhadap kelancaran proses pembelajaran, misalnya media pembelajaran, alat-alat palajaran, perlengkapan sekolah, dan lain sebagainya. Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung keberhasilan proses pembelajaran, misalnya jalan menuju sekolah, penerangan sekolah, kamar kecil, dan lain sebagainya. Kelengakapan sarana dan prasarana akan membantu guru dalam penyelenggaraan proses pembelajaran.

  1. 4. Faktor Lingkungan

Dilihat dari dimensi lingkungan ada dua faktor yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran, yaitu faktor oraganisasi kelas dan faktor iklim sosial psikologis.

Faktor organisasi kelas yang didalamnya meliputi jumlah siswa dalam satu kelas merupakan aspek penting yang bisa mempengaruhi proses pembelajaran. Organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran, kelompok belajar yang besar dalam satu kelas berkecenderungan:

  1. Sumber daya kelompok akan bertambah luas sesuai dengan jumlah siswa, sehingga waktu yang tersedia akan semakin sempit.
  2. Kelompok belajar akan kurang mampu memanfaatkan dan menggunakan semua sumber daya yang ada. Misalnya, dalam penggunaan waktu diskusi. Jumlah siswa yang terlalu banyak akan memakan waktu yang banyak pula, sehingga sumbangan pikiran akan sulit didapatkan dari setiap siswa.
  3. Kepuasan belajar setiap siswa akan cenderung menurun, hal ini disebabkan kelompok belajar yang terlalu banyak akan mendapatkan pelayanan yang terbatas dari setiap guru, dengan kata lain perhatian guru akan semakin terpecah.
  4. Perbedaan indivitu antara anggota akan semakin tampak, sehingga akan semakin sukar mencapai kesepakatan. Kelompok yang terlalu besar cenderung akan terpecah ke dalam sub-sub kelompok yang saling bertentangan
  5. Anggota kelompok yang terlalu banyak berkecenderungan akan semakin banyak siswa yang terpaksa menunggu untuk sama-sama maju mempelajari mata pelajaran baru.
  6. Anggota kelompok yang terlalu banyak akan cenderung semakin banyaknya siswa enggan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan kelompok.

Faktor lain dari dimensi lingkungan yang dapat mempengaruhi proses pembelajaran adalah faktor iklim sosial-psikologi. Maksudnya, keharmonisan hubungan orang yang terlibat dalam proses pembelajaran. Iklim sosial ini secara internal atau eksternal.

Iklim sosial-psikologi secara internal adalah hubungan antara orang yang terlibat dalam lingkungan sekolah, misalnya iklim sosial antara siswa dengan siswa, antara siswa dengan guru, antara guru dengan guru, bahakan anatar guru dengan pimpinan sekolah. Iklim sosial-psikologi eksternal adalah keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar, misalnya hubungan sekolah dengan orang tua siswa, hubungan dengan lembaga-lembaga masyarakat, dan lain sebagainya.

  1. C. Komponen-komponen Sistem Pembelajaran

Pengertian belajar jika diperhatikan dari pendapat seseorang dengan orang lain akan berlainan jawabannya. Hal tersebut hanya semata-mata disebabkan dari sudut pandang aspek-aspek belajar yang mereka kemukakan berbeda antara yang satu dengan yang lain. Banyak pendapat tentang pengertian  belajar, menurut Dimyati dan Mujiono (1999) mengutip beberapa pendapat para ahli tentang belajar:

  1. Skinner berpendapat bahwa belajar adalah suatu perilaku pada saat  orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sebaliknya bila orang tidak belajar maka responnya menurun.
  2. Gagne berpendapat bahwa belajar merupakan kegiatan yang kompleks.
  3. Piaget berpendapat bahwa belajar sebagai perilaku berinteraksi antara  individu dengan lingkungan sehingga terjadi perkembangan intelek individu.

Walaupun terdapat perbedaan pendapat antara beberapa ahli tetapi secara prinsip bahwa belajar adalah suatu bentuk perubahan atau pertumbuhan dalam diri individu yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku karena pengalaman dan latihan, atau dengan kata lain belajar adalah proses perubahan yang terjadi pada seseorang setelah menjalani suatu pengalaman. Oleh karena itu, kita tidak dapat melihat proses terjadinya perubahan tingkah laku pada diri setiap orang, tetapi sebenarnya kita bisa menantukan apakah seseorang telah belajar atau belum, yaitu dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah proses pembelajaran berlangsung.

