A. Pythagoras

Pythagoras yang lahir di pulau Samos di daerah Ionia adalah seorang matematikawan dan filsuf Yunani yang paling terkenal dengan teoremanya. Kehidupan Pythagoras (582 SM — 496 SM) dan ajarannya tidak begitu jelas akibat banyaknya legenda dan kisah-kisah buatan mengenai dirinya.

Pythagoras sangat berjasa dalam matematika dan geometri. Dia merupakan bapak bilangan yang sangat berjasa dan memberi sumbangan besar terhadap filsafat dan ajaran keagamaan pada akhir abad ke – 6 SM. Pythagoras telah membuktikan sebuah dalil umum bukan hanya segitiga 3 : 4 : 5 Mesir atau segitiga Babilonia tetapi juga setiap segitiga siku-siku. Dia telah membuktikan bahwa kuadrat dari sisi yang terpanjang atau disebut hypotenuse sama dengan jumlah kuadrat pada kedua sisi lainnya, dengan syarat bahwa segitiga tersebut adalah segitiga siku-siku (Bronowski, 1974:160).

Pythagoras telah meletakkan suatu ciri yang mendasar mengenai ruang di mana kita bergerak dan menterjemahkan untuk pertama kali ke dalam bilangan (angka). Pythagoras mengatakan bahwa dunia ini bahkan alam semesta pada dasarnya merupakan angka-angka (bilangan) yang menunjukkan satu, dua, tiga, dan seterusnya. Ruang merupakan bagian yang penting dari alam materi walaupun ada yang tidak terlihat seperti udara, itulah pengetahuan tentang sekitar geometri. Sesuatu yang simetris bukan saja secara deskriptif menyenangkan tetapi juga merupakan suatu yang menembus keselarasan alam. Pythagoras telah menemukan hubungan dasar antara keselarasan musik dengan matematika, penemuan yang tidak merupakan suatu bentuk yang sistematis, tetapi masih agak kacau bagaikan sebuah cerita rakyat.

B. Pendekatan Islam dalam Ilmu

Sebelum agama Islam datang, kekuasaan ada pada kerajaan Roma yang menguasai dunia pada waktu itu dan bernaung di bawah panji-panji agama Nasrani. Pada saat itu seluruh kerajaan Roma telah menganut agama yang diturunkan kepada Isa. Tersebarlah agama ini di Mesir, di Syam, dan Yunani, dan dari Mesir menyebar pula ke Abessinia (Ethiopia). Sesudah itu selama beberapa abad kerajaan Romawi yang ingin mengadakan persahabatan dan hubungan baik dengan kerajaan, berada di bawah panji agama Masehi itu (Husain Haekal, 2008:3). Dalam penyebaran ajaran agama tersebut setelah beberapa abad kemudian terjadi kemunduran. Masyarakat Arab pun berada dalam keadaan statis, tidak mengalami kemajuan, dan dari segi moral dan sosial dikatakan berada dalam keadaan jahiliah atau kebodohan.

Ajaran Islam sebagai wahyu berisi tuntunan atau pedoman bagi manusia dalam seluruh aspek kehidupannya, sistem kepercayaan, sosial kemasyarakatan, dan ilmu pengetahuan. Islam sangat menganjurkan pengembangan pemikiran dan penggunaan akal. Sejak kelahirannya, Islam sudah menunjukkan wajahnya yang sangat menghargai akal pikiran dan menganjurkan agar dipergunakan dengan seoptimal mungkin untuk mengetahui dan memahami ciptaan-Nya.

Perubahan cepat mulai terjadi sejak Islam datang sebagai agama yang membawa pembaharuan, baik pemikiran maupun sikap hidup. Perkembangan ilmu secara berangsur-angsur mulai dirasakan dengan berpedoman pada wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Wahyu pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw. dimulai dengan kata iqra’ (bacalah) yang merupakan kata kunci dari ayat-ayat berikutnya, yakni membaca bukan hanya berkenaan dengan makna yang ada dalam setiap ayat melainkan juga membaca perihal alam seinesta, memikirkan segala sesuatu ciptaan Tuhan. Membaca dan memikirkan alam jagat raya bukan sekedar untuk memahami tetapi lebih dari itu ialah untuk membangun kehidupan yang damai dan mengagungkan kebesaran Tuhan.

Perkembangan kemajuan sains dan teknologi pada zaman khilafah Islamiyah dicapai kaum muslimin dimulai dengan pengalihan pengetahuan yang ada pada filsafat Yunani ke lingkungan dunia Islam. Dalam perkembangan sejarah Islam ditemukan adanya pemisahan secara tajam antara pemikiran atau akal dengan wahyu. Hal ini terjadi karena faktor luar yang memberi pengaruh terhadap para pemikir Islam. Masuknya pemikiran dan logika Yunani yang sempat dikagumi oleh beberapa pemikir Islam terutama dalam hal metode berfikir telah mengakibatkan pemisahan akal dan wahyu, terjadi alienasi antara keduanya.

