A. Pendahuluan

Pengetahuan didefinisikan sebagai kombinasi yang menyatu dalam diri dari pengalaman, nilai, informasi sehari-hari, inspirasi dari orang, dan intuisi alami yang memberikan suatu kondisi dan kerangka kerja untuk mengevaluasi dan menghubungkan pengalaman dan informasi baru. Pengetahuan berada dan digunakan dalam benak pikiran orang yang memiliki pengetahuan. Dalam organisasi, pengetahuan tersebut menjadi bersatu tidak hanya dalam dokumen dan tempat menyimpan pengetahuan tapi dalam tindakan, proses, praktek dan norma rutin yang terjadi dalam organisasi.

Kahlil Gibran mengatakan bahwa “Pengetahuan yang sedikit tapi diterapkan, lebih berharga dibandingkan dengan pengetahuan banyak tapi diam terpendam”.[1] Pendapat tersebut mengartikan betapa berartinya pengetahuan sekecil apapun akan lebih bermanfaat apabila bisa diterapkan, disbanding pengetahuan yang didiamkan dalam benak kepala kita atau tersimpan dalam tulisan saja. Pentingnya pengetahuan berguna tidak hanya bagi individu tapi juga bagi organisasi dimana setiap individu didalamnya merupakan bagian dari komponen organisasi tersebut sebagai sistem.

Wallace mengutip pernyataaan Gamble and Blackwell yang menyatakan bahwa, “Pengetahuan adalah satu langkah yang memberikan jalan menuju kebijaksanaan.”[2] Penjabaran dari penryataan teersebut: data merupakan potongan fakta tentang keadaan dunia, informasi didefinisikan sebagai data yang mempunyai dengan arti dan tujuan, pengetahuan digambarkan informasi yang berkaitan dalam hubungan, dan kebijaksanaan adalah kemampuan untuk membuat penilaian dan keputusan dengan pemikiran yang matang. Wallace juga menjelaskan, bagaimana hubungan antara data menjadi informasi, selanjutnya informasi menjadi suatu pengetahuan, dan akhirnya pengetahuan tersebut menjadi kebijaksanan (wisdom).

 

B. Apa itu Knowledge Management (KM) ?

KM mulai terkenal pada tahun 1990-an sebagai inovatif pendekatan untuk mengalihkan energi dan kegiatan organisasi dengan meningkatkan generasi, aliran, dan penggunaan pengetahuan internal. KM kemudian berkembang menjadi ilmu yang banyak diterapkan di berbagai perusahaan. Sampai saat ini sudah ada beberapa pakar yang secara serius mengembangkan KM. KM disajikan sebagai perubahan dari alam dan fundamental yang berbeda dari model pengelolaan organisasi sebelumnya. Secara khusus, manajemen pengetahuan telah digambarkan sebagai radikal berbeda dari manajemen informasi dan manajemen teknologi informasi. KM diartikan sebagai  kemampuan kerja individu dan organisasi untuk memahami dan bertindak secara efektif, yang telah dikelola secara teratur oleh manajer, rekan kerja, dan individu yang proaktif.

KM berasal dari berbagai pemikiran, salah satunya yaitu dari pemikiran filsafat yang abstrak. Yang lainnya berasal dari tinjauan konkret untuk kebutuhan para ahli dalam dunia kerja. Selain itu juga berasal dari perspektif pendidik dan pemimpin bisnis, dan perspektif  sekarang  bertolak dari upaya untuk menjelaskan kekuatan penggerak ekonomi di era pengetahuan dan pada abad ke-20 upaya untuk meningkatkan efektivitas.

Apakah KM itu sebenarnya? KM bukan teknologi, walaupun teknologi digunakan sebagai “enabler” dari pada KM tersebut. KM bukanlah suatu yang bersifat “directive”, walaupun kepemimpinan strategis sangat penting untuk melaksanakannya. KM bukan pula strategi bisnis, walapun KM itu sendiri harus selaras dengan strategi bisnis. Secara sederhana KM adalah: “Pemanfaatan kebijaksanaan kolektif (collective wisdom) untuk meningkatkan kepekaan (responsiveness) dan inovasi”.[3]

Berdasarkan hal tersebut terdapat tiga poin kritis yaitu: 1) pengetahuan itu adalah yang menghubungkan; 2) pengetahuan itu ada dalam koleksi  dari pengalaman dan perspektif yang beragam; 3) KM merupakan katalis artinya pengetahuan selalu berhubungan dengan kondisi lingkungan dan merangsang gerak untuk merespon kondisi-kondisi tersebut. Informasi yang tidak mendukung satu gerak terhadap sesuatu bukanlah pengetahuan, dan poin terakhir yakni pengetahuan dapat digunakan untuk menerima berbagai perubahan lingkungan maksudnya informasi berkembang menjadi pengetahuan ketika informasi itu digunakan untuk menganalisis situasi-situasi baru.