A
B

PROSES

INPUT
OUTPUT

Bagan 1. Proses Perubahan Tingkah laku

Dari bagan, dapat dilihat bahwa telah terjadi pelajar dari diri seseorang (A) manakala terjadi perubahan dari A sebagai input menjadi B sebagai output. Misalnya sebelum seseorang mengalami proses belajar, ia tidak tahu konsep tentang “X”, tapi setelah mengalami proses pembelajaran, ia jadi paham tentang konsep “X”, dengan demikian dapat dikatakan seseorang itu telah belajar. Sebaliknya, manakala sebelum mengalami proses pembelajarania tidak tahu tentang “X”, dan setelah ia mengalami proses pembelajaran masih tetap tidak tahu tantang “X”, maka dapat dikatakan bahwa ia sebenarnya tidak belajar atau dapat dikatakan proses pembelajaranya dianggap gagal.

Dengan demikian efektivitas pembelajaran atau belajar dan tidaknya seseorang tidak dapat dilihat dari aktivitasnya selama proses belajar, tetapi hanya bisa dilihat dari adanya perubahan dari sebelum dan sesudah terjadinya proses pembelajaran . seseorang yang sepertinya aktif belajar yang ditunjukan dengan caranya memerhatikan guru dan rapinya ia membuat catatan, belum tentu ia belajar dengan baik manakala ia tidak menunjukan adanya perubahan perilaku. Yang menjadi pertanyyan selanjutnya adalah bagaimana agar proses pembelajaran berhasil? Sebagai suatu sistwm kita perlu menganalisis berbagai komponen yang membentuk sistem proses pembelajaran.

A
B
PROSES
INPUT
OUTPUT
TUJUAN
ISI/MATERI
METODE
MEDIA
EVALUASI

Bagan 2. Komponen Proses Pembelajaran

Dari bagan tersebut dapat dilihat bahwa sebagai suatu sistem, proses pembelajaran terdiri dari beberapa komponen yang satu sama lain saling berinteraksi dan berinterelasi. Komponen-komponen tersebut adalah tujuan, materi pelajaran, metode atau strategi pebelajaran, media dan evaluasi.

Tujuan merupaka komponen yang sangat penting dalam sistem pembelajaran. Sesuai dengan standar isi, kurikulum yang berlaku untuk setiap satuan pendidikan adalah kurikulum berbasis kompetensi. Dalam kurikulum yang demikian, tujuan yang diharapkan dapat dicapai adalah sejumlah kompetensi yang tergambar baik dalam kompetensi dasar maupun dalam standar kompetensi.

Menurut W. Gulo (dalam Wina, 2008), istilah kompetensi dipahami sebagai kemampuan. Kemampuan itu menurutnya bisa kemampuan yang tampak dan kemampuan yang tidak tampak. Kemampuan yang tampak itu disebut penampilan. Penampilan itu tampak dalam bentuk tingkah laku yang dapat didemontrasikan, sehingga dapat diamati, dapat dilihat, dan dapat dirasakan. Kemampuan yang tidak tampak disebut juga kompetensi rasional, yang dikenal dalam taksonomi Bloom sebagai kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kedua kompetensi itu saling terkait. Kemampuan penampilan akan berkembang manakala kemampuan rasional meningkat. Seseorang memiliki ilmu pengetahuan luas akan menampilkan penampilan yang lebih baik diabndingkan dengan orang yang memiliki sedikit ilmu pengetahuan.

Isi atau materi pelajaran merupakan komponen kedua dalam sistem pembelajaran. Dalam konteks tertentu, materi pelajaran merupakan inti dalam proses pembelajaran. Artinya, sering terjadi proses pembelajaran diartikan sebagai proses penyampaian materi. Hal ini bisa dibenarkan manakala tujuan utama pembelajaran adalah penguasaan materi materi pelajaran (subject centered teaching). Dalam kondisi semacam ini, maka penguasaan materi pelajaran oleh guru mutlak diperlukan. Guru perlu memahami secara detail isi materi pelajaran yang hars dikuasai siswa, sebab peran dan tugsa guru adalah sebagai sumber belajar. Materi pelajaran tersebut biasanya tergambarkan dalam buku teks, sehingga sering terjadi proses pembelajaran adalah enyampaikan materi yang ada dalam buku. Namun demikian dalam setting pembelajaran berorientasi pada pencapaian tujuan atau kompetensi, tugad, dan tanggung jawab guru bukanlah sebagai sumber belajar. Dengan demikian, materi pelajaran sebenarnya bisa diambil dari berbagai sumber.