Pengembangan kebudayaan Islam didasarkan pada kaidah-kaidah keilmuan dan pemikiran rasional, namun Islam mengajarkan pada pemikiran subjektif dan pemikiran metafisika. Ditinjau dari sudut kebudayaan Islam tidak membedakan antara perasaan manusia dengan pikirannya, antara pemikiran metafisika dengan kaidah-kaidah ilmu positif yang berdasarkan materialisme. Islam berusaha tidak menjurus pada dasar pemikiran materialisme dan kaidah-kaidah moral atas dasar materi belaka. Berkenaan dengan masalah rohani, masalah spiritual, Islam memandang bukan sebagai persoalan pribadi semata, melainkan sebagai masalah bersama dan oleh karena itu perlu perhatian bersama pula. Masalah rohani dan spiritual memerlukan peran pemerintah melalui undang-undang, sehingga masalah kebebasan berkepercayaan tidak sampai menjadi tidak terkendali.

Pada waktu itu Muhammad menjelaskan Islam kepada masyarakat Arab banyak mendapat tantangan, memusuhi beliau, kaum Muslimin, dan Islam, oleh karena itu berbagai peperangan terjadi seperti perang Uhud dan perang Badar. Islam dalam ajarannya tidak mengharapkan peperangan, permusuhan, dan pertikaian antar suku atau antar bangsa, yang diutamakan adalah kedamaian dan perdamaian umat manusia. Peperangan dan pertikaian terjadi waktu itu bermula dari sikap keras yang diperlihatkan oleh kaum yang memusuhi Islam dan Muhammad.

C. Pendekatan Barat dalam Ilmu

Perkembangan pemikiran keilmuan jauh lebih dulu terjadi dibandingkan dengan Islam bukannya karena lahirnya Islam lebih akhir dari perkembangan kepercayaan yang ada di Barat, tetapi juga karena para pemikir itu sendiri lebih dulu bergerak memikirkan tentang alam raya dan manusia, khususnya di kalangan pemikir Yunani. Pemikir seperti Pythagoras, Heraklitos, Socrates, Plato, dan Aristoteles, telah memberikan sumbangan yang sangat berharga bagi perkembangan keilmuan, terutama di bidang filsafat.

Perkembangan ilmu pengetahuan di Barat tidak persis sama dengan perkembangan ilmu pengetahuan di lingkungan Islam terutama dalam hal pemisahan antara ilmu dan agama. Kalau pada pemikir Islam ada kemauan kuat agar pengembangan Ilmu dilakukan dalam kerangka pemikiran ajaran agama berdasarkan Qur’an, maka pada pemikir Barat lebih membebaskan diri dari pemikiran keagamaan atau yang disebut dengan pemikiran sekuler. Walaupun para pemikir Barat dalam penyelidikannya menggunakan metode ilmiah dan tidak mencampurkannya dengan kepercayaan keagamaan, namun diantara mereka juga mengakui adanya kekuasaan yang lebih tinggi yakni Tuhan. Hal ini terjadi pada pemikir  Barat karena tidak ingin berulang kembali seperti keadaan sebelumnya yang mengutamakan ajaraan agama dalam pengembangan keilmuan. Seperti diketahui semua ajaran agama termasuk ajaran agama Kristen atau Katolik tidak seluruhnya dapat dianalisis dan ditelaah berdasarkan fakta lapangan dan bukti-bukti empiris.

Agama tidak seluruhnya dapat dikaji secara ilmiah oleh karena ajaran agama didasarkan pada wahyu dari Tuhan, bukan berdasarkan hasil penyelidikan keilmuan melalui metode deduktif dan induktif. Ilmuwan Barat sangat menghargai peranan akal dalam setiap penyelidikan tentang sesuatu dan mengindari pemikiran yang spekulatif yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Pendekatan terhadap pengembangan ilmu di Barat dapat dikatakan sangat sekuler,  materialistik dan berdasarkan penggunaan logika serta kekuatan pemikiran semata . Hal inilah yang membedakannya dengan pendekatan Islam terhadap ilmu, yang memadukan antara ajaran agama dengan kekuatan berpikir manusia. Oleh karena itu perkembangan kebudayaan Barat didasarkan pada kaidah-kaidah ilmu pengetahuan dan kemampuan rasional, serta dasar ekonomi.

Kebudayaan Barat telah menjadikan kehidupan ekonomi sebagai dasar, demikian juga kaidah-kaidah moral berpijak pada kehidupan ekonomi, tanpa menganggap penting arti kepercayaan atau agama dalam kehidupan masyarakat umum. Segala sesuatu diukur dengan dasar ekonomi dalam upaya mencapai kebahagiaan, mencegah perang, dan mewujudkan perdamaian.

ooo 000 ooo