A. Pendahuluan

Logika dapat dikaji sebagai seni (art) dan ilmti (science). Sebagai seni, Sullivan mengutip Thomas Aquinas yang menyatakan, “Logic has been defined as the art that enables us to proceed with order, ease, and correctness in the act of reason itself” (Sillivan, 1963: 5). Sebagai seni, logika dikelompokkan sebagai logika fomal atau logika minor, dan logika material atau logika mayor. Logika formal ialah cabang logika yang mengkaji bentuk yaitu aspek formal pada pikiran (the form of thought) dalam bernalar. Logika material mengkaji isi atau substansi pikiran yang digunakan dalam bernalar untuk mendapatkan kebenaran (truth), yaitu kesesuaian atau konformitas antara pernyataan dan realitas atau fakta.

B. Logika Deduktif

Logika deduktif khususnya logika tradisional bermula dari zaman Yunani Kuno sekitar abad ketiga SM. Logika ini memproses pikiran baik secara langsung maupun tidak langsung berdasarkan atas pernyataan umum yang sudah lebih dahulu diketahui. Pernyataan yang berisi sesuatu yang sudah diketahui disebut antesien (premis) yang merupakan pernyataan dasar dan pernyataan yang berisi pengetahuan baru yang ditarik dari pernyataan dasar itu disebut konsekuensi (kesimpulan).

Penarikan pengetahuan baru secara langsung dilakukan berdasarkan satu premis saja Dari premis tersebut ditarik kesimpulan yang merupakan implikasisinya. Contoh dari premis “Bujursangkar adalah bidang datar yang merupakan kurva tertutup yang diapit oleh empat sisi sama panjang dan memiliki empat sudut siku-siku”, secara langsung dapat ditarik kesimpulan “Jika pada sebuah bujursangkar ditarik garis diagonal, akan terjadi dua segitiga samakaki yang sama dan sebangun” yang merupakan implikasi atau konsekuensi logis dari pernyataan pertama. Logika deduktif modern lebih bersifat matematis.

C. Logika Induktif

Logika induktif memproses pengetahuan berdasarkan fakta-fakta khusus yang diperoleh dari pengetahuan indrawi/melalui pengamatan. Dari sejumlah fakta atau gejala khusus itu ditarik kesimpulan umum berupa pengetahuan yang baru yang berlaku untuk sebagian atau keseluruhan gejala tersebut. Jadi, arah pemikiran bergerak dari data yang bersifat khusus kepada kesimpulan yang bersifat lebih umum. Logika induktif seperti itu di antaranya dilakukan dalam analisis statistik yang menggunakan data kuantitatif sebagai dasar penarikan kesimpulan dan dalam analisis data kualitatif yang rnenggunakan data yang mungkin bersifat verbal.

D. Proposisi

Intelek manusia beroperasi dalam tiga wujud, yaitu pemahaman sederhana (simple apprehension), pembenaran dan pengingkaran (affirmation dan negation), dan penalaran (reasoning). Operasi pertama, pemahaman sederhana, menghahasilhan definisi yang diungkapkan dengan term. Operasi kedua, pembenaran dan pengingkaran menghasilkan keputusan/kesimpulan/penilaian/ pernyataan (judgement) yang diungkapkan dalam bentuk proposisi; sedangkan, operasi ketiga mengghasilkan argument (argument) induktif dan deduktif yang dinyatakan dalarn bentuk rangkaian/aturan induktif (inductive sequence) dan silogisme. Operasi yang pertama yang menghasilkan definisi term sebagai pemahaman tertinggi pada tingkat tersebut: tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tantang term tersebut. Padahal, pengetahuan/proses mengetahui/knowing baru lengkap jika diberikan penjelasan tentang bagaimana, mengapa, dalam kondisi apa, apakah sesuatu itu ada atau tidak, baik sebagai kenyataan maupun baru merupakan kemungkinan. Hal ini dilakukan melalui pernyataan (untuk selanjutnya istilah judgement diterjemahkan sebagai pernyataan).

Secara trdisional, proposisi merupakan konstruksi yang menggabungkan dua konsep atau term. Di dalam berbagai bahasa hubungan ini ditandai dengan kopula, yaitu verba yang menghubungkan subjek dengan komplemen (KBBI, 2007: 594) seperti to be, sein, etre dalam bahasa Inggris, Jerman, dan Prancis. (Di dalam bahasa Indonesia biasanya dinyatakan dengan “adalah”: namun, sesuai dengan struktur kalimat bahasa Indonesia, kopula ini sexing tidak digunakan.) Jadi, suatu proposisi terdiri atas subjek (S), predikat (P) dan kopula (K). Dalam proposisi “Lumba-lumba adalah mamalia yang hidup di laut”, lumba-lumba merupakan S,

mamalia yang hidup di laut adalah P, dan adalah merupakan K. Subjek/S merupakan topik proposisi dan predikat/P menyatakan sesuatu tentang subjek. Proposisi “Lumba-lumba tidak bertelur” diubah menjadi “Lumba-lumba adalah hewan yang tidak bertelur” sebagai proposisi standar.

ooo 000 ooo

Iklan