Strategi atau metode adalah komponen yang juga mempunyai fungsi sangat menentukan. Keberhasilan pencapaian tujuan sangat ditentukan oleh komponen ini. Bagaimanapun lengkap dan jelasnya komponen lain, tanpa dapat diimplimentasikan melalui strategi yang tepat, maka komponen-komponen tersebut tidak akan memiliki makna dalam proses pencapaian tujuan. Oleh karena itu, setiap guru perlu memahami secara baik peran dan fungsi metode dan strategi dalam pelaksanaan proses pembelajaran.

  1. 1. Strategi Pembelajaran

T Raka Joni (1983) berpendapat bahwa yang dimaksud strategi pembelajaran adalah suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana yang konduktif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan Gerlach dan Elly (1989) menyatakan bahwa strategi adalah suatu cara yang terpilih untuk menyampaikan tujuan pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu. Definisi yang lain menyebutkan bahwa strategi adalah suatu garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan (Djamarah dan Zain, 2002). Dengan demikian, pengertian strategi dalam pembelajaran adalah suatu prosedur yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran sebagai sarana untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Strategi pembelajaran sebagai pola kegiatan pembelajaran yang dipilih dan digunakan guru secara kontekstual, sesuai dengan karakteristik siswa, kondisi sekolah, lingkungan sera tujuan khusus pembelajaran yang diinginkan.

  1. 2. Strategi, Model Dan Metode Pembelajaran

Konsep strategi pembelajaran lebih luas daripada metode atau teknik pembelajaran. Strategi pembelajaran terdiri atas metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin bahwa siswa akan benar-banar mencapai tujuan. Teknik dapat disamakan dengan metode adalah jalan atau alat yang digunakan guru untuk mengarahkan kegiatan siswa kearah tujuan. Ada pula yang berpendapat metode berbeda dengan teknik. Metode bersifat prosedural sedang teknik lebuih bersifat implementatif. Misal dua orang guru sama-sama menggunakan metode ceramah. Namun bisa jadi hasilnya berbeda sebab mempunyai teknik yang berbda dalam penggunaan metode ceramah tersebut.

  1. 3. Macam-macam strategi pembelajaran

Strategi pembelajaran pada dasarnya bertolak dari keaktifan guru atau siswa. Di satu sisi ada strategi yang menekankan keaktifan guru (guru aktif) dan disisi lain sisi ada strategi yang menekankan keaktifan  siswa (siswa aktif) Jadi ada dua kutub yang berlawanan yaitu strategi guru aktif (pembelajaran ekspositori) dan strategi siswa aktif (pembelajaran discovery).

Pembelajaran dengan pendekatan ekspositori merupakan suatu pembelajaran yang menekankan pada interaksi guru dengan siswa. Dalam pendekatan ini terjadi komunikasi satu arah, yaitu dari guru ke siswa sehingga guru jauh lebih aktif dari pada siswa. Guru banyak berbicara untuk menginformasikan bahan ajar kepada siswa, sementara siswa sebagai objek. Pembelajaran discovery menunjukkan pembelajaran siswa aktif. Pembelajaran ini ditandai dengan komunikasi multi arah. Siswa adalah subyek belajar.

Hubungan antara strategi ekspository dan strategi discovery pada dasarnya terletak pada garis kontinum. Pada garis kedua strategi pembelajaran tersebut terdapat beragam metode. Digambarkan sebagai berikut; (Suwarma, 2007) :

Ekspositori
Discovery
Studi kasus
Eksperimen
Ceramah
Tanya Jwb
Resitasi
Diskusi
Prob Solving

Dalam strategi pembelajaran siswa aktif dikemukakan banyak sekali strategi atau model yang bisa diterapkan. Dalam model pembelajaran yang berbasis pada kompetensi siswa antara lain; diketengahkan

  1. Model Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning)
  2. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
  3. Model Pembelajarn Tuntas (Mastery Learning)
  4. Model Pembelajaran Berdasarkan  Masalah (Problem Based Learning) dan Pembelajaran Berdasarkan Proyek (Project based learning)
  5. 5. Model Pembelajaran Berbasis Komputer (CBI/CAI)
  6. Model Pembelajaran Tematik (Thematic Learning)

Pendapat lain E. Mulyasa (2003) mengetengahkan lima model pembelajaran yang dianggap sesuai dengan tuntutan Kurikukum Berbasis Kompetensi; yaitu : (1) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning); (2) Bermain Peran (Role Playing); (3) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning); (4) Belajar Tuntas (Mastery Learning); dan (5) Pembelajaran dengan Modul (Modular Instruction). Sementara itu, Gulo (2005) memandang pentingnya strategi pembelajaran inkuiri (inquiry).