Selain itu KM terdiri dari atas respons inovatif terhadap tantangan dan peluang-peluang baru. Dalam dunia bisnis respons direncanakan untuk mengontrol rangsangan yang dapat terjadi secara otomatis melalui pendekatan teknologi informasi yang tradisional. Solusi berbasis pengetahuan bagaimanapun fokus terhadap aplikasi inovasi respons-respons baru dalam suatu lingkungan kerja yang kabur. Pengetahuan haruslah diinternalisasi bersama dengan intelegensi dan pengalaman, serta terpancar pada poin-poin keputusan yang dibuat. Karena alasan ini, pengetahuan yang utama tersimpan dalam otak manusia. Alat elektronik dan kertas penyimpan pengetahuan hanyalah perantara poin-poin yang tersimpan dalam informasi melalui otak manusia.

 

C. Bagaimana Knowledge Management saat ini?

Berdasarkan aspek sejarah disebutkan bahwa saat ini KM merupakan sebuah konsep yang sudah tua. Jauh sebelumnya, pengetahuan telah didokumentasikan oleh filsuf Barat selama ribuan tahun, tetapi dengan sedikit keraguan. Sama halnya dengan Filsuf Timur juga memiliki tradisi dokumentasi yang menekankan pengetahuan dan pemahaman untuk melakukan kehidupan rohani dan sekuler. Banyak dari upaya ini diarahkan untuk mendapatkan pemahaman teoritis dan abstrak tentang apa sebenarnya pengetahuan tersebut. Pengetahuan praktis perlu diketahui, kebutuhan itu muncul sejak awal manusia berjuang untuk mempertahankan hidup. Pada awalnya penataan pengetahuan praktis dilakukan secara implisit dan tidak sistematis, dan hampir seperti itu masih berlaku sampai sekarang.

Sebuah aspek praktis menunjukkan bahwa aspek KM itu membutuhkan prilaku efektif dari orang  untuk mendukung kesuksesan yang dilegasikan melalui tugas-tugas intelektual dan memberdayakan individu-individu. Sebenarnya menurut perspektif sejarah dipercaya bahwa KM itu lahir bersamaan dengan manusia untuk bertahan hidup. KM juga mempresentasikan suatu evolusi perubahan maju manusia dan kebebasan intelektual yang dimulai pada masa pencerahan sekitar lebih 200 tahun yang lalu.

Perluasan KM saat ini adalah manajemen yang sistematis dan eksplisit untuk kegiatan pengetahuan terkait, praktek, program, dan kebijakan dalam perusahaan. Akibatnya, kelangsungan hidup perusahaan tergantung langsung pada: 1) Kualitas kompetitif aset pengetahuan; 2) Keberhasilan penerapan aset tersebut dalam semua kegiatan usahanya (yaitu, realisasi dari aset pengetahuan).[4] Dari perspektif yang sedikit berbeda: Tujuan dari KM adalah untuk membangun dan memanfaatkan modal intelektual secara efektif dan efisien. Tujuan ini berlaku bagi seluruh perusahaan, untuk semua perusahaan, kegiatan, dan memiliki kompleksitas yang cukup besar di belakangnya.

Dalam konteks perusahaan, organisasi bisnis dewasa ini yang serba cepat dan tidak menentu, dibutuhkan orang-orang yang responsip (peka) terhadap informasi perkembangan dan perubahan serta inovatif yang mampu memanfaatkan pengetahuannya (wisdom) baik secara idnividu maupun pada akhirnya secara kolektif dalam upaya memecahkan segala permasalahan dan tantangan bisnis. Berikut contoh area focus KM secara menyeluruh:

 

Kemajuan  KM  bergantung pada pendekatan baru yang mengintegrasikan perspektif teoretis dan abstrak epistemologi dan ilmu pengetahuan kognitif dengan pertimbangan keahlian pragmatis yang dibutuhkan untuk melakukan bisnis dan petunjuk teknis manajemen informasi dan teknologi. Tiga kondisi tambahan juga telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan tersebut, diantaranya :

1.    Kecerdasan dan manajemen sains kepedulian terhadap individu dan berpikir intelektual ketika melakukan pekerjaan, serta  pengaruh pengetahuan dan pemahaman untuk memberikan kualitas pekerjaan.