Ragam lain tentang strategi pembelajaran di contohkan oleh Wina Sanjaya (2008). Ragam tersebut meliputi Strategi pembelajaran berbasis masalah; Strategi pembelajaran peningkatan kemampuan berpikir; Strategi pembelajaran kooperatif; Strategi pembelajaran kontekstual; dan Strategi pembelajaran afektif

Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsepsi yang membantu guru/dosen mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan.

Secara garis besar, langkah pembelajaran kontekstual sebagai berikut.

  1. 1. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya (KONSTRUKTIVISME)
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inkuiri untuk semua topik (INQUIRY)
  3. kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya (BERTANYA)
  4. Ciptakan masyarakat belajar (MASYARAKAT BELAJAR)
  5. Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran (PEMODELAN)
  6. Lakukan refleksi di akhir pertemuan ( REFLEKSI)
  7. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara (PENILAIAN AUTENTIK)

Pembelajaran kooperatif dirancang untuk membantu terjadinya pembagian tanggung jawab ketika siswa mengikuti pembelajaran. Siswa lebih banyak belajar melalui proses pembentukan (constructing) dan penciptaan, kerja dengan tim, dan berbagi pengetahuan sesama siswa. Walaupun begitu, tanggung jawab individual tetap merupakan kunci keberhasilan pembelajaran.

Pembelajaran tuntas merupakan sistem pembelajaran yang mengharapkan setiap siswa  mampu menguasai kompetensi-kompetensi dasar (basic learning objectives) secara tuntas. Berpegang pada prinsip: jika setiap siswa diberikan waktu cukup sesuai dengan kecepatan belajarnya, dan ybs. menggunakan waktu dengan baik, maka besar kemungkinan siswa akan mencapai tingkat penguasaan kompetensi yang ditentukan. Sebaliknya, jika siswa tidak diberi cukup waktu atau ybs tidak menggunakan waktu yang disediakan, maka tingkat penguasaan kompetensi juga tidak akan optimal.

Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning), adalah  pembelajaran yang menggunakan masalah sebagai  materi pembelajaran bagi siswa, sehingga siswa dapat belajar  berfikir kritis dan terampil memecahkan berbagai  masalah untuk memperoleh konsep atau pengetahuan yang esensial. Pembelajaran berbasis masalah disepadankan dengan pembelajaran berbasis proyek (project based learning). Pembelajaran berbasis masalah menekankan pada kegiatan yang memerlukan perumusan masalah, pengumpulan data, dan analisis data, sedangkan pada pembelajaran berbasis proyek menekankan pada kegiatan  perumusan pekerjaan (job), merancang, melaksanakan pekerjaan, dan mengevaluasi hasil kerja. Kedua model pembelajaran tersebut menekankan pada lingkungan siswa aktif, kerja tim, dan teknik evaluasi otentik/bermakna

Bermain peran merupakan salah satu model pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik. Pengalaman belajar yang diperoleh dari metode ini meliputi, kemampuan kerjasama, komunikatif, dan menginterprestasikan suatu kejadian Melalui bermain peran, peserta didik mencoba mengeksplorasi hubungan-hubungan antarmanusia dengan cara memperagakan dan mendiskusikannya, sehingga secara bersama-sama para peserta didik dapat mengeksplorasi parasaan-perasaan, sikap-sikap, nilai-nilai, dan berbagai strategi pemecahan masalah.

Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan model pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. E.Mulyasa (2003) menyebutkan indikator pembelajaran partisipatif, yaitu : (1) adanya keterlibatan emosional dan mental peserta didik; (2) adanya kesediaan peserta didik untuk memberikan kontribusi dalam pencapaian tujuan; (3) dalam kegiatan belajar terdapat hal yang menguntungkan peserta didik.

Pembelajaran Modul adalah suatu proses pembelajaran mengenai suatu satuan bahasan tertentu yang disusun secara sistematis, operasional dan terarah untuk digunakan oleh peserta didik, disertai dengan pedoman penggunaannya untuk para guru. Pada umumnya pembelajaran dengan sistem modul akan melibatkan beberapa komponen, diantaranya : (1) lembar kegiatan peserta didik; (2) lembar kerja; (3) kunci lembar kerja; (4) lembar soal; (5) lembar jawaban dan (6) kunci jawaban.

Pembelajaran Inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri

Pembelajaran Tematik adalah pembelajaran terpadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan . Dengan demikian pembelajaran tematik dapat dikatakan sebagai pembelajaran terpadu. Pembelajaran terpadu adalah, suatu pembelajaran yang mengkaitkan tema-tema yang senada/over laping, kemudian dikemas menjadi tema yang akan dibahas dalam suatu pembelajaran. Ada banyak macam pembelajaran terpadu, namun ada tiga yang dominan yaitu terpadu model keterhubungan (connected), terpada model jaring laba- laba (webbed) dan terpadu model terintegrasi (intergratedi).

Dalam pembelajaran tema atau terpadu, siswa diajak membahas satu tema yang  dikembangkan dari/ ke berbagai macam bidang studi. Siswa lebih sering diajak turun langsung ke lapangan. Tidak dituntut memiliki referensi khusus tetapi bebas memilih referensi yang  cocok untuk tema yang bersangkutan .

Selain  ragam dan macam strategi pembelajaran di atas terdapat lagi pembedaan strategi pembelajaran induktif dan strategi pembelajaran deduktif. Pendekatan deduktif dikembangkan oleh filosof Perancis Bacon yang menghendaki penarikan kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang kongkrit sebanyak mungkin. Semakin banyak fakta semakin mendukung hasil simpulan. Pada abad pertengahan, sistem induktif ini disebut juga sebagai dogmatif, artinya langsung mempercayai begitu saja tanpa berpikir rasional.

Pendekatan deduktif dapat disederhanakan pembelajaran dari hal-hal umum menuju hal hal khusus. Langkah-langkah dalam model pembelajaran dengan pendekatan induktif dijelaskan sebagai berikut.

  1. Pertama, guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan induktif.
  2. Kedua, guru menyajikan contoh-contoh khusus, prinsip, atau aturan yang memungkinkan siswa memperkirakan sifat umum yang terkandung dalam contoh.
  3. Ketiga, guru menyajikan bukti yang berupa contoh tambahan untuk menunjang atau mengangkat perkiraan.
  4. Keempat, guru menyusun pernyataan mengenai sifat umum yang telah terbukti berdasarkan langkah-langkah terdahulu.
  5. Kelima, menyimpulkan, memberi penegasan dari beberapa contoh kemudian disimpulkan dari contoh tersebut serta tindak lanjut.

Pendekatan deduktif merupakan pendekatan yang mengutamakan penalaran dari umum ke khusus. Hal ini berbeda dengan pendekatan induktif yang dari khusus ke umum.  Langkah-langkah dalam model pembelajaran dengan pendekatan deduktif dijelaskan sebagai berikut.

  1. Pertama, guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan.
  2. Kedua, guru menyajikan aturan, prinsip yang berifat umum, lengkap dengan definisi dan contoh-contohnya.
  3. Ketiga, guru menyajikan contoh-contoh khusus agar siswa dapat menyusun hubungan antara keadaan khusus dengan aturan prinsip umum yang didukung oleh media yang cocok
  4. Keempat, guru menyajikan bukti-bukti untuk menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan umum itu merupakan gambaran dari keadaan khusus.

GLOSARIUM

Sistem adalah salah satu kesatuan yang satu sama lain saling terkait dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah diterapkan.

Belajar adalah proses perubahan yang terjadi pada seseorang setelah menjalani suatu pengalaman.

Mengajar adalah upaya untuk menyediakan atau menciptakan suatu situasi yang memungkinkan orang belajar

Pembelajaran adalah  suatu perubahan dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalamaman

Strategi pembelajaran adalah suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana yang konduktif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran

REFERENSI

Dimyati dan Mudjiono. 1999. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Sanjaya, W. 2008. Strategi Pembelajaran. Jakarta: Kemcama.

Santrock W.J. 2008. Educational Psyhology. USA: McGraw-Hill.

Slavin, R.E. 2008. Educational Psychology. Jakarta: PT. Indeks.

Woolfolk, A. 2004.Educational Psychology (ninth edition, International Edition). Boston: Pearson Eduction, Inc.