2.    Belajar teori, ilmu sosial, dan psikologis untuk pendekatan pembelajaran yang efektif, kerja tim, dan kolaborasi serta untuk gaya kognitif .

3.    Kemajuan teknologi informasi yang memungkinkan perluasan praktek KM ke daerah-daerah baru dengan membangun ontologi, pemahaman bahasa alam, penalaran otomatis, dan agen cerdas.

 

D. Untuk Apa Knowledge Management?

Beberapa ahli mengajukan suatu senteral strategi yang terdiri dari empat taktis/cara. Kebanyakan KM dipraktikkan untuk memenuhi kebutuhan dan lingkungannya, perspektifnya lebih dipersempit. Beberapa di antaranya fokus terhadap pembagian pengetahuan diantara individu-individu atau dalam bangunan pendidikan elaborasi dan pengetahuan yang mendistribusikan kemampuan-kemampuan. Dan yang lainnya menganjurkan penggunaan teknologi untuk menangkap, memanipulasi dan melokalisir pengetahuan dan istilah-istilahnya.

Beberapa aspek  efektivitas yang harus dicapai berdasarkan pengembangan berbasis KM menjadi aspek penekanan. Ada beberapa cerita yang dapat dihubungkan dengan KM yakni meliputi:

1.   Dalam pengalaman panjang, secara normal aktivitas dan inisiatif KM tidak untuk menambah beban kerja tetapi memperbaiki pengetahuan dan penggunaannya. Hingga bagian level bawah organisasi, dilakukan pengurangan pekerjaan berulang dan pengalihan kerja, analisis kecepatan, keputusan, dan eksekusi yang secara khusus merupakan tugas-tugas rutin dan yang lain dapat mengganggu dan memberi efek reduksi kerja

2.   Aktivitas dan inisiatif KM mengganti fungsi-fungsi tambahan, haruslah lebih luas dari apa yang mungkin menjadi dasar atau bagian dari usaha–usaha yang ada dan usaha yang berkelanjutan, tanpa menambah kerumitan, tambahan waktu atau ketergantungan

3.   Orang cenderung takut untuk membagi pengetahuannya. Mereka percaya akan kehilangan keberuntungan dengan berbagi kepada yang lain, baik ke teman kerja maupun ke organisasi. Bagaimanapun juga dalam lingkungan yang baik hanya segelintir individu yang dapat berbagi dengan lain

4.   Pengetahuan personal tidak bisa dibagi secara langsung. Perspektif dan informasi mengenai pengetahuan hanya bias dikomunikasikan. Penerima informasi akan merasakan informasi itu dan menginternalisasi dalam tafsiran atas komunikasi sebagai pengetahuan baru. Pengetahuan dibangun melalui proses belajar yang kompleks dan hasilnya berupa model mental individu dan asosiasinya dalam beberapa hal bisa berbeda karena perbedaan sumber pengetahuan.

 

Agar bisa kompetitif, perusahaan harus proaktif menambah manajemen pengetahuan secara sistematis, sekalipun banyak aktivitas dan fungsi KM mungkin secara implisit dipraktekkan. oleh karyawan dan pekerja harian. Perusahaan harus senantiasa termotivasi dengantujuan-tujuan akhir.

 

REFERENSI

 

Despres, Charles.(2000). Knowledge Horizons. Boston: Butterworth Heinemann.

 

Frappaolo, Carl.(2006). Knowledge Management. West Sussec England: Capstone Publishing.

 

Wallace, Danny P., (2007). Knowledge Management Historical and Cross-Disciplinary Themes, Libraries Unlimited, Westport, Connecticut, London.

 


[1] Frappaolo, Carl.(2006). Knowledge Management. West Sussec England: Capstone Publishing, hal 8.

 

[2] Wallace, Danny P., (2007). Knowledge Management Historical and Cross-Disciplinary Themes, Libraries Unlimited, Westport, Connecticut, London, hal 14.

 

[3] Frappaolo, opcit. hal 8.

 

[4] Despres, Charles.(2000). Knowledge Horizons. Boston: Butterworth Heinemann.